No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
Senin, 3 Agustus 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Syahbandar Tarempa Siaga Layani KM Bukit Raya, Naik Turun Penumpang berjalan Lancar

    Syahbandar Tarempa Siaga Layani KM Bukit Raya, Naik Turun Penumpang berjalan Lancar

    BPN Tanjungpinang Diduga Lakukan Maladministrasi, Djodi Wirahadikusuma Pertanyakan Status Sertifikat Hak Pakai

    BPN Tanjungpinang Diduga Lakukan Maladministrasi, Djodi Wirahadikusuma Pertanyakan Status Sertifikat Hak Pakai

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Syahbandar Tarempa Siaga Layani KM Bukit Raya, Naik Turun Penumpang berjalan Lancar

    Syahbandar Tarempa Siaga Layani KM Bukit Raya, Naik Turun Penumpang berjalan Lancar

    BPN Tanjungpinang Diduga Lakukan Maladministrasi, Djodi Wirahadikusuma Pertanyakan Status Sertifikat Hak Pakai

    BPN Tanjungpinang Diduga Lakukan Maladministrasi, Djodi Wirahadikusuma Pertanyakan Status Sertifikat Hak Pakai

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

Sesat Pikir Pilkada Lewat DPRD dalam Konteks Sistem Presidensial

Oleh: Dr. H. Amirudin, MPA

Ranai Pos by Ranai Pos
18/01/2026 5:02 AM
in Opini
0
Sesat Pikir Pilkada Lewat DPRD dalam Konteks Sistem Presidensial
0
SHARES
57
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Wacana mengembalikan pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali mengemuka. Alasan yang dikemukakan nyaris selalu sama : mahalnya biaya politik, konflik horizontal, serta maraknya politik uang. Namun di balik argumen tersebut, terdapat sesat pikir yang serius—baik secara konseptual, konstitusional, maupun dalam kerangka besar sistem presidensial yang dianut Indonesia.

Pilkada bukan semata persoalan teknis elektoral, melainkan menyangkut prinsip kedaulatan rakyat, legitimasi kekuasaan, dan konsistensi sistem ketatanegaraan. Dalam konteks negara yang secara tegas menganut sistem presidensial, gagasan Pilkada melalui DPRD justru berpotensi merusak bangunan demokrasi lokal dan menciptakan anomali konstitusional.
Kedaulatan Rakyat sebagai Prinsip Konstitusional
Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 menyatakan secara tegas bahwa “kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.” Norma ini menegaskan bahwa rakyat adalah sumber utama legitimasi kekuasaan, termasuk dalam memilih pemimpin politik.

Lebih jauh, Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 menyebutkan bahwa “Gubernur, Bupati, dan Wali Kota masing-masing sebagai kepala pemerintahan daerah dipilih secara demokratis.” Frasa “dipilih secara demokratis” inilah yang kerap dipelintir untuk membenarkan Pilkada melalui DPRD.

Namun, Mahkamah Konstitusi (MK) dalam berbagai putusannya telah memberikan tafsir yang progresif dan kontekstual: demokratis tidak cukup dimaknai secara prosedural-elitis, melainkan harus menjamin partisipasi rakyat secara langsung, bebas, dan adil.
Dalam Putusan MK Nomor 97/PUU-XI/2013, MK menegaskan bahwa pemilihan kepala daerah secara langsung merupakan perwujudan prinsip kedaulatan rakyat dan bagian dari penguatan demokrasi lokal pasca-Reformasi. MK secara eksplisit menyatakan bahwa Pilkada langsung telah menjadi constitutional practice yang selaras dengan semangat UUD 1945.

Baca Juga

Ketika MBG Tak Boleh Menggunakan Dana Pendidikan oleh MK

20% untuk Makan, 0% untuk Guru? Ironi Konstitusi Pendidikan yang Sedang Dipertaruhkan

Dengan demikian, mengembalikan Pilkada ke DPRD bukan sekadar perubahan mekanisme, melainkan kemunduran tafsir demokrasi yang telah dimatangkan melalui praktik ketatanegaraan dan putusan pengadilan konstitusi.

Sistem Presidensial dan Sumber Legitimasi Kekuasaan

Indonesia secara tegas menganut sistem presidensial, sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 4 ayat (1) UUD 1945: “Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar.” Presiden dipilih langsung oleh rakyat (Pasal 6A ayat [1]), sehingga legitimasi eksekutif bersumber langsung dari pemilih, bukan dari parlemen.

Logika ini diturunkan hingga ke tingkat daerah. Kepala daerah adalah eksekutif lokal yang menjalankan fungsi pemerintahan, bukan pelaksana mandat DPRD. Karena itu, legitimasi politiknya harus bersumber langsung dari rakyat, bukan dari lembaga perwakilan.

Pilkada melalui DPRD secara substantif menciptakan distorsi sistem presidensial di tingkat lokal. Kepala daerah akan bergantung pada konfigurasi politik DPRD, menyerupai mekanisme parlementer, tanpa adanya mekanisme vote of no confidence atau desain pertanggungjawaban yang jelas. Ini melahirkan sistem hibrida yang cacat secara teoritis dan rawan disalahgunakan secara praktis.

Putusan MK dan Penolakan terhadap Demokrasi Elitis

Mahkamah Konstitusi secara konsisten menolak tafsir demokrasi yang elitis dan prosedural semata. Dalam Putusan MK Nomor 072-073/PUU-II/2004, MK menegaskan bahwa demokrasi Indonesia harus memberi ruang luas bagi partisipasi rakyat dalam menentukan pemimpinnya.

MK juga menekankan bahwa pemilihan oleh DPRD cenderung mempersempit ruang kedaulatan rakyat dan membuka peluang transaksi politik tertutup. Demokrasi, menurut MK, bukan hanya soal efisiensi, tetapi soal legitimasi dan keadilan prosedural.

Dengan rujukan ini, argumen bahwa Pilkada lewat DPRD tetap “demokratis” menjadi rapuh secara konstitusional. Demokrasi tidak boleh direduksi menjadi kesepakatan elite yang dilegitimasi secara formal, tetapi harus berakar pada kehendak rakyat secara langsung.

Sesat Pikir Efisiensi dan Bahaya Korupsi Kekuasaan

Argumen efisiensi biaya sering dijadikan dalih utama. Namun, ini adalah kesalahan logika mendasar: menyamakan penghematan anggaran dengan kualitas demokrasi. UUD 1945 tidak pernah menempatkan efisiensi fiskal di atas prinsip kedaulatan rakyat.
Justru sebaliknya, Pilkada melalui DPRD berpotensi memusatkan biaya politik dalam ruang sempit elite, sehingga transaksi politik menjadi lebih intens, tertutup, dan sulit diawasi. Dalam kondisi ini, politik uang tidak hilang, melainkan bermetamorfosis menjadi korupsi kebijakan (policy corruption).

Kepala daerah yang dipilih DPRD akan lebih sibuk menjaga stabilitas koalisi ketimbang melayani publik. Fungsi pengawasan DPRD pun melemah karena sejak awal terikat relasi transaksional. Ini bertentangan dengan prinsip checks and balances yang menjadi ruh sistem presidensial.

Mengkhianati Spirit Reformasi
Pilkada langsung adalah buah Reformasi 1998—sebuah koreksi atas praktik oligarki lokal Orde Baru, ketika kepala daerah menjadi produk kompromi elite dan perpanjangan tangan kekuasaan pusat. Rakyat saat itu teralienasi dari proses politik yang menentukan nasib mereka sendiri.

Mengembalikan Pilkada ke DPRD tanpa evaluasi jujur terhadap sejarah tersebut adalah langkah ahistoris. Masalah Pilkada langsung bukan pada prinsipnya, melainkan pada tata kelola partai politik, pendanaan politik, dan lemahnya penegakan hukum. Solusinya adalah pembenahan institusi, bukan pencabutan hak politik rakyat.

Konstitusi Tidak Boleh Ditafsir Mundur
Secara konstitusional, filosofis, dan historis, Pilkada melalui DPRD adalah jalan mundur. Ia bertentangan dengan prinsip kedaulatan rakyat (Pasal 1 ayat [2] UUD 1945), merusak konsistensi sistem presidensial, dan mengabaikan tafsir progresif Mahkamah Konstitusi.
Demokrasi memang mahal dan melelahkan. Namun, kemunduran demokrasi jauh lebih berbahaya. Negara tidak boleh menebus kegagalan mengelola politik dengan cara mencabut hak rakyat untuk memilih pemimpinnya sendiri.

Pilkada langsung bukan masalahnya. Yang bermasalah adalah keberanian negara untuk membenahi demokrasi secara sungguh-sungguh. Dan konstitusi, sejatinya, berdiri di pihak rakyat—bukan elite.***

Komentar

Berita Terkini

Ketua Pusat Kajian Ilmu Hukum/PKIH Karimun, Dr. Edwar Kelvin, S.H., M.H., saat wawancara di ruang kerjanya.

Survei Prabowo Turun, PKIH: Jangan Terjebak Euforia Angka, Keberhasilan Pemerintah Tidak Diukur dari Approval Rating Semata

1 jam lalu

KUA–PPAS APBD 2027 Harus Jadi Titik Balik: PKIH Karimun Desak Putus Rantai Tunda Bayarl

Guru PAI SMP Natuna Perkuat Kompetensi AI dalam Pembelajaran

Satgas TMMD Ke-129 Wujudkan Akses Air Bersih Melalui Pembangunan Sumur Bor di Tiga Titik Desa Lancang Kuning

MCK TMMD Ke-129 Jadi Langkah Nyata Tingkatkan Sanitasi dan Kualitas Hidup Warga Desa Busung

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In