No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
Rabu, 18 Maret 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Komisioner Bawaslu Kepri Paparkan Temuan Pelanggaran Politik Uang dan Netralitas ASN di Pilkada 2024

    Komisioner Bawaslu Kepri Paparkan Temuan Pelanggaran Politik Uang dan Netralitas ASN di Pilkada 2024

    Dari Batu Sejarah ke Debur Ombak: Ekspedisi Budaya HPN 2026 di Banten 

    Dari Batu Sejarah ke Debur Ombak: Ekspedisi Budaya HPN 2026 di Banten

    Peserta HPN 2026 SMSI Disambut Meriah di Pendopo Kabupaten Pandeglang 

    Peserta HPN 2026 SMSI Disambut Meriah di Pendopo Kabupaten Pandeglang

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Komisioner Bawaslu Kepri Paparkan Temuan Pelanggaran Politik Uang dan Netralitas ASN di Pilkada 2024

    Komisioner Bawaslu Kepri Paparkan Temuan Pelanggaran Politik Uang dan Netralitas ASN di Pilkada 2024

    Dari Batu Sejarah ke Debur Ombak: Ekspedisi Budaya HPN 2026 di Banten 

    Dari Batu Sejarah ke Debur Ombak: Ekspedisi Budaya HPN 2026 di Banten

    Peserta HPN 2026 SMSI Disambut Meriah di Pendopo Kabupaten Pandeglang 

    Peserta HPN 2026 SMSI Disambut Meriah di Pendopo Kabupaten Pandeglang

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

Menangkap Presiden Negara Berdaulat: Ujian Serius Tata Dunia

Oleh : Dr. H. Amirudin, MPA (Pendidik dan Sosiolog)

rapi by rapi
05/01/2026 7:37 PM
in Opini
0
Dr. H. Amirudin, MPA (Pengamat Sosial dan Pemerhati Perbatasan)

Dr. H. Amirudin, MPA (Pengamat Sosial dan Pemerhati Perbatasan)

0
SHARES
40
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Dunia internasional kembali diguncang oleh sebuah peristiwa yang, jika benar terjadi sebagaimana diklaim, menandai titik genting dalam sejarah hubungan antarnegara: penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat dalam sebuah operasi lintas negara. Presiden Donald Trump menyatakan tindakan itu sebagai bagian dari penegakan hukum internasional dan perang melawan narkotika. Namun bagi banyak pihak, peristiwa ini justru membuka kembali luka lama tata dunia yang rapuh—di mana hukum kerap tunduk pada kekuatan.

Terlepas dari perdebatan faktual dan detail operasionalnya, satu pertanyaan besar tak terhindarkan: apakah dunia sedang menyaksikan penegakan hukum global, atau justru normalisasi intervensi sepihak oleh negara adidaya?

Amerika Serikat sejak lama menuduh Nicolás Maduro terlibat dalam kejahatan lintas negara, termasuk perdagangan narkotika dan pencucian uang. Dalam logika hukum domestik AS, dakwaan tersebut dianggap memberi dasar moral dan yuridis untuk bertindak. Namun dalam perspektif hubungan internasional, persoalannya jauh lebih kompleks.

Seorang presiden yang sedang menjabat bukan sekadar individu hukum, melainkan representasi kedaulatan sebuah negara. Menangkap kepala negara lain tanpa mandat internasional—misalnya melalui Dewan Keamanan PBB—bertentangan dengan prinsip dasar Piagam PBB: penghormatan terhadap kedaulatan dan larangan penggunaan kekuatan secara sepihak.

Baca Juga

Israel dan Kerentanan Geopolitiknya dalam Perang Asimetris

Menemukan Kembali Makna Puasa di Tengah Dunia yang Bising

Di titik inilah kontradiksi besar muncul. Jika setiap negara merasa berhak menangkap pemimpin negara lain atas dasar hukum nasionalnya sendiri, maka tatanan internasional akan berubah menjadi rimba hukum global. Yang kuat bertindak, yang lemah menerima.

Tak mengherankan bila reaksi dunia terbelah. Sejumlah negara Barat memilih bersikap hati-hati atau diam, sementara banyak negara di Amerika Latin, Asia, dan Eropa mengecam keras langkah tersebut. Rusia dan China menilai tindakan itu sebagai preseden berbahaya, sedangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyuarakan kekhawatiran atas erosi norma internasional yang dibangun sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Yang dipertaruhkan bukan semata Venezuela atau sosok Maduro, melainkan legitimasi sistem global berbasis aturan (rules-based international order) yang selama ini diklaim sebagai fondasi perdamaian dunia. Ironisnya, tindakan sepihak yang dilakukan atas nama hukum justru berpotensi menghancurkan hukum itu sendiri.

Tak dapat diabaikan pula dimensi geopolitik dan ekonomi. Venezuela adalah pemilik salah satu cadangan minyak terbesar di dunia. Setiap dinamika politik di negara itu hampir selalu bersinggungan dengan kepentingan energi global. Karena itu, ketika muncul pernyataan tentang kemungkinan “pengelolaan” Venezuela pasca-Maduro, kecurigaan lama kembali menguat: apakah ini sungguh penegakan hukum, atau geopolitik sumber daya dengan wajah baru?

Sejarah Amerika Latin sarat dengan episode intervensi—dari kudeta, embargo, hingga operasi terselubung—yang meninggalkan trauma kolektif. Peristiwa ini, benar atau keliru, mudah dibaca sebagai kelanjutan dari sejarah panjang tersebut, sehingga memperdalam ketidakpercayaan terhadap niat baik negara adidaya.

Peristiwa ini menempatkan dunia di persimpangan jalan. Jika dibiarkan tanpa koreksi melalui mekanisme multilateral, ia dapat menjadi pembenaran bagi negara besar lain untuk bertindak serupa. Hari ini Venezuela, esok bisa negara mana pun—termasuk negara kecil yang tak memiliki daya tawar geopolitik.
Bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, prinsip kedaulatan dan non-intervensi bukan sekadar jargon diplomatik, melainkan tameng eksistensial. Ketika prinsip itu runtuh, yang tersisa hanyalah politik kekuatan.
Apakah Nicolás Maduro bersalah atau tidak adalah persoalan hukum yang seharusnya diuji melalui mekanisme internasional yang sah. Namun cara menegakkan hukum sama pentingnya dengan hukum itu sendiri. Ketika hukum ditegakkan dengan melanggar prinsip hukum yang lebih mendasar, dunia sesungguhnya sedang melangkah mundur.

Sejarah kelak tidak hanya mencatat siapa yang ditangkap, tetapi bagaimana dunia memilih merespons. Diam bisa berarti persetujuan. Dan persetujuan hari ini bisa menjelma penyesalan kolektif di masa depan.***

Komentar

Berita Terkini

Buka Puasa Bersama, Kapolresta Tanjungpinang Berbagi Kebaikan di Bulan Ramadhan

Buka Puasa Bersama, Kapolresta Tanjungpinang Berbagi Kebaikan di Bulan Ramadhan

7 jam lalu

Polres Bintan Fokus Jaga Ibadah dan Keamanan di Operasi Ketupat Seligi 2026

Danlanud RSA Pimpin Upacara Bendera 17-an, Pangkoopsudnas Tekankan Profesionalisme Prajurit

Aman Mudik dengan Layanan Penitipan Kendaraan di Polsek Tanjungpinang Barat

Kolaborasi Damkar dan Polres Natuna Padamkan Kebakaran di Jalur Binjai

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In