No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
Senin, 3 Agustus 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Syahbandar Tarempa Siaga Layani KM Bukit Raya, Naik Turun Penumpang berjalan Lancar

    Syahbandar Tarempa Siaga Layani KM Bukit Raya, Naik Turun Penumpang berjalan Lancar

    BPN Tanjungpinang Diduga Lakukan Maladministrasi, Djodi Wirahadikusuma Pertanyakan Status Sertifikat Hak Pakai

    BPN Tanjungpinang Diduga Lakukan Maladministrasi, Djodi Wirahadikusuma Pertanyakan Status Sertifikat Hak Pakai

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Syahbandar Tarempa Siaga Layani KM Bukit Raya, Naik Turun Penumpang berjalan Lancar

    Syahbandar Tarempa Siaga Layani KM Bukit Raya, Naik Turun Penumpang berjalan Lancar

    BPN Tanjungpinang Diduga Lakukan Maladministrasi, Djodi Wirahadikusuma Pertanyakan Status Sertifikat Hak Pakai

    BPN Tanjungpinang Diduga Lakukan Maladministrasi, Djodi Wirahadikusuma Pertanyakan Status Sertifikat Hak Pakai

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

Menangkap Presiden Negara Berdaulat: Ujian Serius Tata Dunia

Oleh : Dr. H. Amirudin, MPA (Pendidik dan Sosiolog)

rapi by rapi
05/01/2026 7:37 PM
in Opini
0
Dr. H. Amirudin, MPA (Pengamat Sosial dan Pemerhati Perbatasan)

Dr. H. Amirudin, MPA (Pengamat Sosial dan Pemerhati Perbatasan)

0
SHARES
50
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Dunia internasional kembali diguncang oleh sebuah peristiwa yang, jika benar terjadi sebagaimana diklaim, menandai titik genting dalam sejarah hubungan antarnegara: penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat dalam sebuah operasi lintas negara. Presiden Donald Trump menyatakan tindakan itu sebagai bagian dari penegakan hukum internasional dan perang melawan narkotika. Namun bagi banyak pihak, peristiwa ini justru membuka kembali luka lama tata dunia yang rapuh—di mana hukum kerap tunduk pada kekuatan.

Terlepas dari perdebatan faktual dan detail operasionalnya, satu pertanyaan besar tak terhindarkan: apakah dunia sedang menyaksikan penegakan hukum global, atau justru normalisasi intervensi sepihak oleh negara adidaya?

Amerika Serikat sejak lama menuduh Nicolás Maduro terlibat dalam kejahatan lintas negara, termasuk perdagangan narkotika dan pencucian uang. Dalam logika hukum domestik AS, dakwaan tersebut dianggap memberi dasar moral dan yuridis untuk bertindak. Namun dalam perspektif hubungan internasional, persoalannya jauh lebih kompleks.

Seorang presiden yang sedang menjabat bukan sekadar individu hukum, melainkan representasi kedaulatan sebuah negara. Menangkap kepala negara lain tanpa mandat internasional—misalnya melalui Dewan Keamanan PBB—bertentangan dengan prinsip dasar Piagam PBB: penghormatan terhadap kedaulatan dan larangan penggunaan kekuatan secara sepihak.

Baca Juga

Ketika MBG Tak Boleh Menggunakan Dana Pendidikan oleh MK

20% untuk Makan, 0% untuk Guru? Ironi Konstitusi Pendidikan yang Sedang Dipertaruhkan

Di titik inilah kontradiksi besar muncul. Jika setiap negara merasa berhak menangkap pemimpin negara lain atas dasar hukum nasionalnya sendiri, maka tatanan internasional akan berubah menjadi rimba hukum global. Yang kuat bertindak, yang lemah menerima.

Tak mengherankan bila reaksi dunia terbelah. Sejumlah negara Barat memilih bersikap hati-hati atau diam, sementara banyak negara di Amerika Latin, Asia, dan Eropa mengecam keras langkah tersebut. Rusia dan China menilai tindakan itu sebagai preseden berbahaya, sedangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyuarakan kekhawatiran atas erosi norma internasional yang dibangun sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Yang dipertaruhkan bukan semata Venezuela atau sosok Maduro, melainkan legitimasi sistem global berbasis aturan (rules-based international order) yang selama ini diklaim sebagai fondasi perdamaian dunia. Ironisnya, tindakan sepihak yang dilakukan atas nama hukum justru berpotensi menghancurkan hukum itu sendiri.

Tak dapat diabaikan pula dimensi geopolitik dan ekonomi. Venezuela adalah pemilik salah satu cadangan minyak terbesar di dunia. Setiap dinamika politik di negara itu hampir selalu bersinggungan dengan kepentingan energi global. Karena itu, ketika muncul pernyataan tentang kemungkinan “pengelolaan” Venezuela pasca-Maduro, kecurigaan lama kembali menguat: apakah ini sungguh penegakan hukum, atau geopolitik sumber daya dengan wajah baru?

Sejarah Amerika Latin sarat dengan episode intervensi—dari kudeta, embargo, hingga operasi terselubung—yang meninggalkan trauma kolektif. Peristiwa ini, benar atau keliru, mudah dibaca sebagai kelanjutan dari sejarah panjang tersebut, sehingga memperdalam ketidakpercayaan terhadap niat baik negara adidaya.

Peristiwa ini menempatkan dunia di persimpangan jalan. Jika dibiarkan tanpa koreksi melalui mekanisme multilateral, ia dapat menjadi pembenaran bagi negara besar lain untuk bertindak serupa. Hari ini Venezuela, esok bisa negara mana pun—termasuk negara kecil yang tak memiliki daya tawar geopolitik.
Bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, prinsip kedaulatan dan non-intervensi bukan sekadar jargon diplomatik, melainkan tameng eksistensial. Ketika prinsip itu runtuh, yang tersisa hanyalah politik kekuatan.
Apakah Nicolás Maduro bersalah atau tidak adalah persoalan hukum yang seharusnya diuji melalui mekanisme internasional yang sah. Namun cara menegakkan hukum sama pentingnya dengan hukum itu sendiri. Ketika hukum ditegakkan dengan melanggar prinsip hukum yang lebih mendasar, dunia sesungguhnya sedang melangkah mundur.

Sejarah kelak tidak hanya mencatat siapa yang ditangkap, tetapi bagaimana dunia memilih merespons. Diam bisa berarti persetujuan. Dan persetujuan hari ini bisa menjelma penyesalan kolektif di masa depan.***

Komentar

Berita Terkini

Ketua Pusat Kajian Ilmu Hukum/PKIH Karimun, Dr. Edwar Kelvin, S.H., M.H., saat wawancara di ruang kerjanya.

Survei Prabowo Turun, PKIH: Jangan Terjebak Euforia Angka, Keberhasilan Pemerintah Tidak Diukur dari Approval Rating Semata

1 jam lalu

KUA–PPAS APBD 2027 Harus Jadi Titik Balik: PKIH Karimun Desak Putus Rantai Tunda Bayarl

Guru PAI SMP Natuna Perkuat Kompetensi AI dalam Pembelajaran

Satgas TMMD Ke-129 Wujudkan Akses Air Bersih Melalui Pembangunan Sumur Bor di Tiga Titik Desa Lancang Kuning

MCK TMMD Ke-129 Jadi Langkah Nyata Tingkatkan Sanitasi dan Kualitas Hidup Warga Desa Busung

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In