Ramadan 1447 Hijriyah kembali menyapa. Di tengah dunia ygang makin bising oleh notifikasi, debat tanpa jeda, dan kegelisahan ekonomi global, puasa hadir bukan sekadar ritual tahunan, melainkan jeda eksistensial. Ia seperti ruang sunyi yang dipinjamkan Tuhan agar manusia kembali mendengar detak batinnya sendiri.
Dalam tradisi Islam, puasa Ramadan berakar pada firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 183: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Ayat ini menegaskan dua hal penting: pertama, puasa adalah tradisi lintas generasi dan peradaban; kedua, orientasinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan membentuk ketakwaan—kesadaran moral yang hidup.
Di era konsumsi yang serba instan, puasa justru mengajarkan penundaan. Ketika segala hal didorong untuk “segera”—pesan terkirim dalam detik, makanan tiba dalam menit, opini menyebar dalam jam—puasa mendidik manusia untuk menahan diri. Ia melatih disiplin batin: tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga. Di situlah puasa menjadi kritik halus terhadap budaya impulsif.
Lebih jauh, puasa adalah pendidikan empati. Lapar yang dirasakan bukan sekadar sensasi biologis, tetapi jembatan sosial. Ia menyadarkan bahwa di luar sana, ada yang menahan lapar bukan karena pilihan spiritual, melainkan keterpaksaan struktural. Dalam konteks bangsa yang masih bergulat dengan ketimpangan, puasa semestinya melahirkan solidaritas, bukan sekadar seremonial buka bersama di hotel berbintang.
Sosiolog agama seperti Émile Durkheim pernah menyebut agama sebagai kekuatan yang membangun solidaritas kolektif. Ramadan menghadirkan apa yang ia sebut sebagai “collective effervescence”—getaran kebersamaan yang menyatukan individu dalam ritme spiritual yang sama. Dari azan Subuh hingga takbir Idulfitri, ada denyut kolektif yang mengikat umat dalam kesadaran bersama.
Namun, di titik inilah tantangan muncul. Apakah puasa masih menjadi ruang kontemplasi, atau telah berubah menjadi rutinitas administratif? Apakah ia masih melahirkan kejujuran sosial, atau berhenti pada formalitas ibadah?
Kita hidup di tengah paradoks. Di satu sisi, semarak Ramadan terasa di mana-mana: iklan bernuansa religius, diskon besar-besaran, hingga konten dakwah yang viral. Di sisi lain, korupsi, ujaran kebencian, dan polarisasi sosial tak serta-merta mereda. Puasa seringkali berhenti di tenggorokan, tidak turun menjadi etika publik.
Padahal, dalam sejarah Islam, Ramadan bukan bulan pelarian dari realitas, melainkan momentum transformasi. Peristiwa-peristiwa besar terjadi pada bulan ini, menandakan bahwa spiritualitas tidak mematikan daya juang, tetapi justru menguatkannya. Puasa membentuk manusia yang jernih berpikir dan teguh bersikap.
Bagi Indonesia—negeri dengan populasi Muslim terbesar di dunia—Ramadan selalu memiliki dimensi kebangsaan. Ia bukan hanya ibadah personal, tetapi juga peristiwa sosial. Di kampung-kampung pesisir hingga kota-kota besar, suasana berubah: masjid lebih hidup, sedekah meningkat, dan percakapan tentang kebaikan mengemuka. Ini adalah modal sosial yang tidak kecil.
Sebagai bangsa yang majemuk, Ramadan juga mengajarkan pentingnya menghormati perbedaan. Puasa tidak boleh menjadi alasan eksklusivitas, apalagi superioritas moral. Justru ia harus memupuk kerendahan hati. Sebab hakikat puasa adalah menyadari keterbatasan diri di hadapan Yang Mahakuasa.
Dalam konteks global yang sarat konflik dan ketidakpastian, pesan puasa terasa relevan: menahan diri lebih mulia daripada meluapkan amarah; berbagi lebih bermakna daripada menimbun; diam untuk refleksi lebih produktif daripada gaduh tanpa arah. Dunia yang cepat membutuhkan manusia yang sabar. Dunia yang keras membutuhkan hati yang lembut.
Ramadan 1447 H seharusnya tidak berlalu sebagai rutinitas tahunan. Ia perlu dibaca sebagai undangan untuk merestorasi integritas—baik sebagai individu maupun sebagai bangsa. Puasa yang sejati bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari dusta, dari ketidakadilan, dan dari sikap abai terhadap sesama.
Di tengah hiruk-pikuk zaman, mungkin yang paling kita butuhkan bukan tambahan suara, melainkan kedalaman makna. Dan puasa, dengan segala kesederhanaannya, menawarkan itu: ruang hening untuk membersihkan niat, menata ulang orientasi hidup, dan memperkuat komitmen pada nilai-nilai kemanusiaan. Ramadan datang setiap tahun. Namun kesempatan untuk benar-benar berubah tidak selalu datang dua kali.***
Penulis adalah dosen dan pemerhati isu-isu pendidikan dan kebangsaan, tinggal di Natuna, Kepulauan Riau.





Komentar