No Result
View All Result
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
Sabtu, 21 Februari 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Anambas
  • Seputar Kepri
    • All
    • Batam
    • Bintan
    • Karimun
    • Lingga
    • Tanjungpinang
    Een Sebut Oknum Polisi Gunakan Mobil Sitaan Selama 9 Bulan

    Een Sebut Oknum Polisi Gunakan Mobil Sitaan Selama 9 Bulan

    Safari Ramadan 1447 H Resmi Dimulai, Pemerintah Kabupaten Bintan Siap Sambangi Warga di 8 Kecamatan

    Safari Ramadan 1447 H Resmi Dimulai, Pemerintah Kabupaten Bintan Siap Sambangi Warga di 8 Kecamatan

    Bupati Bintan Roby Kurniawan

    Jelang Ramadan dan Cap Go Meh, Bupati Bintan Perketat Pengawasan Harga dan Keamanan

  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Anambas
  • Seputar Kepri
    • All
    • Batam
    • Bintan
    • Karimun
    • Lingga
    • Tanjungpinang
    Een Sebut Oknum Polisi Gunakan Mobil Sitaan Selama 9 Bulan

    Een Sebut Oknum Polisi Gunakan Mobil Sitaan Selama 9 Bulan

    Safari Ramadan 1447 H Resmi Dimulai, Pemerintah Kabupaten Bintan Siap Sambangi Warga di 8 Kecamatan

    Safari Ramadan 1447 H Resmi Dimulai, Pemerintah Kabupaten Bintan Siap Sambangi Warga di 8 Kecamatan

    Bupati Bintan Roby Kurniawan

    Jelang Ramadan dan Cap Go Meh, Bupati Bintan Perketat Pengawasan Harga dan Keamanan

  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

Menemukan Kembali Makna Puasa di Tengah Dunia yang Bising

Oleh: Dr. H. Amirudin, MPA

Ranai Pos by Ranai Pos
20/02/2026 9:05 AM
in Opini
0
Negara Sibuk Memberi Makan Anak, Tapi Lupa Mendidik
0
SHARES
20
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ramadan 1447 Hijriyah kembali menyapa. Di tengah dunia ygang makin bising oleh notifikasi, debat tanpa jeda, dan kegelisahan ekonomi global, puasa hadir bukan sekadar ritual tahunan, melainkan jeda eksistensial. Ia seperti ruang sunyi yang dipinjamkan Tuhan agar manusia kembali mendengar detak batinnya sendiri.

Dalam tradisi Islam, puasa Ramadan berakar pada firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 183: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Ayat ini menegaskan dua hal penting: pertama, puasa adalah tradisi lintas generasi dan peradaban; kedua, orientasinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan membentuk ketakwaan—kesadaran moral yang hidup.
Di era konsumsi yang serba instan, puasa justru mengajarkan penundaan. Ketika segala hal didorong untuk “segera”—pesan terkirim dalam detik, makanan tiba dalam menit, opini menyebar dalam jam—puasa mendidik manusia untuk menahan diri. Ia melatih disiplin batin: tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga. Di situlah puasa menjadi kritik halus terhadap budaya impulsif.
Lebih jauh, puasa adalah pendidikan empati. Lapar yang dirasakan bukan sekadar sensasi biologis, tetapi jembatan sosial. Ia menyadarkan bahwa di luar sana, ada yang menahan lapar bukan karena pilihan spiritual, melainkan keterpaksaan struktural. Dalam konteks bangsa yang masih bergulat dengan ketimpangan, puasa semestinya melahirkan solidaritas, bukan sekadar seremonial buka bersama di hotel berbintang.

Sosiolog agama seperti Émile Durkheim pernah menyebut agama sebagai kekuatan yang membangun solidaritas kolektif. Ramadan menghadirkan apa yang ia sebut sebagai “collective effervescence”—getaran kebersamaan yang menyatukan individu dalam ritme spiritual yang sama. Dari azan Subuh hingga takbir Idulfitri, ada denyut kolektif yang mengikat umat dalam kesadaran bersama.

Namun, di titik inilah tantangan muncul. Apakah puasa masih menjadi ruang kontemplasi, atau telah berubah menjadi rutinitas administratif? Apakah ia masih melahirkan kejujuran sosial, atau berhenti pada formalitas ibadah?

Baca Juga

Wartawan Bukan Abal-Abal : Mengawal Pasar Modern Ranai atau Membiarkan Masalah Mengendap?

Echo Chamber Dan Indonesia Yang Terlihat Dari Perbatasan

Kita hidup di tengah paradoks. Di satu sisi, semarak Ramadan terasa di mana-mana: iklan bernuansa religius, diskon besar-besaran, hingga konten dakwah yang viral. Di sisi lain, korupsi, ujaran kebencian, dan polarisasi sosial tak serta-merta mereda. Puasa seringkali berhenti di tenggorokan, tidak turun menjadi etika publik.

Padahal, dalam sejarah Islam, Ramadan bukan bulan pelarian dari realitas, melainkan momentum transformasi. Peristiwa-peristiwa besar terjadi pada bulan ini, menandakan bahwa spiritualitas tidak mematikan daya juang, tetapi justru menguatkannya. Puasa membentuk manusia yang jernih berpikir dan teguh bersikap.

Bagi Indonesia—negeri dengan populasi Muslim terbesar di dunia—Ramadan selalu memiliki dimensi kebangsaan. Ia bukan hanya ibadah personal, tetapi juga peristiwa sosial. Di kampung-kampung pesisir hingga kota-kota besar, suasana berubah: masjid lebih hidup, sedekah meningkat, dan percakapan tentang kebaikan mengemuka. Ini adalah modal sosial yang tidak kecil.

Sebagai bangsa yang majemuk, Ramadan juga mengajarkan pentingnya menghormati perbedaan. Puasa tidak boleh menjadi alasan eksklusivitas, apalagi superioritas moral. Justru ia harus memupuk kerendahan hati. Sebab hakikat puasa adalah menyadari keterbatasan diri di hadapan Yang Mahakuasa.

Dalam konteks global yang sarat konflik dan ketidakpastian, pesan puasa terasa relevan: menahan diri lebih mulia daripada meluapkan amarah; berbagi lebih bermakna daripada menimbun; diam untuk refleksi lebih produktif daripada gaduh tanpa arah. Dunia yang cepat membutuhkan manusia yang sabar. Dunia yang keras membutuhkan hati yang lembut.

Ramadan 1447 H seharusnya tidak berlalu sebagai rutinitas tahunan. Ia perlu dibaca sebagai undangan untuk merestorasi integritas—baik sebagai individu maupun sebagai bangsa. Puasa yang sejati bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari dusta, dari ketidakadilan, dan dari sikap abai terhadap sesama.

Di tengah hiruk-pikuk zaman, mungkin yang paling kita butuhkan bukan tambahan suara, melainkan kedalaman makna. Dan puasa, dengan segala kesederhanaannya, menawarkan itu: ruang hening untuk membersihkan niat, menata ulang orientasi hidup, dan memperkuat komitmen pada nilai-nilai kemanusiaan. Ramadan datang setiap tahun. Namun kesempatan untuk benar-benar berubah tidak selalu datang dua kali.***

Penulis adalah dosen dan pemerhati isu-isu pendidikan dan kebangsaan, tinggal di Natuna, Kepulauan Riau.

Komentar

Berita Terkini

Wabup Anambas Buka Bazar Ramadhan 1447 H, Dorong Pemberdayaan UMKM

Wabup Anambas Buka Bazar Ramadhan 1447 H, Dorong Pemberdayaan UMKM

8 jam lalu

Een Sebut Oknum Polisi Gunakan Mobil Sitaan Selama 9 Bulan

Safari Ramadan 1447 H Resmi Dimulai, Pemerintah Kabupaten Bintan Siap Sambangi Warga di 8 Kecamatan

Pacu Arus Peti Kemas, Pelindo Optimis Ekspor Indonesia Menguat di 2026

Gen Darling Fest: Konser Ramah Lingkungan Bakal Digelar di Solo

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Tentang Ranai Pos
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In