No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
Selasa, 21 April 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Camat Jemaja Mudahir, SP pimpin rapat persiapan MeBDay Pemkab Anambas

    Camat Jemaja Matangkan Persiapan MeBDay, Siap Digelar 5 April di Letung

    Ketua Pelaksana Open Turnament Desa Kuala Maras Cup VIII 2026 Faisyal,S.Pd

    Open Turnamen Kuala Maras Cup VIII 2026, Panitia Targetkan 50 Tim Bertanding

    Komisioner Bawaslu Kepri Paparkan Temuan Pelanggaran Politik Uang dan Netralitas ASN di Pilkada 2024

    Komisioner Bawaslu Kepri Paparkan Temuan Pelanggaran Politik Uang dan Netralitas ASN di Pilkada 2024

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Camat Jemaja Mudahir, SP pimpin rapat persiapan MeBDay Pemkab Anambas

    Camat Jemaja Matangkan Persiapan MeBDay, Siap Digelar 5 April di Letung

    Ketua Pelaksana Open Turnament Desa Kuala Maras Cup VIII 2026 Faisyal,S.Pd

    Open Turnamen Kuala Maras Cup VIII 2026, Panitia Targetkan 50 Tim Bertanding

    Komisioner Bawaslu Kepri Paparkan Temuan Pelanggaran Politik Uang dan Netralitas ASN di Pilkada 2024

    Komisioner Bawaslu Kepri Paparkan Temuan Pelanggaran Politik Uang dan Netralitas ASN di Pilkada 2024

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

Kartini dan Pemberdayaan Perempuan di Perbatasan

Oleh: Dr. H. Amirudin, MPA

Ranai Pos by Ranai Pos
21/04/2026 9:40 AM
in Opini
0
Negara Sibuk Memberi Makan Anak, Tapi Lupa Mendidik
0
SHARES
8
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ada sesuatu yang selalu terasa jauh ketika kita menyebut nama Raden Ajeng Kartini. Jauh—bukan karena waktu yang telah memisahkan lebih dari seabad, tapi karena kita sering memindahkannya ke tempat yang terlalu terang: ruang-ruang pidato, baliho, dan seremoni. Kartini menjadi simbol. Dan seperti banyak simbol, ia kerap kehilangan tubuhnya.
Padahal ia pernah begitu konkret: seorang perempuan muda di Jepara, gelisah, menulis, meragukan, berharap.
Di perbatasan—di Natuna, di Anambas, di pulau-pulau yang lebih sering muncul dalam peta militer ketimbang peta pendidikan—Kartini terasa lain. Ia tidak hadir dalam kebaya dan kutipan surat. Ia hadir dalam diam seorang ibu yang mengantar anaknya ke sekolah dengan perahu kecil, melawan ombak yang tak pernah diajarkan dalam buku Pendidikan Kewarganegaraan.

Kartini, di sana, bukan ide. Ia adalah kerja.

Barangkali kita perlu bertanya ulang: apa arti “pemberdayaan” ketika negara sendiri hadir setengah? Ketika listrik padam lebih sering daripada menyala, ketika sinyal datang seperti tamu yang ragu-ragu, ketika guru lebih cepat berpindah daripada murid naik kelas.
Pemberdayaan, kata itu, sering terdengar seperti proyek. Ia punya proposal, indikator, dan laporan akhir. Tapi perempuan di perbatasan tidak hidup dalam laporan. Mereka hidup dalam ketidakpastian yang panjang—dan di situlah mereka menemukan bentuk daya yang tidak pernah masuk tabel evaluasi.
Mereka berdagang, menanam, mengajar, merawat. Mereka tidak menyebutnya “empowerment”. Mereka menyebutnya hidup.

Kartini pernah menulis tentang “terang”. Tapi terang yang ia bayangkan mungkin berbeda dengan terang yang kita bicarakan hari ini. Terang bagi Kartini adalah pembebasan dari gelapnya pikiran yang dibatasi. Terang bagi perempuan perbatasan hari ini adalah sesuatu yang lebih harfiah: lampu yang menyala di malam hari, buku yang bisa dibaca tanpa harus menunggu kiriman berbulan-bulan.

Baca Juga

Tiga Wajah Kerugian dalam Perang Iran–Israel: Antara Luka, Biaya, dan Ketahanan

Ketahui Ragam Jenis Sertipikat Tanah dan Perbedaannya

Namun di balik perbedaan itu, ada satu garis yang tak terputus: keinginan untuk menjadi subjek, bukan sekadar objek.
Di titik ini, Kartini bertemu perempuan perbatasan.

Kita sering mengira perubahan datang dari pusat. Dari Jakarta, dari kebijakan, dari pidato pejabat. Tapi seperti banyak hal dalam sejarah, perubahan justru sering tumbuh dari pinggir—dari tempat yang tidak diperhitungkan.

Perempuan di perbatasan adalah pinggir itu.

Mereka bukan hanya “korban ketertinggalan”. Mereka adalah agen yang diam-diam merawat keberlanjutan republik. Mereka menjaga bahasa, nilai, dan bahkan nasionalisme—bukan dalam slogan, tapi dalam praktik sehari-hari. Mereka memastikan anak-anak mereka tetap merasa Indonesia, meski Indonesia sering terasa jauh.

Di sini, pemberdayaan bukan lagi soal memberi. Ia soal mengakui.
Mungkin kita terlalu lama berbicara tentang Kartini sebagai masa lalu. Padahal ia belum selesai. Ia belum selesai karena pertanyaan yang ia ajukan belum benar-benar kita jawab: tentang pendidikan, tentang kebebasan berpikir, tentang keadilan bagi perempuan.
Di perbatasan, pertanyaan itu bahkan lebih mendesak.

Dan mungkin, jika Kartini masih menulis hari ini, ia tidak lagi berkirim surat ke sahabat di Eropa. Ia akan menulis dari pulau kecil yang jauh dari pusat kuasa. Ia akan menulis tentang perempuan-perempuan yang tidak pernah masuk buku sejarah, tapi diam-diam menopang sejarah itu sendiri.

Pada akhirnya, Kartini bukanlah monumen. Ia adalah kemungkinan.
Kemungkinan bahwa perempuan, di mana pun—di kota atau di perbatasan—dapat menjadi penentu arah hidupnya sendiri. Kemungkinan bahwa terang tidak selalu datang dari atas, tapi bisa dinyalakan dari bawah, dari pinggir, dari tempat yang selama ini kita abaikan.
Dan mungkin, di sanalah Kartini justru paling hidup.***

Komentar

Berita Terkini

Perang Lawan Halinar, Lapas Narkotika Tanjungpinang Gelar Ikrar Komitmen di Hari Bakti ke-62

Perang Lawan Halinar, Lapas Narkotika Tanjungpinang Gelar Ikrar Komitmen di Hari Bakti ke-62

4 menit lalu

Calon Tunggal di Musda Golkar Kepri, Sarmuji: Aklamasi Sah Sesuai Aturan

Pemdes Rewak Salurkan BLT-DD April 2026 Secara Door to Door

Kartini dan Pemberdayaan Perempuan di Perbatasan

Dugaan Pengancaman Terhadap Insan Pers Di Karimun Berujung Damai, TW Mengkonsumsi Obat dari Dokter Spesialis Kejiwaan.

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In