No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
Senin, 3 Agustus 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Syahbandar Tarempa Siaga Layani KM Bukit Raya, Naik Turun Penumpang berjalan Lancar

    Syahbandar Tarempa Siaga Layani KM Bukit Raya, Naik Turun Penumpang berjalan Lancar

    BPN Tanjungpinang Diduga Lakukan Maladministrasi, Djodi Wirahadikusuma Pertanyakan Status Sertifikat Hak Pakai

    BPN Tanjungpinang Diduga Lakukan Maladministrasi, Djodi Wirahadikusuma Pertanyakan Status Sertifikat Hak Pakai

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Syahbandar Tarempa Siaga Layani KM Bukit Raya, Naik Turun Penumpang berjalan Lancar

    Syahbandar Tarempa Siaga Layani KM Bukit Raya, Naik Turun Penumpang berjalan Lancar

    BPN Tanjungpinang Diduga Lakukan Maladministrasi, Djodi Wirahadikusuma Pertanyakan Status Sertifikat Hak Pakai

    BPN Tanjungpinang Diduga Lakukan Maladministrasi, Djodi Wirahadikusuma Pertanyakan Status Sertifikat Hak Pakai

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

Menemukan Kembali Makna Puasa di Tengah Dunia yang Bising

Oleh: Dr. H. Amirudin, MPA

Ranai Pos by Ranai Pos
20/02/2026 9:05 AM
in Opini
0
Negara Sibuk Memberi Makan Anak, Tapi Lupa Mendidik
0
SHARES
51
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ramadan 1447 Hijriyah kembali menyapa. Di tengah dunia ygang makin bising oleh notifikasi, debat tanpa jeda, dan kegelisahan ekonomi global, puasa hadir bukan sekadar ritual tahunan, melainkan jeda eksistensial. Ia seperti ruang sunyi yang dipinjamkan Tuhan agar manusia kembali mendengar detak batinnya sendiri.

Dalam tradisi Islam, puasa Ramadan berakar pada firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 183: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Ayat ini menegaskan dua hal penting: pertama, puasa adalah tradisi lintas generasi dan peradaban; kedua, orientasinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan membentuk ketakwaan—kesadaran moral yang hidup.
Di era konsumsi yang serba instan, puasa justru mengajarkan penundaan. Ketika segala hal didorong untuk “segera”—pesan terkirim dalam detik, makanan tiba dalam menit, opini menyebar dalam jam—puasa mendidik manusia untuk menahan diri. Ia melatih disiplin batin: tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga. Di situlah puasa menjadi kritik halus terhadap budaya impulsif.
Lebih jauh, puasa adalah pendidikan empati. Lapar yang dirasakan bukan sekadar sensasi biologis, tetapi jembatan sosial. Ia menyadarkan bahwa di luar sana, ada yang menahan lapar bukan karena pilihan spiritual, melainkan keterpaksaan struktural. Dalam konteks bangsa yang masih bergulat dengan ketimpangan, puasa semestinya melahirkan solidaritas, bukan sekadar seremonial buka bersama di hotel berbintang.

Sosiolog agama seperti Émile Durkheim pernah menyebut agama sebagai kekuatan yang membangun solidaritas kolektif. Ramadan menghadirkan apa yang ia sebut sebagai “collective effervescence”—getaran kebersamaan yang menyatukan individu dalam ritme spiritual yang sama. Dari azan Subuh hingga takbir Idulfitri, ada denyut kolektif yang mengikat umat dalam kesadaran bersama.

Namun, di titik inilah tantangan muncul. Apakah puasa masih menjadi ruang kontemplasi, atau telah berubah menjadi rutinitas administratif? Apakah ia masih melahirkan kejujuran sosial, atau berhenti pada formalitas ibadah?

Baca Juga

Ketika MBG Tak Boleh Menggunakan Dana Pendidikan oleh MK

20% untuk Makan, 0% untuk Guru? Ironi Konstitusi Pendidikan yang Sedang Dipertaruhkan

Kita hidup di tengah paradoks. Di satu sisi, semarak Ramadan terasa di mana-mana: iklan bernuansa religius, diskon besar-besaran, hingga konten dakwah yang viral. Di sisi lain, korupsi, ujaran kebencian, dan polarisasi sosial tak serta-merta mereda. Puasa seringkali berhenti di tenggorokan, tidak turun menjadi etika publik.

Padahal, dalam sejarah Islam, Ramadan bukan bulan pelarian dari realitas, melainkan momentum transformasi. Peristiwa-peristiwa besar terjadi pada bulan ini, menandakan bahwa spiritualitas tidak mematikan daya juang, tetapi justru menguatkannya. Puasa membentuk manusia yang jernih berpikir dan teguh bersikap.

Bagi Indonesia—negeri dengan populasi Muslim terbesar di dunia—Ramadan selalu memiliki dimensi kebangsaan. Ia bukan hanya ibadah personal, tetapi juga peristiwa sosial. Di kampung-kampung pesisir hingga kota-kota besar, suasana berubah: masjid lebih hidup, sedekah meningkat, dan percakapan tentang kebaikan mengemuka. Ini adalah modal sosial yang tidak kecil.

Sebagai bangsa yang majemuk, Ramadan juga mengajarkan pentingnya menghormati perbedaan. Puasa tidak boleh menjadi alasan eksklusivitas, apalagi superioritas moral. Justru ia harus memupuk kerendahan hati. Sebab hakikat puasa adalah menyadari keterbatasan diri di hadapan Yang Mahakuasa.

Dalam konteks global yang sarat konflik dan ketidakpastian, pesan puasa terasa relevan: menahan diri lebih mulia daripada meluapkan amarah; berbagi lebih bermakna daripada menimbun; diam untuk refleksi lebih produktif daripada gaduh tanpa arah. Dunia yang cepat membutuhkan manusia yang sabar. Dunia yang keras membutuhkan hati yang lembut.

Ramadan 1447 H seharusnya tidak berlalu sebagai rutinitas tahunan. Ia perlu dibaca sebagai undangan untuk merestorasi integritas—baik sebagai individu maupun sebagai bangsa. Puasa yang sejati bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari dusta, dari ketidakadilan, dan dari sikap abai terhadap sesama.

Di tengah hiruk-pikuk zaman, mungkin yang paling kita butuhkan bukan tambahan suara, melainkan kedalaman makna. Dan puasa, dengan segala kesederhanaannya, menawarkan itu: ruang hening untuk membersihkan niat, menata ulang orientasi hidup, dan memperkuat komitmen pada nilai-nilai kemanusiaan. Ramadan datang setiap tahun. Namun kesempatan untuk benar-benar berubah tidak selalu datang dua kali.***

Penulis adalah dosen dan pemerhati isu-isu pendidikan dan kebangsaan, tinggal di Natuna, Kepulauan Riau.

Komentar

Berita Terkini

Ketua Pusat Kajian Ilmu Hukum/PKIH Karimun, Dr. Edwar Kelvin, S.H., M.H., saat wawancara di ruang kerjanya.

Survei Prabowo Turun, PKIH: Jangan Terjebak Euforia Angka, Keberhasilan Pemerintah Tidak Diukur dari Approval Rating Semata

43 menit lalu

KUA–PPAS APBD 2027 Harus Jadi Titik Balik: PKIH Karimun Desak Putus Rantai Tunda Bayarl

Guru PAI SMP Natuna Perkuat Kompetensi AI dalam Pembelajaran

Satgas TMMD Ke-129 Wujudkan Akses Air Bersih Melalui Pembangunan Sumur Bor di Tiga Titik Desa Lancang Kuning

MCK TMMD Ke-129 Jadi Langkah Nyata Tingkatkan Sanitasi dan Kualitas Hidup Warga Desa Busung

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In