No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
Senin, 3 Agustus 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Syahbandar Tarempa Siaga Layani KM Bukit Raya, Naik Turun Penumpang berjalan Lancar

    Syahbandar Tarempa Siaga Layani KM Bukit Raya, Naik Turun Penumpang berjalan Lancar

    BPN Tanjungpinang Diduga Lakukan Maladministrasi, Djodi Wirahadikusuma Pertanyakan Status Sertifikat Hak Pakai

    BPN Tanjungpinang Diduga Lakukan Maladministrasi, Djodi Wirahadikusuma Pertanyakan Status Sertifikat Hak Pakai

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Syahbandar Tarempa Siaga Layani KM Bukit Raya, Naik Turun Penumpang berjalan Lancar

    Syahbandar Tarempa Siaga Layani KM Bukit Raya, Naik Turun Penumpang berjalan Lancar

    BPN Tanjungpinang Diduga Lakukan Maladministrasi, Djodi Wirahadikusuma Pertanyakan Status Sertifikat Hak Pakai

    BPN Tanjungpinang Diduga Lakukan Maladministrasi, Djodi Wirahadikusuma Pertanyakan Status Sertifikat Hak Pakai

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

Negara Sibuk Memberi Makan Anak, Tapi Lupa Mendidik

Oleh : Dr. H. Amirudin, MPA

Ranai Pos by Ranai Pos
06/02/2026 2:31 PM
in Opini
0
Negara Sibuk Memberi Makan Anak, Tapi Lupa Mendidik
0
SHARES
61
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Belakangan ini negara tampak begitu bersemangat mengurusi urusan perut anak-anaknya. Program makan bergizi gratis dielu-elukan sebagai terobosan besar: angka stunting ditekan, gizi diperbaiki, masa depan generasi diselamatkan. Niatnya tentu mulia. Tak ada yang menolak anak kenyang dan sehat. Namun di balik gegap gempita itu, muncul satu pertanyaan mendasar yang jarang diajukan: apakah negara sedang sibuk memberi makan anak, tetapi lupa mendidik mereka?

Makan adalah kebutuhan dasar. Tanpa gizi yang cukup, otak tak berkembang optimal, tubuh rapuh, dan masa depan suram. Dalam batas itu, kehadiran negara sungguh diperlukan. Masalahnya, pendidikan tidak pernah berhenti pada soal kalori, protein, atau susu. Pendidikan adalah proses membentuk manusia—akalnya, karakternya, kepekaannya, dan tanggung jawab sosialnya. Dan di titik inilah negara tampak gamang.

Sekolah hari ini semakin mirip dapur besar yang sibuk mengatur logistik, bukan ruang intelektual yang hidup. Guru dibebani laporan administrasi, data penerima bantuan, dan target-target teknokratis. Waktu untuk mendidik—dalam makna membimbing,

menginspirasi, dan menanamkan nilai—semakin tergerus. Anak-anak kenyang, tetapi miskin dialog. Mereka diberi makanan, tetapi tidak diajak berpikir.
Lebih ironis lagi, ketika indikator keberhasilan pendidikan direduksi menjadi angka: berapa porsi dibagikan, berapa sekolah terjangkau, berapa persen anggaran terserap. Kita lupa bahwa hasil pendidikan sejati sering kali tak bisa diukur secara instan. Ia tampak dalam keberanian bertanya, kejujuran bersikap, empati pada sesama, dan kesanggupan hidup bersama dalam perbedaan. Semua itu tak lahir dari dapur kebijakan yang serba cepat.

Baca Juga

Ketika MBG Tak Boleh Menggunakan Dana Pendidikan oleh MK

20% untuk Makan, 0% untuk Guru? Ironi Konstitusi Pendidikan yang Sedang Dipertaruhkan

Di banyak ruang kelas, kita menyaksikan paradoks yang menyedihkan. Anak-anak mendapat makan siang gratis, tetapi pulang tanpa makna belajar. Mereka hafal slogan, tetapi gagap merumuskan pendapat. Mereka akrab dengan gawai, tetapi asing pada percakapan yang bernas. Negara hadir sebagai penyedia, bukan sebagai pendidik.

Padahal konstitusi tidak pernah memandatkan negara hanya untuk memberi makan. Pembukaan UUD 1945 dengan tegas menyebut “mencerdaskan kehidupan bangsa.” Kata mencerdaskan mengandung makna jauh lebih dalam daripada sekadar menyehatkan badan. Ia menuntut keberpihakan pada mutu guru, kebebasan berpikir, keberanian kurikulum, dan keteladanan moral dari para pengelola negara.

Ketika pendidikan direduksi menjadi proyek, ia kehilangan rohnya. Anak-anak diperlakukan sebagai objek kebijakan, bukan subjek pembelajaran. Sekolah menjadi titik distribusi, bukan pusat kebudayaan. Guru menjadi pelaksana, bukan pemikir. Dalam jangka pendek, mungkin perut kenyang. Dalam jangka panjang, bangsa bisa tumpul.

Ini bukan seruan untuk menolak program makan gratis. Sama sekali bukan. Ini ajakan untuk menempatkannya secara proporsional. Memberi makan adalah prasyarat, bukan tujuan akhir. Ia harus berjalan seiring dengan upaya serius memperbaiki kualitas pengajaran, kesejahteraan guru, iklim akademik, dan pendidikan karakter yang hidup—bukan sekadar jargon.

Negara yang besar bukan hanya negara yang mampu mengenyangkan warganya, tetapi yang sanggup membentuk manusia merdeka: berpikir jernih, berani bersuara, dan bertanggung jawab. Anak yang kenyang tapi tak terdidik hanya akan tumbuh menjadi dewasa yang patuh tanpa nalar—mudah digerakkan, mudah dipecah, dan mudah lupa pada nilai.

Pada akhirnya, sejarah akan bertanya: apakah kita hanya memberi makan generasi ini, atau sungguh-sungguh mendidik mereka? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah Indonesia kelak dihuni oleh manusia yang cerdas dan beradab, atau sekadar populasi besar yang kenyang, tetapi kehilangan arah.***

Komentar

Berita Terkini

Ketua Pusat Kajian Ilmu Hukum/PKIH Karimun, Dr. Edwar Kelvin, S.H., M.H., saat wawancara di ruang kerjanya.

Survei Prabowo Turun, PKIH: Jangan Terjebak Euforia Angka, Keberhasilan Pemerintah Tidak Diukur dari Approval Rating Semata

1 jam lalu

KUA–PPAS APBD 2027 Harus Jadi Titik Balik: PKIH Karimun Desak Putus Rantai Tunda Bayarl

Guru PAI SMP Natuna Perkuat Kompetensi AI dalam Pembelajaran

Satgas TMMD Ke-129 Wujudkan Akses Air Bersih Melalui Pembangunan Sumur Bor di Tiga Titik Desa Lancang Kuning

MCK TMMD Ke-129 Jadi Langkah Nyata Tingkatkan Sanitasi dan Kualitas Hidup Warga Desa Busung

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In