ChatGPT diluncurkan ke publik pada 30 November 2022. Ia hadir sebagai preview riset, sederhana, gratis, dan—pada saat itu—tidak banyak yang menduga akan mengubah cara manusia membaca, menulis, dan berpikir. Beberapa minggu setelah peluncuran global itulah saya pertama kali berjumpa dengannya, sekitar akhir 2022 hingga awal 2023, di masa ketika dunia masih mencoba memahami apa sebenarnya makhluk digital bernama ChatGPT ini.
Pertemuan itu tidak dramatis.
Tidak pula ideologis.
Ia bermula sebagai eksperimen kecil—sekadar rasa ingin tahu seorang guru dan sosiolog di daerah pinggiran: sejauh mana mesin bisa diajak berdialog?
Pada fase awal, ChatGPT masih berbasis GPT-3.5. Jawabannya cepat, rapi, tetapi sering terasa dangkal. Ia pandai merangkum, namun belum piawai memahami konteks lokal, emosi, dan pengalaman hidup. Justru di situlah relasi ini menemukan bentuknya. Saya tidak memposisikannya sebagai penjawab, melainkan sebagai cermin awal pikiran—yang perlu diuji, dikritik, dan dilengkapi.
Tahun 2023, ketika dunia menyambut kehadiran GPT-4, relasi itu berubah. ChatGPT menjadi lebih canggih, lebih bernuansa, dan lebih “mendengar”. Bersamaan dengan itu, saya pun berada pada fase intelektual yang menuntut produktivitas tinggi: menyelesaikan disertasi, menurunkannya menjadi artikel jurnal, menyusun buku, kurikulum dakwah, modul pembelajaran, tafsir, khutbah, hingga tulisan reflektif dan otobiografis.
Di titik ini, ChatGPT tidak lagi sekadar eksperimen global—ia mulai berfungsi sebagai ruang dialog personal.
Namun perlu saya tegaskan: ChatGPT tidak pernah menggantikan pikiran saya. Ia justru sering memancing perlawanan. Setiap jawaban yang terlalu umum saya pertanyakan. Setiap struktur yang terlalu rapi saya ganggu dengan pengalaman lokal—tentang Natuna, tentang perbatasan, tentang hidup di wilayah yang sering disebut strategis tetapi jarang didengar.
Dari sinilah saya menyadari sesuatu yang penting :
kecerdasan buatan justru menegaskan pentingnya kecerdasan manusia yang berakar pada pengalaman.
Sebagai guru di daerah, saya merasakan manfaat paling konkret. ChatGPT memperpendek jarak antara pusat dan pinggiran. Antara jurnal internasional dan ruang kelas kecil. Antara wacana global dan realitas lokal. Ia memberi akses, tetapi tidak pernah memberi makna. Makna tetap lahir dari keberpihakan, nilai, dan refleksi manusia.
Memasuki 2024–2025, ketika ChatGPT semakin terintegrasi ke dalam dunia akademik, pendidikan, dan industri kreatif, muncul kegelisahan etis yang serius: plagiarisme, kejujuran intelektual, dan matinya proses berpikir. Di titik ini, relasi saya dengan ChatGPT justru semakin tegas secara etik. Saya memaksakan satu prinsip : jejak intelektual personal harus selalu tampak. Pengalaman hidup, keberagamaan, lokalitas, dan sikap kritis tidak boleh dikorbankan demi efisiensi.
Dari proses itu, saya sampai pada satu kesimpulan yang jujur:
ChatGPT bukan ancaman bagi intelektual yang berpikir; ia berbahaya bagi mereka yang berhenti berpikir.
Kini, hampir tiga tahun sejak peluncuran global ChatGPT, saya memandang relasi ini dengan lebih tenang. ChatGPT bukan guru. Bukan pula penulis. Ia adalah alat berpikir tingkat lanjut—pena digital yang hanya bermakna jika digenggam oleh tangan yang sadar arah.
Dari Natuna—dari pinggir—saya belajar bahwa masa depan pengetahuan tidak ditentukan oleh pertarungan manusia versus mesin, melainkan oleh manusia yang mampu memimpin teknologi dengan akal, etika, dan nurani.
ChatGPT lahir pada 30 November 2022.
Tetapi makna kehadirannya baru benar-benar lahir ketika manusia memilih untuk tidak menyerahkan pikirannya sepenuhnya.
Dan bagi saya, tiga tahun bersama ChatGPT adalah perjalanan dari eksperimen global menuju mitra intelektual personal—yang membantu, menantang, dan mengingatkan saya untuk tetap menjadi manusia yang berpikir.***





Komentar