No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
Sabtu, 26 September 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Foto dokumentasi narasumber, buah kepayang yang berasal dari pulau Jemaja

    Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Camat Jemaja Mudahir saat Akan memasuki Lapangan Upacara

    Camat Jemaja Bacakan Sambutan Ketua Kwarnas pada HUT Pramuka ke-65

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Foto dokumentasi narasumber, buah kepayang yang berasal dari pulau Jemaja

    Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Camat Jemaja Mudahir saat Akan memasuki Lapangan Upacara

    Camat Jemaja Bacakan Sambutan Ketua Kwarnas pada HUT Pramuka ke-65

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

Setelah Perusahaan Adik Prabowo Memenangkan Natuna D-Alpha, Bagaimana Nasib Natuna?

Oleh: Dr. H. Amirudin, MPA

Ranai Pos by Ranai Pos
26/09/2026 9:46 AM
in Berita, Opini
0
Setelah Perusahaan Adik Prabowo Memenangkan Natuna D-Alpha, Bagaimana Nasib Natuna?
0
SHARES
7
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ada ironi yang kadang hanya bisa dijelaskan oleh geografi.

Natuna berada jauh di utara. Jakarta berada jauh di selatan. Di antara keduanya terbentang laut, ribuan kilometer kepentingan, dan sebuah negara yang sering kali terasa lebih dekat kepada peta daripada kepada penduduk yang tinggal di atasnya.

Kini ada satu nama lagi yang menghubungkan Natuna dengan Jakarta: PT Nations Petroleum, anak usaha Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo, adik Presiden Prabowo Subianto.

Pada September 2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan Nations Petroleum sebagai pemenang lelang Wilayah Kerja Natuna D-Alpha. Komitmen pasti untuk tiga tahun pertama mencapai sekitar US$103,3 juta, dengan bonus tanda tangan US$200 ribu. Program awalnya mencakup survei seismik 3D, studi CO₂, desain fasilitas, satu sumur appraisal dan satu sumur eksplorasi.

Baca Juga

BPR Tuah Karimun Gencar Sosialisasikan KURDA, Kali Ini Sasar Masyarakat Kecamatan Meral

Migas Ada di Natuna, Talent Harus Lahir dari Natuna

Secara administratif, ini sebuah keputusan bisnis dan kebijakan energi.

Tetapi bagi Natuna, ia bukan sekadar urusan bisnis.

Sebab D-Alpha bukan sekadar sebuah kotak di peta blok migas.

Ia adalah semacam masa depan yang selama puluhan tahun selalu dijanjikan tetapi tak kunjung menjadi kenyataan.

D-Alpha ditemukan pada 1973.

Setengah abad lebih berlalu.

Di sepanjang waktu itu, Natuna tumbuh sebagai daerah yang hidup berdampingan dengan sebuah paradoks: berada di atas kekayaan alam yang sangat besar, tetapi tidak otomatis menjadi daerah yang kaya.

Pemerintah Kabupaten Natuna mencatat potensi gas D-Alpha mencapai sekitar 222 TCF, dengan hidrokarbon terambil sekitar 46 TCF. Tetapi cadangan itu datang bersama persoalan teknis yang tidak kecil: kandungan CO₂ yang sangat tinggi.

Di sinilah cerita tentang gas berubah menjadi cerita tentang manusia.

Apa gunanya sebuah daerah mempunyai gas yang besar apabila masyarakatnya tetap harus membeli LPG dengan harga mahal?

Apa arti menjadi daerah penghasil migas apabila ongkos pesawat ke Batam begitu tinggi?

Apa arti sebuah wilayah yang disebut strategis apabila anak-anak mudanya tetap harus pergi untuk mencari pendidikan dan pekerjaan?

Dan apa arti kekayaan alam apabila yang tumbuh di daerah penghasil hanyalah angka produksi, sementara industri turunannya tumbuh di tempat lain?

Pertanyaan itu mungkin lebih penting daripada siapa yang memenangkan lelang.

Tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Yang memenangkan D-Alpha bukan perusahaan asing.

Bukan pula perusahaan yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan pusat kekuasaan.

Ia adalah perusahaan yang berada di bawah Arsari Group milik Hashim Djojohadikusomo, saudara kandung Presiden Republik Indonesia.

Fakta hubungan keluarga itu sendiri bukan bukti adanya pelanggaran. Lelang resmi mempunyai mekanisme dan keputusan pemerintah mempunyai dasar hukum. Pemerintah menyatakan pelelangan dilakukan untuk mendorong eksplorasi dan menemukan cadangan baru bagi kebutuhan energi nasional.

Justru karena itulah pertanyaan publik harus diletakkan pada tempat yang tepat.

Bukan:

“Mengapa perusahaan keluarga Presiden menang?”

Melainkan:

“Jika perusahaan keluarga Presiden menang secara sah, apakah negara akan memastikan bahwa kepentingan masyarakat Natuna juga menang?”

Itulah pertanyaan yang lebih sulit.

Dan lebih penting.

Sebab kekayaan alam mempunyai sejarah buruk di banyak tempat.

Daerah penghasil sering hanya menjadi halaman belakang dari pembangunan nasional.

Minyaknya pergi.

Gasnya pergi.

Kayunya pergi.

Batubaranya pergi.

Yang tinggal kadang hanya jalan yang rusak, laut yang berubah, lingkungan yang harus dipulihkan, dan masyarakat yang diberi cerita bahwa mereka telah ikut menyumbang bagi pembangunan Indonesia.

Natuna tidak boleh mengalami cerita yang sama.

D-Alpha harus menjadi bab baru.

Bukan hanya bagi industri migas Indonesia, tetapi bagi hubungan antara negara dan daerah perbatasan.

Selama ini Natuna sering dilihat dari dua perspektif.

Dari Jakarta, ia adalah wilayah strategis.

Dari sudut pertahanan, ia adalah halaman depan negara.

Dari sudut geopolitik, ia adalah wilayah yang penting karena berada dekat Laut Cina Selatan.

Tetapi dari mata orang Natuna, ia adalah rumah.

Ada pasar.

Ada sekolah.

Ada nelayan.

Ada guru.

Ada petani.

Ada pelabuhan.

Ada keluarga yang setiap pagi bertanya bagaimana membayar kebutuhan rumah tangga.

Negara melihat Natuna sebagai titik strategis.

Masyarakat melihatnya sebagai tempat hidup.

Keduanya seharusnya tidak bertentangan.

Maka, setelah Nations Petroleum memenangkan D-Alpha, pemerintah daerah dan masyarakat Natuna justru memperoleh alasan yang lebih kuat untuk bertanya.

Apa yang akan diperoleh Natuna?

Berapa banyak tenaga kerja lokal yang akan terserap?

Berapa banyak perusahaan lokal yang akan menjadi pemasok?

Apakah catering, transportasi, laundry, konstruksi, jasa kelautan, penginapan, keamanan, teknologi dan berbagai jasa penunjang akan melibatkan pengusaha Natuna?

Apakah akan ada pusat logistik dan basis operasi di Natuna?

Apakah anak-anak muda Natuna akan memperoleh beasiswa dan pelatihan agar kelak tidak hanya menjadi penonton ketika industri migas datang?

Apakah pemerintah pusat akan membangun infrastruktur yang memungkinkan Natuna menjadi bagian dari rantai nilai D-Alpha?

Dan yang paling penting:

Apakah Natuna hanya akan menjadi lokasi pengeboran, atau menjadi bagian dari masa depan industri gas itu sendiri?

Pertanyaan terakhir ini jangan dianggap kecil.

Sebab eksploitasi berbeda dengan pembangunan.

Sebuah daerah bisa dieksploitasi tanpa pernah benar-benar dibangun.

Ada satu angka yang menarik perhatian: US$103,3 juta.

Itulah komitmen pasti tiga tahun pertama Nations Petroleum. Angka itu penting karena menunjukkan keseriusan awal investasi. Tetapi angka investasi perusahaan bukanlah angka kesejahteraan masyarakat.

Kita tidak boleh mencampuradukkan keduanya.

Investasi adalah modal yang dikeluarkan perusahaan.

Kesejahteraan adalah hasil sosial-ekonomi yang diterima masyarakat.

Di antara keduanya terdapat negara.

Dan di situlah tanggung jawab pemerintah menjadi penting.

Negara harus memastikan agar investasi tidak berhenti pada pengeboran, tetapi menghasilkan multiplier effect bagi daerah.

Jika perusahaan membawa teknologi, Natuna harus memperoleh transfer pengetahuan.

Jika perusahaan membutuhkan tenaga kerja, masyarakat Natuna harus memperoleh kesempatan.

Jika perusahaan membutuhkan jasa, pengusaha lokal harus memperoleh ruang.

Jika perusahaan membangun fasilitas, harus ada nilai tambah bagi wilayah.

Jika gas kelak menghasilkan penerimaan negara, formula bagi hasil harus memberikan keadilan yang masuk akal kepada daerah penghasil dan daerah yang menanggung dampak sosial, ekonomi, serta ekologisnya.

Ada pula persoalan yang lebih besar.

D-Alpha mengandung CO₂ sangat tinggi. Karena itu pengembangannya bukan sekadar mengambil gas dari bumi lalu menjualnya. Ada pekerjaan teknologi, pengelolaan karbon, desain fasilitas dan pemantauan yang kompleks. Rencana kerja tiga tahun pertama sendiri mencantumkan beberapa paket studi CO₂ serta kegiatan desain dan pengujian.

Dengan demikian, Natuna sebenarnya mempunyai peluang untuk menjadi lebih dari sekadar daerah penghasil gas.

Ia bisa menjadi laboratorium teknologi energi.

Tetapi itu membutuhkan satu syarat:

masyarakat setempat jangan ditempatkan hanya sebagai penonton.

Universitas harus masuk.

Sekolah harus masuk.

Politeknik harus masuk.

UMKM harus masuk.

Pemerintah daerah harus masuk.

Dan terutama, anak-anak Natuna harus disiapkan.

Sebab jangan sampai suatu hari rig-rig berdiri di laut Natuna, kapal-kapal industri hilir-mudik, miliaran dolar bergerak, tetapi anak Natuna hanya melihat semuanya dari pantai.

Itu bukan pembangunan.

Itu hanya pemandangan.

Ada pula pertanyaan mengenai transparansi.

Karena pemenangnya memiliki hubungan keluarga dengan Presiden, standar transparansi justru semestinya lebih tinggi.

Bukan karena hubungan keluarga itu otomatis salah.

Tetapi karena kekuasaan publik selalu membutuhkan kepercayaan publik.

Dan kepercayaan tidak dibangun dengan mengatakan:

“Semuanya sudah sesuai aturan.”

Aturan adalah batas minimum.

Kepercayaan membutuhkan lebih dari itu.

Ia membutuhkan keterbukaan.

Tentang proses.

Tentang komitmen.

Tentang investasi.

Tentang kewajiban.

Tentang penerimaan negara.

Tentang dampak lingkungan.

Tentang manfaat daerah.

Tentang siapa yang memperoleh apa.

Sebab semakin besar hubungan antara bisnis dan kekuasaan yang terlihat oleh publik, semakin besar pula kebutuhan untuk membuka ruang pengawasan.

Bukan untuk menghambat investasi.

Justru agar investasi tidak dicurigai.

Natuna sudah terlalu lama menjadi kata yang indah dalam pidato.

“Wilayah terdepan.”

“Beranda Indonesia.”

“Daerah perbatasan.”

“Wilayah strategis nasional.”

“Penghasil migas.”

Semua istilah itu benar.

Tetapi masyarakat tidak hidup dari istilah.

Mereka hidup dari harga beras.

Dari ongkos transportasi.

Dari harga gas.

Dari sekolah anak.

Dari ikan yang bisa dijual.

Dari pekerjaan.

Dari rumah sakit.

Dari konektivitas.

Dari kepastian masa depan.

Karena itu, pertanyaan terbesar setelah kemenangan Nations Petroleum bukan siapa pemilik perusahaan itu.

Pertanyaan terbesarnya adalah:

Apakah untuk pertama kalinya kekayaan D-Alpha akan membuat masyarakat Natuna merasa bahwa kekayaan itu juga milik masa depan mereka?

Barangkali inilah kesempatan untuk mengubah cara Indonesia memandang daerah perbatasan.

Selama ini perbatasan sering dianggap sebagai ujung.

Padahal bagi orang yang tinggal di sana, perbatasan adalah pusat kehidupan.

Dari sinilah kita seharusnya memandang D-Alpha.

Bukan dari Jakarta ke Natuna.

Melainkan dari Natuna kepada Indonesia.

Jika D-Alpha berhasil dikembangkan, maka keberhasilannya jangan hanya diukur dari berapa juta dolar investasi masuk, berapa sumur dibor, atau berapa kaki kubik gas diproduksi.

Ukurlah juga dari berapa anak Natuna yang menjadi insinyur.

Berapa perusahaan Natuna yang tumbuh.

Berapa pelabuhan yang berkembang.

Berapa nelayan yang memperoleh manfaat.

Berapa rumah tangga yang merasakan energi lebih terjangkau.

Berapa besar industri yang tumbuh di Natuna.

Dan berapa banyak nilai tambah yang tinggal di sana.

Sebab minyak dan gas bisa habis.

Tetapi kemampuan manusia tidak seharusnya habis.

Mungkin kelak kita akan melihat D-Alpha sebagai awal dari sebuah zaman baru.

Atau mungkin ia akan menjadi satu lagi episode panjang tentang kekayaan alam yang datang dan pergi dari sebuah daerah perbatasan.

Belum ada yang tahu.

Yang kita tahu, pada September 2026, sebuah perusahaan di bawah Arsari Group telah memperoleh hak untuk mengembangkan Wilayah Kerja Natuna D-Alpha dengan komitmen investasi awal yang besar.

Maka sekarang giliran Natuna bertanya.

Bukan dengan marah.

Bukan dengan curiga.

Tetapi dengan kesadaran sebagai warga negara:

Jika gas Natuna adalah milik Indonesia, bagaimana Indonesia memastikan Natuna tidak menjadi orang terakhir yang menikmati kekayaannya sendiri?

Sebab pada akhirnya, persoalannya bukan siapa yang menguasai gas.

Persoalannya adalah:

siapa yang menikmati masa depan yang lahir dari gas itu.

Dan di situlah nasib Natuna sesungguhnya sedang dipertaruhkan.***

Komentar

Berita Terkini

BPR Tuah Karimun Gencar Sosialisasikan KURDA, Kali Ini Sasar Masyarakat Kecamatan Meral

BPR Tuah Karimun Gencar Sosialisasikan KURDA, Kali Ini Sasar Masyarakat Kecamatan Meral

5 menit lalu

Setelah Perusahaan Adik Prabowo Memenangkan Natuna D-Alpha, Bagaimana Nasib Natuna?

Migas Ada di Natuna, Talent Harus Lahir dari Natuna

Negara Kesatuan atau Federal: Di Mana Seharusnya Kekuasaan Berada?

Mengenal Nomor Sertipikat dan Makna yang Terkandung di Dalamnya

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In