No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
Jumat, 9 Oktober 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Foto dokumentasi narasumber, buah kepayang yang berasal dari pulau Jemaja

    Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Camat Jemaja Mudahir saat Akan memasuki Lapangan Upacara

    Camat Jemaja Bacakan Sambutan Ketua Kwarnas pada HUT Pramuka ke-65

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Foto dokumentasi narasumber, buah kepayang yang berasal dari pulau Jemaja

    Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Camat Jemaja Mudahir saat Akan memasuki Lapangan Upacara

    Camat Jemaja Bacakan Sambutan Ketua Kwarnas pada HUT Pramuka ke-65

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

Jika AI Lebih Pintar, Jadi apa yang Harus Dipelajari Manusia?

Oleh: Dr. Syahidun, M.M. & Dr. Syahidin, M.A., M.H (Praktisi Talent Management Insani)

Ranai Pos by Ranai Pos
08/10/2026 8:05 PM
in Berita, Opini
0
Jika AI Lebih Pintar, Jadi apa yang Harus Dipelajari Manusia?
0
SHARES
30
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ada pertanyaan yang mungkin belum banyak kita ajukan ketika menyaksikan anak-anak semakin akrab dengan kecerdasan buatan: jika AI semakin unggul dalam tugas-tugas kognitif tertentu, kemampuan manusia apa yang justru harus semakin diperkuat melalui pendidikan? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya akan menentukan wajah sekolah, perguruan tinggi, keluarga, bahkan masa depan masyarakat kita.

Di meja belajar, seorang siswa cukup mengetik beberapa kata untuk memperoleh penjelasan yang dahulu harus dicari dari banyak buku. Di kampus, mahasiswa dapat meminta AI menyusun kerangka tulisan, membandingkan teori, atau menawarkan alternatif solusi. Di tempat kerja, mesin dapat membantu membuat laporan dan merangkum ribuan halaman. Semua ini adalah peluang besar. Namun, di balik kecepatan itu tersimpan pertanyaan yang lebih manusiawi: apakah kemampuan kita ikut bertumbuh, atau justru perlahan kita menyerahkan proses berpikir kepada mesin?

Tulisan ini tidak mengajak pembaca takut terhadap teknologi. Menolak AI sama sekali bukanlah jawaban. Yang perlu kita hindari adalah menganggap kemudahan memperoleh jawaban sebagai bukti bahwa seseorang telah belajar. Pendidikan tidak boleh berhenti pada hasil yang tampak rapi. Pendidikan harus menumbuhkan kemampuan memahami, menilai, mencipta, dan bertanggung jawab.

Ketika Jawaban Semakin Mudah, Pertanyaan Harus Semakin Bermutu

Baca Juga

PLN Natuna Sambut Kedutaan Australia, Bahas Program KINETIK

70 CPNS di Lingkungan Kanwil Ditjenpas Kepri Resmi Jadi PNS, Teguhkan Komitmen Pengabdian

Selama bertahun-tahun, banyak pengalaman belajar diukur dari kemampuan mengingat definisi, menyebutkan tokoh, atau mengulang rumus. Hafalan tetap memiliki tempat: tanpa pengetahuan dasar, nalar tidak memiliki bahan untuk bekerja. Akan tetapi, jika penilaian hanya meminta pengulangan informasi, AI dapat mengerjakan sebagian tugas itu dengan cepat. Pendidikan harus bergerak melampaui pertanyaan “apa jawabannya?” menuju “mengapa jawaban itu dapat dipercaya?”

Bayangkan dua siswa diminta menjelaskan penyebab banjir di sebuah kota. Siswa pertama menyalin jawaban AI yang tampak lengkap. Siswa kedua menggunakan AI sebagai titik awal, lalu memeriksa data curah hujan, kondisi drainase, tata ruang, dan pengalaman warga. Keduanya mungkin menyerahkan tulisan yang sama-sama baik. Tetapi siswa kedua menjalani proses belajar yang lebih mendalam: ia menguji informasi, menemukan keterbatasan jawaban, dan memahami kenyataan yang tidak selalu muat dalam satu paragraf.

Di sinilah seni bertanya menjadi semakin berharga. Siswa perlu belajar menyusun pertanyaan yang tajam, membedakan fakta dari asumsi, menilai bukti, dan bersedia mengubah pendapat jika ditemukan informasi yang lebih kuat. Farrokhnia dan kolega (2024) membahas peluang serta tantangan ChatGPT bagi praktik pendidikan. Pelajaran penting bagi kita adalah bahwa kehadiran alat baru perlu diikuti penataan ulang tujuan, metode, dan tanggung jawab belajar—bukan sekadar mengganti cara mengerjakan tugas.

Jangan Sampai Tugas Selesai, tetapi Belajar Tidak Terjadi

Seorang mahasiswa dapat menyerahkan makalah dengan bahasa yang meyakinkan, tetapi tidak mampu menjelaskan argumen utamanya ketika ditanya. Seorang pelajar dapat memperoleh nilai bagus dari pekerjaan rumah yang dikerjakan dengan bantuan AI, tetapi kebingungan saat menghadapi masalah serupa tanpa perangkat. Kondisi seperti ini patut kita renungkan. Pekerjaan telah selesai, namun belum tentu kemampuan terbentuk.

Zhai, Wibowo, dan Li (2024), melalui tinjauan sistematis mengenai ketergantungan berlebihan pada sistem dialog AI, menelaah dampaknya terhadap kemampuan kognitif pelajar. Gerlich (2025) juga mengangkat persoalan cognitive offloading, yakni kecenderungan mengalihkan sebagian beban berpikir kepada alat eksternal. Kedua karya tersebut mengingatkan kita untuk memperhatikan kualitas keterlibatan mental pengguna, bukan hanya kecepatan hasil.

Tentu saja, bantuan teknologi tidak selalu buruk. Kalkulator tidak otomatis menghilangkan pemahaman matematika, dan mesin pencari tidak otomatis mematikan rasa ingin tahu. Demikian pula AI dapat menjadi pendamping yang berguna ketika siswa diminta mengkritik jawabannya, menemukan kekeliruannya, dan menyusun penjelasan sendiri. Masalah muncul ketika proses belajar diganti sepenuhnya dengan proses menyalin hasil.

Karena itu, guru dan dosen dapat mulai membedakan dua jenis tugas: tugas yang memang mengizinkan AI sebagai alat bantu dan tugas yang menuntut demonstrasi kemampuan mandiri. Dalam keduanya, proses harus terlihat. Catatan refleksi, diskusi lisan, revisi bertahap, pembuktian sumber, dan presentasi alasan dapat membantu pendidik mengetahui apakah siswa benar-benar memahami pekerjaannya.

Kreativitas Bukan Sekadar Konten yang Menarik

Kini AI dapat menulis puisi, merancang poster, mengusulkan nama usaha, bahkan membuat rancangan program. Apakah kreativitas manusia lalu kehilangan arti? Tidak. Kreativitas manusia lebih luas daripada kemampuan menghasilkan produk yang tampak baru. Ia melibatkan kepekaan mengenali masalah, keberanian mencoba, pemahaman konteks, dan kesungguhan menghadirkan manfaat.

Seorang guru yang menyadari muridnya tertinggal lalu mengubah cara mengajar sedang menunjukkan kreativitas yang berakar pada kepedulian. Mahasiswa yang melihat sampah di pesisir kemudian merancang usaha pengolahan limbah bersama warga sedang memadukan kreativitas dengan tanggung jawab sosial. Pemuda yang menggunakan AI untuk merancang pemasaran produk lokal, tetapi tetap mendengarkan kebutuhan pelaku usaha, sedang menempatkan teknologi pada fungsi yang tepat.

Kita membutuhkan pembelajaran yang memberi ruang untuk bereksperimen, gagal, memperbaiki, dan menguji gagasan dalam kehidupan nyata. Tugas proyek, pengamatan lapangan, kewirausahaan, riset kecil, serta kolaborasi lintas disiplin dapat menjadi sarana. AI boleh membantu membuat pilihan, tetapi manusia harus tetap menentukan persoalan mana yang penting dan siapa yang memperoleh manfaat dari penyelesaiannya.

Karakter dan Empati Tidak Boleh Menjadi Pelajaran Sampingan

Ada hal yang tidak selesai hanya dengan jawaban paling canggih: kejujuran ketika tidak diawasi, keberanian mengakui kesalahan, kesediaan mendengarkan orang lain, dan kemauan menolong tanpa berharap pujian. AI dapat menjelaskan nilai-nilai itu dengan kalimat indah. Namun, pembentukan karakter memerlukan keteladanan, kebiasaan, pengalaman, serta keputusan manusia dalam situasi nyata.

Bayangkan seorang siswa mengetahui cara menggunakan AI untuk menghasilkan tulisan yang tampak asli. Pertanyaan pendidik bukan hanya apakah teknologi tersebut dapat mendeteksi plagiarisme, melainkan apakah siswa memahami mengapa kejujuran akademik penting. Kita tidak cukup mengajarkan aturan; kita harus membangun kesadaran bahwa kepercayaan merupakan dasar ilmu pengetahuan dan kehidupan bersama.

Empati juga harus menjadi bagian dari pembelajaran. Di tengah dunia yang serba terukur, manusia tetap hidup bersama perasaan, harapan, keterbatasan, dan martabat. Teknologi dapat membantu membaca pola, tetapi pendidikan harus melatih anak melihat manusia di balik data. Keberhasilan tidak hanya berarti unggul sendiri, melainkan juga mampu tumbuh tanpa meninggalkan sesama.

Human Judgment: Menimbang yang Benar, Bukan Sekadar yang Cepat

Ada keputusan yang tidak cukup dijawab dengan perhitungan efisiensi. Kepala sekolah perlu mempertimbangkan kebutuhan siswa yang berbeda. Pemimpin organisasi perlu menimbang produktivitas sekaligus keadilan. Pengambil kebijakan harus membaca data sekaligus mendengar pengalaman warga. Dalam keadaan seperti ini, human judgment—kemampuan menimbang fakta, konteks, nilai, risiko, dan konsekuensi—menjadi sangat penting.

AI dapat memberikan alternatif dan memperkirakan dampak berdasarkan informasi yang tersedia. Tetapi keputusan tetap membutuhkan pertanggungjawaban. Manusia harus bertanya: siapa yang diuntungkan? Siapa yang mungkin dirugikan? Apakah keputusan ini adil? Apakah ada suara yang belum didengar? Apakah kita bersedia menjelaskan alasan keputusan itu secara terbuka?

Pendidikan harus membiasakan pelajar berhadapan dengan persoalan yang tidak selalu hitam-putih. Debat berbasis bukti, studi kasus, simulasi keputusan, dan refleksi etis dapat melatih mereka menerima perbedaan pendapat tanpa kehilangan prinsip. Kebijaksanaan tidak tumbuh hanya dari banyaknya informasi, tetapi dari cara informasi itu dipertimbangkan untuk bertindak.

Guru, Orang Tua, dan Kampus: Dari Penyampai Jawaban Menjadi Penumbuh Nalar

Kehadiran AI tidak membuat pendidik kehilangan arti. Justru peran mereka semakin menuntut kedalaman. Guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi perancang pengalaman belajar. Dosen bukan hanya pemberi tugas, tetapi pembimbing argumentasi dan integritas ilmiah. Orang tua bukan hanya penyedia perangkat, tetapi pendamping yang membantu anak membangun disiplin dan batas penggunaan teknologi.

Rahman dan Watanobe (2023) membahas peluang, ancaman, serta strategi pemanfaatan ChatGPT untuk pendidikan dan riset. Perspektif tersebut mengingatkan bahwa pemanfaatan AI perlu dikelola dengan tujuan pembelajaran yang jelas. Bukan sekadar pertanyaan boleh atau tidak boleh, melainkan kapan AI membantu, untuk tujuan apa, dengan pengawasan dan keterampilan apa.

Perubahan dapat dimulai dari kebiasaan kecil. Sebelum menggunakan AI, siswa diminta menuliskan pemahaman awalnya. Setelah memperoleh jawaban AI, ia diminta menunjukkan bagian yang diragukan dan sumber yang digunakan untuk memeriksanya. Pada akhir tugas, ia menjelaskan apa yang berubah dalam pikirannya. Langkah sederhana ini membuat teknologi menjadi sarana dialog, bukan mesin pengganti usaha belajar.

Sekolah dan kampus juga perlu menilai lebih banyak daripada produk akhir. Portofolio, proses revisi, kemampuan mempertahankan alasan, kejujuran mengakui bantuan AI, serta dampak karya terhadap lingkungan dapat menjadi indikator yang lebih kaya. Tidak semua ukuran lama harus dibuang; yang diperlukan adalah keseimbangan antara pengetahuan dasar, kecakapan berpikir, karakter, dan keterampilan digital.

Menyiapkan Generasi yang Mampu Memimpin Teknologi

Kita hidup pada masa ketika mesin semakin kuat mengolah bahasa, pola, dan informasi. Tetapi tujuan pendidikan tidak pernah semata-mata menciptakan manusia yang dapat bersaing dengan mesin dalam kecepatan menghitung atau menyusun kalimat. Pendidikan adalah ikhtiar menumbuhkan manusia yang memahami dirinya, menghormati sesamanya, dan mampu menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan.

Maka, lima kemampuan perlu mendapat tempat utama: nalar kritis untuk memeriksa kebenaran; kreativitas untuk menghadirkan solusi; karakter untuk menjaga integritas; empati untuk memahami sesama; dan human judgment untuk mengambil keputusan yang bijaksana. Kelimanya bukan pengganti pengetahuan dasar, melainkan arah penggunaan pengetahuan itu.

Pertanyaan besar kita bukan lagi apakah AI akan semakin pintar. Perkembangannya sudah terlihat. Pertanyaan yang lebih mendesak ialah apakah keluarga, sekolah, dan perguruan tinggi cukup cepat memperbarui cara mendidik agar manusia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penentu tujuan dan penjaga nilai di balik penggunaannya.

Jika anak-anak kita kelak mampu menghasilkan jawaban dengan bantuan AI, semoga mereka juga mampu mempertanyakan kebenarannya. Jika mereka mampu menciptakan karya, semoga mereka tahu untuk siapa karya itu dipersembahkan. Jika mereka memiliki kecerdasan yang tinggi, semoga mereka tetap memiliki kerendahan hati untuk belajar dan keberanian moral untuk bertindak benar.

AI boleh semakin cerdas. Pendidikan harus memastikan manusia semakin bernalar, semakin berkarakter, dan semakin bijaksana. Sebab masa depan tidak hanya membutuhkan orang yang tahu bagaimana menggunakan kecerdasan, tetapi juga manusia yang mengerti untuk apa kecerdasan itu digunakan.

Menjadikan AI Partner Berpikir, Bukan Pengganti Nurani

Perkembangan teknologi tidak menuntut kita untuk berperang dengan AI; sebaliknya, mereka menuntut kita untuk belajar bagaimana menggunakannya dengan bijak. AI dapat mengolah data dengan cepat, menemukan pola, dan menyajikan opsi. Namun, manusia masih memiliki kendali penuh atas kompas moral, emosi, dan cara menggunakan hasil analisis tersebut.

Ketika teknologi digunakan sebagai alat bantu untuk memperluas cakrawala berpikir (cognitive augmentation), bukan sebagai jalan keluar dari proses berpikir itu sendiri, manusia dan AI dapat bekerja sama dengan baik. Seorang peneliti yang baik tidak hanya menerima sintesis literatur tentang kecerdasan buatan, tetapi juga menggunakannya untuk menemukan gap penelitian yang lebih mendalam. Seorang desainer tidak hanya mengandalkan algoritma untuk membuat sketsa, mereka juga menggunakan hasil olahan mesin sebagai inspirasi awal untuk membuat karya yang melibatkan aspek kemanusiaan.

Pendidikan harus mengajarkan generasi muda untuk tidak bersikap pasif terhadap kemajuan teknologi; mereka harus belajar mengarahkan kecerdasan buatan, belajar mengevaluasi secara kritis hasilnya, dan memadukan kecerdasan buatan dengan kearifan lokal dan prinsip moral. Oleh karena itu, teknologi hadir bukan untuk mengurangi peran manusia, tetapi untuk meningkatkan kapasitasnya untuk berdampak positif pada masyarakat.

DWI SYAHID TALENT

Dua Perspektif, Satu Ikhtiar Membangun Generasi

Landasan Ilmiah dan Referensi

1. Farrokhnia, M., Banihashem, S. K., Noroozi, O., & Wals, A. (2024). A SWOT analysis of ChatGPT: Implications for educational practice and research. Innovations in Education and Teaching International. https://doi.org/10.1080/14703297.2023.2195846

2. Zhai, C., Wibowo, S., & Li, L. D. (2024). The effects of over-reliance on AI dialogue systems on students’ cognitive abilities: A systematic review. Smart Learning Environments. https://doi.org/10.1186/s40561-024-00316-7

3. Gerlich, M. (2025). AI Tools in Society: Impacts on Cognitive Offloading and the Future of Critical Thinking. Societies. https://doi.org/10.3390/soc15010006

4. Rahman, M. M., & Watanobe, Y. (2023). ChatGPT for Education and Research: Opportunities, Threats, and Strategies. Applied Sciences. https://doi.org/10.3390/app13095783

5. Kipper, L. M., et al. (2023). Human-AI Collaboration in Higher Education: A Systematic Review of Opportunities, Challenges, and Ethical Implications. Education Sciences, 13(10), 1012. https://doi.org/10.3390/educsci13101012

6. Dwivedi, Y. K., et al. (2023). So opinion: “So what if ChatGPT wrote it?” Multidisciplinary perspectives on opportunities, challenges and implications of generative conversational AI for research, practice and policy. International Journal of Information Management, 71, 102642. https://doi.org/10.1016/j.ijinfomgt.2023.102642***

 

 

 

 

 

Komentar

Berita Terkini

PLN Natuna Sambut Kedutaan Australia, Bahas Program KINETIK

PLN Natuna Sambut Kedutaan Australia, Bahas Program KINETIK

5 jam lalu

Jika AI Lebih Pintar, Jadi apa yang Harus Dipelajari Manusia?

70 CPNS di Lingkungan Kanwil Ditjenpas Kepri Resmi Jadi PNS, Teguhkan Komitmen Pengabdian

Sengketa Lahan Air Raja Kembali Bergulir, Cristina Djodi Tolak Hibahkan Tanah ke Pemko dan Minta Ganti Rugi

Setelah Gas Natuna Mengalir ke Batam, lalu Natuna Dapat Apa?

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In