No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
Sabtu, 19 September 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Foto dokumentasi narasumber, buah kepayang yang berasal dari pulau Jemaja

    Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Camat Jemaja Mudahir saat Akan memasuki Lapangan Upacara

    Camat Jemaja Bacakan Sambutan Ketua Kwarnas pada HUT Pramuka ke-65

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Foto dokumentasi narasumber, buah kepayang yang berasal dari pulau Jemaja

    Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Camat Jemaja Mudahir saat Akan memasuki Lapangan Upacara

    Camat Jemaja Bacakan Sambutan Ketua Kwarnas pada HUT Pramuka ke-65

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

Setelah STAI Natuna Beralih Bentuk Menjadi IAI Natuna

Oleh: Dr. H. Amirudin, MPA

Ranai Pos by Ranai Pos
19/09/2026 5:25 PM
in Berita, Opini
0
Negara Sibuk Memberi Makan Anak, Tapi Lupa Mendidik
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ada perubahan yang kadang-kadang hanya terdiri dari satu huruf.

STAI menjadi IAI.

Satu huruf yang tampaknya kecil. Tetapi di dunia pendidikan tinggi, satu huruf bisa menjadi sebuah perjalanan panjang. Ia bisa berarti perubahan bentuk, perluasan mandat, pertambahan harapan, dan—yang sering tidak tertulis dalam surat keputusan—pertambahan tanggung jawab.

Sekolah Tinggi menjadi Institut.

Baca Juga

Modal Dasar BPR Tuah Karimun Naik Jadi Rp20 Miliar, Siapkan Ruang Fleksibilitas Permodalan

Dilema Tambang Ilegal

Dari school menjadi institute. Dari sebuah lembaga yang berkonsentrasi pada bidang tertentu menjadi sebuah rumah yang lebih luas bagi berbagai disiplin ilmu.

Tetapi apakah perubahan nama selalu berarti perubahan kenyataan?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Justru karena sederhana, ia penting.

Sebab pendidikan tinggi bukan papan nama.

Bukan pula akronim yang dicetak dengan huruf besar di depan gedung.

Ia adalah kebudayaan.

Ia adalah cara sebuah masyarakat memandang pengetahuan.

STAI Natuna telah menjadi bagian dari sejarah pendidikan masyarakat di kepulauan ini. Ia tumbuh bukan di tengah kota besar dengan jalan yang ramai dan gedung-gedung tinggi, melainkan di sebuah wilayah yang selama berpuluh-puluh tahun sering dibicarakan dari kejauhan.

Natuna.

Nama itu sendiri membawa banyak hal: laut, pulau, perbatasan, migas, nelayan, Melayu, Islam, geopolitik, dan jarak.

Jarak adalah kata yang penting.

Sebab pendidikan tinggi di daerah kepulauan pada dasarnya sedang melawan jarak.

Jarak dari pusat pengetahuan.

Jarak dari pusat ekonomi.

Jarak dari pusat kebijakan.

Jarak dari universitas-universitas besar.

Dan kadang-kadang, jarak dari keyakinan bahwa anak-anak pulau juga mempunyai hak yang sama untuk menjadi manusia berpengetahuan.

Karena itu, sebuah perguruan tinggi di Natuna bukan sekadar institusi akademik.

Ia adalah cara masyarakat mengatakan kepada dunia: kami tidak ingin hanya menjadi objek pembangunan.

Kami ingin menjadi subjek yang berpikir.

Kini STAI Natuna menjadi IAI Natuna.

Ada kebanggaan di sana. Wajar.

Tetapi kebanggaan itu seharusnya tidak berhenti pada upacara.

Sebab institut bukan sekadar sekolah tinggi yang diperbesar namanya.

Institut membawa pertanyaan baru: ilmu apa yang hendak dikembangkan? Manusia seperti apa yang hendak dilahirkan? Dan untuk masyarakat yang mana ilmu itu diabdikan?

Jika perubahan bentuk hanya menghasilkan lebih banyak program studi, lebih banyak mahasiswa, lebih banyak ijazah, dan lebih banyak papan nama, maka perubahan itu belum selesai.

Ia baru administratif.

Padahal pendidikan tinggi seharusnya melampaui administrasi.

Ia harus menjadi produksi gagasan.

Natuna membutuhkan ilmu yang mengenal laut.

Tetapi bukan hanya ilmu tentang laut.

Natuna membutuhkan ilmu yang memahami masyarakat pesisir, tetapi bukan hanya statistik tentang masyarakat pesisir.

Natuna membutuhkan ekonomi, tetapi ekonomi yang mengerti mengapa harga barang di pulau bisa berbeda dengan harga barang di daratan utama.

Natuna membutuhkan teknologi, tetapi teknologi yang memahami bahwa konektivitas digital di kepulauan bukan sekadar persoalan sinyal.

Natuna membutuhkan ilmu politik dan pemerintahan, tetapi juga ilmu yang memahami bagaimana sebuah negara terasa hadir—atau justru tidak hadir—di sebuah pulau terluar.

Di sinilah institut mempunyai makna.

Ia harus menjadi tempat berbagai ilmu bertemu.

Sosiologi bertemu geografi.

Islam bertemu kemaritiman.

Ekonomi bertemu kepulauan.

Teknologi bertemu kebudayaan.

Bahasa bertemu dunia.

Dan pengetahuan lokal bertemu pengetahuan global.

Sebuah institut mestinya bukan gudang disiplin ilmu yang berdiri sendiri-sendiri.

Ia harus menjadi persilangan.

Ada sesuatu yang menarik tentang perguruan tinggi di wilayah perbatasan.

Di Jakarta, perbatasan mungkin hanya muncul sebagai garis pada peta.

Di Natuna, perbatasan adalah pengalaman sehari-hari.

Ia hadir dalam laut.

Dalam kapal.

Dalam harga barang.

Dalam penerbangan.

Dalam sinyal telepon.

Dalam percakapan tentang negara tetangga.

Dalam pertanyaan sederhana seorang anak: mengapa daerah kami jauh dari pusat?

Karena itu, ilmu pengetahuan di Natuna tidak boleh terlalu lama menjadi ilmu yang hanya berbicara tentang Natuna.

Ia harus mulai berbicara dari Natuna.

Ini dua hal yang berbeda.

Berbicara tentang Natuna berarti menjadikan Natuna sebagai objek penelitian.

Berbicara dari Natuna berarti menjadikan pengalaman Natuna sebagai sumber pengetahuan.

Yang pertama penting.

Yang kedua jauh lebih penting.

Mungkin di sinilah IAI Natuna harus menemukan wajahnya.

Bukan dengan mencoba menjadi universitas besar di kota besar.

Natuna tidak perlu meniru Bandung.

Tidak perlu meniru Yogyakarta.

Tidak perlu meniru Jakarta.

Sebuah perguruan tinggi di pulau mempunyai hak untuk mempunyai pertanyaan sendiri.

Bahkan mempunyai kewajiban.

Apa arti Islam bagi masyarakat maritim?

Bagaimana Melayu bertahan di tengah globalisasi?

Bagaimana masyarakat perbatasan membangun nasionalisme?

Bagaimana ekonomi kepulauan bekerja?

Mengapa biaya hidup di pulau begitu mahal?

Bagaimana anak-anak pulau memasuki dunia digital?

Bagaimana tradisi dan teknologi dapat hidup bersama?

Bagaimana laut bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi juga ruang kebudayaan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan pertanyaan kecil.

Ia justru bisa menjadi kontribusi akademik Natuna kepada Indonesia.

Ada bahaya lain setelah perubahan bentuk.

Perguruan tinggi bisa terjebak dalam penyakit yang sering dialami institusi yang sedang tumbuh: mengejar bentuk sebelum membangun isi.

Gedung didahulukan daripada perpustakaan.

Jumlah program studi didahulukan daripada mutu dosen.

Dokumen didahulukan daripada tradisi akademik.

Seremoni didahulukan daripada penelitian.

Padahal universitas atau institut yang kuat tidak dibangun oleh beton.

Ia dibangun oleh tradisi berpikir.

Tradisi membaca.

Tradisi menulis.

Tradisi berdebat.

Tradisi melakukan penelitian.

Tradisi menerima kritik.

Dan terutama: tradisi mengakui bahwa seseorang bisa salah.

Ini yang sering dilupakan oleh lembaga pendidikan.

Bahwa ilmu pengetahuan tumbuh bukan karena semua orang merasa paling benar, melainkan karena orang-orang bersedia menguji kebenaran yang mereka yakini.

IAI Natuna karena itu harus mempunyai keberanian untuk menjadi pusat pengetahuan tentang kepulauan.

Bukan hanya pusat pendidikan agama.

Bukan hanya tempat memperoleh gelar.

Tetapi rumah pengetahuan yang membaca Natuna secara utuh.

Natuna sebagai ruang Islam.

Natuna sebagai ruang Melayu.

Natuna sebagai ruang maritim.

Natuna sebagai ruang perbatasan.

Natuna sebagai ruang ekonomi.

Natuna sebagai ruang geopolitik.

Natuna sebagai ruang kebudayaan.

Dan akhirnya, Natuna sebagai ruang manusia.

Sebab di balik semua peta, angka produksi migas, garis batas, dan statistik pembangunan, selalu ada manusia.

Mereka yang pergi melaut.

Mereka yang mengajar.

Mereka yang berdagang.

Mereka yang menunggu kapal.

Mereka yang menunggu pesawat.

Mereka yang mengirim anak ke luar daerah karena merasa sekolah di tempat sendiri belum cukup.

Perguruan tinggi harus mendengar mereka.

Barangkali inilah makna terdalam perubahan dari STAI menjadi IAI.

Bukan perubahan tiga huruf.

Bukan perubahan papan nama.

Melainkan perubahan horizon.

Sekolah Tinggi bertanya: apa yang dapat kami ajarkan?

Institut seharusnya bertanya lebih jauh: pengetahuan macam apa yang dapat kami hasilkan?

Dan pertanyaan berikutnya lebih berat lagi:

Untuk siapa pengetahuan itu?

Jika jawabannya hanya untuk memperoleh akreditasi, maka kita telah kehilangan makna pendidikan.

Jika jawabannya hanya untuk mendapatkan ijazah, kita telah mempersempit universitas menjadi kantor administrasi.

Tetapi jika jawabannya adalah untuk membuat masyarakat lebih mampu memahami dirinya sendiri dan dunianya, maka perubahan itu mempunyai arti.

Natuna membutuhkan perguruan tinggi yang tidak takut kepada laut.

Sebab laut adalah halaman depannya.

Natuna membutuhkan perguruan tinggi yang tidak takut kepada perbatasan.

Sebab perbatasan adalah laboratoriumnya.

Natuna membutuhkan perguruan tinggi yang tidak takut kepada masa depan.

Sebab masa depan anak-anak Natuna tidak boleh selalu ditentukan oleh orang-orang yang tinggal jauh dari pulau ini.

Dan IAI Natuna membutuhkan keberanian untuk mengatakan bahwa menjadi perguruan tinggi di wilayah perbatasan bukanlah kekurangan.

Itu adalah posisi epistemologis.

Dari pinggir, kita kadang-kadang justru dapat melihat pusat dengan lebih jelas.

Maka setelah STAI Natuna menjadi IAI Natuna, pekerjaan sebenarnya baru dimulai.

Surat keputusan telah selesai.

Serah terima mungkin telah selesai.

Papan nama mungkin telah berganti.

Tetapi sejarah belum.

Sejarah baru akan ditulis oleh dosen yang meneliti, mahasiswa yang membaca, penulis yang menulis, laboratorium yang bekerja, masyarakat yang dilayani, dan para pemimpin yang berani membangun tradisi akademik.

Sebab sebuah institut tidak menjadi besar karena namanya.

Ia menjadi besar ketika masyarakat di sekelilingnya mulai merasa:

di sinilah pertanyaan kami ditanyakan.

di sinilah pengalaman kami diteliti.

di sinilah anak-anak kami belajar.

dan di sinilah masa depan kepulauan kami dipikirkan.

Mungkin, pada akhirnya, perubahan STAI menjadi IAI bukanlah tentang satu huruf yang bertambah.

Ia tentang satu cakrawala yang harus diperluas.

Dan sebuah pulau yang selama ini berada di tepi peta, perlahan-lahan belajar mengatakan:

kami bukan tepi dari pengetahuan.***

Kami juga dapat menjadi tempat pengetahuan bermula.

Komentar

Berita Terkini

Negara Sibuk Memberi Makan Anak, Tapi Lupa Mendidik

Setelah STAI Natuna Beralih Bentuk Menjadi IAI Natuna

15 detik lalu

Modal Dasar BPR Tuah Karimun Naik Jadi Rp20 Miliar, Siapkan Ruang Fleksibilitas Permodalan

Dilema Tambang Ilegal

PT TIMAH Restocking 1.000 Bibit Kepiting Bakau di Perairan Kundur

Terima Barang Rampasan Negara dari KPK, Sekjen ATR/BPN: Untuk Mendukung Layanan kepada Masyarakat

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In