NATUNA – Pemerintah Kabupaten Natuna menggelar pertandingan gasing tradisional dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Natuna. Turnamen yang dipusatkan di Lapangan Tugu Gasing itu menjadi upaya melestarikan budaya lokal yang masih diminati masyarakat di delapan kecamatan.
Pertandingan dibuka Wakil Bupati Natuna, Jarmin Sidik, mewakili Bupati Natuna Cen Sui Lan, Sabtu (10/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Jarmin menyampaikan permohonan maaf dari Bupati Natuna yang belum dapat hadir karena mengikuti agenda pisah sambut Kapolda Kepulauan Riau.
Panitia pelaksana, Herman, ST, mengatakan turnamen tahun ini diikuti 20 tim yang mewakili kecamatan. Setiap tim terdiri atas 20 orang peserta.
Menurut Herman, jumlah tim yang dapat mengikuti pertandingan masih terbatas karena menyesuaikan kemampuan anggaran pemerintah daerah.
“Karena anggaran kita terbatas, pemerintah daerah hanya bisa mengakomodasi 20 tim,” ujar Herman kepada wartawan.
Meski jumlah peserta dalam turnamen dibatasi, antusiasme masyarakat terhadap permainan gasing masih cukup tinggi. Berdasarkan data yang disampaikan panitia, delapan kecamatan di Kabupaten Natuna memiliki sekitar 50 tim penggiat gasing dengan jumlah anggota lebih dari 1.000 orang.
Turnamen tersebut direncanakan berlangsung selama 10 hari. Panitia berharap pemerintah daerah dapat mempertimbangkan penyelenggaraan *open tournament* atau turnamen terbuka pada masa mendatang, sehingga lebih banyak tim dari berbagai kecamatan mendapat kesempatan bertanding.
Herman menegaskan, permainan gasing bukan sekadar adu kekuatan, tetapi juga membutuhkan keterampilan, pengetahuan, dan strategi. Namun, seluruh peserta diminta tetap mengutamakan keselamatan dan menjunjung tinggi sportivitas.
“Permainan gasing ini sebenarnya adu ilmu. Namun, kami sebagai panitia meminta agar ilmu yang dimiliki tidak digunakan untuk mencelakakan peserta lain,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Natuna, Ilham Kauli, mengapresiasi panitia dan seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan pertandingan tersebut.
Ilham menegaskan, gasing harus dipandang sebagai bagian dari kebudayaan daerah yang memiliki nilai historis dan filosofi, bukan sekadar permainan atau ajang perlombaan.
Menurutnya, permainan tradisional mengandung nilai-nilai penting, seperti sportivitas, kebersamaan, dan gotong royong. Nilai tersebut perlu terus diwariskan kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman.
“Berbicara tentang gasing, ini lebih kepada kebudayaan. Banyak filosofi yang bisa kita ambil, seperti sportivitas, kebersamaan, dan gotong royong,” ujar Ilham.
Ia menjelaskan, gasing telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda tingkat Provinsi Kepulauan Riau pada 2010. Pengakuan tersebut menjadi salah satu landasan penting dalam menjaga keberlangsungan permainan tradisional sebagai identitas budaya masyarakat.
Ilham juga menilai perlu adanya pendataan dan dokumentasi terhadap berbagai permainan tradisional lainnya yang berkembang di Natuna. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian sekaligus membuka peluang bagi tradisi lokal memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Tradisi harus terus dimainkan, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Selain menjaga identitas daerah, pengembangan permainan tradisional juga dinilai berpotensi mendukung sektor pariwisata dan meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat apabila dikelola secara berkelanjutan.
Dengan jumlah penggiat yang mencapai lebih dari 1.000 orang di delapan kecamatan, gasing memiliki potensi untuk dikembangkan melalui pembinaan rutin, kompetisi antarkecamatan, serta pelibatan generasi muda.
Ilham menyatakan dukungannya terhadap upaya pelestarian tersebut dan berharap jumlah penggiat gasing di Natuna terus bertambah.
“Harapannya ada lebih dari 1.000 pecinta gasing. Tentunya kita sangat mendukung dalam hal ini,” katanya.
Pertandingan gasing dalam rangka HUT ke-27 Kabupaten Natuna diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga momentum memperkuat komitmen pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya.
Dukungan anggaran, pembinaan komunitas, serta perluasan kesempatan bertanding menjadi faktor penting agar gasing tetap berkembang dan menjadi kebanggaan masyarakat Natuna.*(rp).





Komentar