No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
Kamis, 5 November 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Tak Lagi Harus ke Jakarta? Kepri Perkuat Layanan Bedah Jantung, Dua Pasien Jalani Operasi di RSUD RAT

    Tak Lagi Harus ke Jakarta? Kepri Perkuat Layanan Bedah Jantung, Dua Pasien Jalani Operasi di RSUD RAT

    Foto dokumentasi narasumber, buah kepayang yang berasal dari pulau Jemaja

    Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Tak Lagi Harus ke Jakarta? Kepri Perkuat Layanan Bedah Jantung, Dua Pasien Jalani Operasi di RSUD RAT

    Tak Lagi Harus ke Jakarta? Kepri Perkuat Layanan Bedah Jantung, Dua Pasien Jalani Operasi di RSUD RAT

    Foto dokumentasi narasumber, buah kepayang yang berasal dari pulau Jemaja

    Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

Ironi Natuna: Penghasil Gas Terbesar, Pembeli Gas Termahal

Oleh: Dr. H. Amirudin, MPA

rapi by rapi
29/05/2026 12:53 PM
in Berita, Opini
0
Photo ; rapi_redaksi_ranaipos.com

Photo ; rapi_redaksi_ranaipos.com

0
SHARES
89
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Di republik ini, mungkin tidak banyak daerah yang mengalami ironi sekuat Natuna. Di bawah lautnya tersimpan kekayaan migas bernilai puluhan triliun rupiah per tahun. Gas bumi dan minyak mengalir dari perairannya untuk menopang energi nasional, bahkan sebagian diekspor ke luar negeri. Namun di dapur-dapur rumah masyarakat Natuna, harga gas elpiji justru terasa paling mahal.

Paradoks itu sesungguhnya terlalu telanjang untuk disembunyikan.
Berdasarkan estimasi produksi migas beberapa tahun terakhir, produksi gas Natuna berada pada kisaran 500–550 MMSCFD (million standard cubic feet per day). Dengan asumsi harga gas internasional sekitar US$8 per MMBTU dan kurs Rp16.000 per dolar AS, nilai ekonomi gas Natuna diperkirakan mencapai sekitar Rp23–25 triliun per tahun. Jika harga gas meningkat, nilainya bahkan dapat menembus lebih dari Rp30 triliun per tahun.

Angka itu belum termasuk produksi minyak bumi dan kondensat. Dalam beberapa tahun terakhir, produksi minyak Natuna diperkirakan berada pada kisaran 20–25 ribu barel per hari dan berpotensi meningkat hingga 40 ribu barel per hari setelah pengembangan lapangan baru seperti Forel dan Terubuk.

Dengan asumsi harga minyak dunia sekitar US$75 per barel, nilai ekonomi minyak Natuna diperkirakan mencapai Rp10–17 triliun per tahun. Jika harga minyak naik lebih tinggi, nilainya dapat mendekati Rp20 triliun per tahun.
Artinya, secara keseluruhan, nilai ekonomi migas Natuna berpotensi mencapai sekitar Rp30–58 triliun per tahun.

Baca Juga

Belajar Membaca Laut Sejak Dini: Pelajar Anambas Dibekali Ilmu Keselamatan

Model Transformasi Manajemen Talenta Aparatur Sipil Negara Berbasis Profiling ASN (ProASN): Peran Person–Job Fit dan Organizational Agility dalam Meningkatkan Kinerja Organisasi Publik

Angka sebesar itu tentu bukan angka kecil. Ia setara beberapa kali APBD Provinsi Kepulauan Riau. Bahkan mendekati anggaran tahunan sejumlah kementerian besar di Jakarta.

Namun pertanyaannya sederhana: sejauh mana rakyat Natuna menikmati nilai ekonomi raksasa itu?

Pertanyaan tersebut penting karena realitas yang dirasakan masyarakat justru berbeda. Harga LPG di Natuna tetap tinggi. Kuota subsidi terbatas. Biaya logistik mahal. Harga kebutuhan pokok ikut terdorong naik. Dalam kehidupan sehari-hari, rakyat tidak merasakan dirinya tinggal di daerah yang menopang energi nasional bernilai puluhan triliun rupiah.

Inilah yang dalam literatur pembangunan disebut sebagai resource paradox: daerah kaya sumber daya tetapi masyarakatnya belum menikmati kesejahteraan secara proporsional.
Kita tentu tidak boleh melihat persoalan ini semata sebagai soal angka ekonomi.

Ada persoalan moral dan keadilan yang lebih besar di baliknya. Sebab masyarakat Natuna bukan hanya masyarakat biasa. Mereka adalah warga yang hidup di wilayah terdepan Indonesia, menjaga perbatasan, sekaligus menjadi bagian dari sistem energi nasional.

Sayangnya, selama ini pembangunan Natuna lebih banyak dipandang dari perspektif geopolitik dan pertahanan. Negara sibuk membicarakan kapal asing, laut strategis, dan kedaulatan maritim. Tetapi sering lupa bahwa perbatasan juga dihuni manusia yang membutuhkan kesejahteraan dan rasa keadilan.

Padahal nasionalisme tidak hanya dijaga dengan kapal perang dan radar militer. Nasionalisme juga dijaga oleh rasa bahwa negara hadir secara adil dalam kehidupan rakyatnya.

Karena itu, sudah saatnya pemerintah memikirkan kebijakan afirmatif bagi wilayah perbatasan penghasil energi seperti Natuna. Bentuknya dapat berupa LPG satu harga, subsidi logistik energi kepulauan, tambahan Dana Bagi Hasil yang lebih proporsional, pembangunan depo energi, hingga hilirisasi industri migas di daerah.

Natuna tidak meminta kemewahan. Masyarakat hanya berharap memperoleh perlakuan yang masuk akal: daerah yang menopang energi nasional semestinya tidak menjadi tempat rakyat membeli energi dengan harga paling mahal.

Pasal 33 UUD 1945 secara jelas menyatakan bahwa kekayaan alam dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Persoalannya, ketika rakyat di daerah penghasil masih kesulitan memperoleh energi murah, maka pertanyaan yang muncul bukan lagi soal produksi migas, melainkan soal keadilan negara.

Dan bangsa yang besar pada akhirnya tidak diukur dari seberapa besar sumber daya yang dimilikinya, tetapi dari seberapa adil negara membagikan manfaat sumber daya itu kepada rakyat yang hidup di tanah penghasilnya.***

Komentar

Berita Terkini

Belajar Membaca Laut Sejak Dini: Pelajar Anambas Dibekali Ilmu Keselamatan

Belajar Membaca Laut Sejak Dini: Pelajar Anambas Dibekali Ilmu Keselamatan

4 jam lalu

Model Transformasi Manajemen Talenta Aparatur Sipil Negara Berbasis Profiling ASN (ProASN): Peran Person–Job Fit dan Organizational Agility dalam Meningkatkan Kinerja Organisasi Publik

Atasi Krisis Air Saat Kemarau, Pangdam XXV/SMR Tinjau Sumur Bor Bantuan TNI AD di Batu Hitam

Kunjungi Batalyon Komposit 1/Gardapati, Pangdam XXV/SMR Apresiasi Prajurit Jaga Natuna

Pemdes Mampok Salurkan BLT Dana Desa dengan Sistem Door to Door, Enam Warga Terima Bantua

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In