No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
Selasa, 6 Oktober 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Foto dokumentasi narasumber, buah kepayang yang berasal dari pulau Jemaja

    Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Camat Jemaja Mudahir saat Akan memasuki Lapangan Upacara

    Camat Jemaja Bacakan Sambutan Ketua Kwarnas pada HUT Pramuka ke-65

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Foto dokumentasi narasumber, buah kepayang yang berasal dari pulau Jemaja

    Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Camat Jemaja Mudahir saat Akan memasuki Lapangan Upacara

    Camat Jemaja Bacakan Sambutan Ketua Kwarnas pada HUT Pramuka ke-65

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

Dengan Hadirnya AI, Semua Hayalan Jadi Seolah-olah Nyata

Oleh: Dr. H. Amirudin, MPA

Ranai Pos by Ranai Pos
06/10/2026 5:41 PM
in Berita, Opini
0
Photo animasi AI Dr. H. Amirudin, MPA

Photo animasi AI Dr. H. Amirudin, MPA

0
SHARES
8
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Dulu, hayalan adalah tempat persembunyian.

Ia tinggal di kepala, di antara kesunyian dan kenyataan. Seorang anak dapat membayangkan dirinya terbang ke bulan. Seorang guru dapat membayangkan sekolah tanpa dinding. Seorang petani dapat membayangkan sawahnya menjadi hamparan hijau tanpa hama. Seorang penulis dapat membangun sebuah kota yang bahkan belum pernah ada.

Semua itu hanya hayalan.

Dan karena hanya hayalan, ia tidak perlu dibuktikan.

Baca Juga

Jadi Pembina Upacara di SMAN 4 Karimun, Kukuh Arjunanto: Patah Hati Terbesar Bukan karena Pacar, tapi Gagal Bahagiakan Orang Tua

HUT ke-81 TNI, Wamen ATR/BPN Ossy Soroti Pengabdian dan Kekuatan TNI Bersama Rakyat

Kini keadaan berubah.

Kita mempunyai kecerdasan buatan—artificial intelligence, AI—yang mampu mengeluarkan hayalan dari kepala manusia dan memberinya bentuk. Kita cukup menuliskan beberapa kalimat: “Buat saya sedang terbang ke bulan.” Beberapa saat kemudian, sebuah gambar muncul. Kita terlihat berada di dalam pesawat ruang angkasa. Bulan ada di depan mata. Bumi tampak dari kejauhan.

Kita tahu itu tidak pernah terjadi.

Tetapi mata kita melihatnya.

Di situlah zaman baru itu dimulai.

Dengan hadirnya AI, semua hayalan bisa menjadi seolah-olah nyata.

Bukan nyata dalam arti sungguh-sungguh terjadi. Tetapi nyata dalam arti dapat dilihat, didengar, dibaca, bahkan dipercakapkan.

Dan justru kata seolah-olah itulah yang akan menjadi kata penting dalam kehidupan manusia pada masa depan.

Dahulu, untuk membuat seseorang tampak berdiri di bulan, diperlukan seorang fotografer, studio, kostum astronaut, latar belakang, perangkat penyuntingan dan keterampilan khusus.

Sekarang cukup sebuah kalimat.

Kita dapat menjadi astronaut, presiden, tentara, nelayan, profesor, pemain sepak bola, atau tokoh dalam sejarah.

Kita dapat berada di Paris tanpa pernah terbang ke Paris. Berpidato di depan jutaan orang tanpa pernah naik ke podium. Berada di tengah perang tanpa pernah mendengar suara peluru. Berjalan di Mars tanpa pernah meninggalkan bumi.

AI membuat imajinasi mempunyai tubuh.

Inilah salah satu revolusi terbesar dalam sejarah teknologi.

Mesin-mesin sebelumnya membantu manusia mengerjakan sesuatu yang sudah nyata. Mobil membantu manusia berpindah. Mesin cetak membantu manusia menggandakan tulisan. Kamera membantu manusia menangkap kenyataan. Komputer membantu manusia menghitung.

AI melakukan sesuatu yang agak berbeda.

Ia membantu manusia menciptakan sesuatu yang belum ada dan membuatnya tampak seperti sudah ada.

Batas antara kemungkinan dan kenyataan menjadi semakin tipis.

Tetapi manusia mempunyai kelemahan yang sangat tua: kita mudah percaya kepada apa yang kita lihat.

Selama berabad-abad, gambar dianggap sebagai saksi.

Foto adalah bukti.

Video adalah bukti yang lebih kuat.

Ketika seseorang berkata, “Saya tidak percaya,” kita menjawab, “Lihat fotonya.”

Tetapi zaman AI mengubah hubungan itu.

Foto bisa dibuat.

Video bisa direkayasa.

Suara bisa ditiru.

Wajah bisa dipindahkan.

Gerak tubuh bisa disimulasikan.

Seseorang dapat dibuat mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia katakan.

Di sinilah teknologi memasuki wilayah yang jauh lebih serius daripada sekadar permainan.

Ia memasuki wilayah kebenaran.

Jika sebuah video memperlihatkan seorang pejabat mengucapkan sebuah pernyataan, apakah kita masih dapat langsung mempercayainya?

Jika seorang tokoh agama terlihat menyampaikan ceramah tertentu, apakah itu benar-benar pernah terjadi?

Jika seorang calon pemimpin terlihat menerima uang, apakah kita yakin peristiwa itu benar?

Jika seseorang mengirim rekaman suara dengan suara yang sangat mirip dengan suara ayah, ibu, pasangan, atau teman kita, apakah kita langsung percaya?

Jawabannya semakin tidak sederhana.

Di zaman AI, melihat belum tentu mengetahui.

Mendengar belum tentu mengalami.

Dan gambar belum tentu kenyataan.

Ada paradoks besar di sini.

AI membuat produksi informasi semakin murah, tetapi membuat verifikasi informasi semakin mahal.

Dulu orang yang ingin membuat kebohongan besar membutuhkan organisasi.

Sekarang seseorang dengan telepon genggam dapat melakukannya.

Dulu propaganda membutuhkan mesin media.

Sekarang sebuah konten yang dibuat dalam beberapa menit dapat menyebar ke jutaan orang melalui media sosial.

Dulu sebuah foto palsu mungkin mudah dikenali karena kualitasnya buruk.

Sekarang hasil rekayasa dapat semakin halus.

Karena itu, persoalan kita di masa depan bukan lagi sekadar information overload—kelebihan informasi.

Kita menghadapi sesuatu yang lebih berbahaya:

kelebihan kenyataan palsu.

Kita mungkin hidup di tengah begitu banyak gambar, video, suara dan tulisan sehingga akhirnya tidak tahu mana yang harus dipercaya.

Dan ketika masyarakat kehilangan kemampuan membedakan fakta dari rekayasa, demokrasi pun menjadi rapuh.

Tetapi jangan buru-buru menyalahkan AI.

AI hanyalah alat.

Sebuah pisau dapat digunakan untuk memasak atau melukai. Internet dapat digunakan untuk belajar atau menipu. Kamera dapat digunakan untuk mendokumentasikan sejarah atau memanipulasi persepsi.

Persoalannya bukan semata-mata pada alat.

Persoalannya ada pada manusia yang menggunakannya.

AI dapat menghasilkan seribu kemungkinan. Manusia harus memilih mana yang layak.

AI dapat menulis seratus halaman. Manusia harus menentukan apakah isinya benar.

AI dapat membuat gambar yang indah. Manusia harus memutuskan apakah gambar itu menggambarkan kenyataan atau hanya imajinasi.

Karena itu, semakin canggih AI, semakin penting manusia mempunyai akal sehat, etika dan kemampuan verifikasi.

Ironisnya, ketika mesin menjadi semakin pintar, manusia justru harus semakin bijaksana.

Ada persoalan lain yang lebih dalam.

AI bukan hanya mengubah cara kita memproduksi informasi. Ia juga dapat mengubah cara kita berimajinasi.

Dulu seorang anak membaca cerita tentang kapal.

Ia membayangkan kapal itu sendiri.

Dalam pikirannya, kapal tersebut mungkin berwarna putih, besar, tua, atau justru sangat futuristik.

Setiap pembaca mempunyai kapal yang berbeda dalam kepalanya.

Sekarang kita dapat meminta AI menggambarkan kapal itu.

Gambarnya muncul.

Indah.

Lengkap.

Seketika.

Kemudahan itu tentu mengagumkan. Tetapi ia menyimpan pertanyaan:

Apakah ketika AI semakin mudah menggambarkan sesuatu, manusia masih akan bersedia membayangkannya sendiri?

Ini bukan pertanyaan kecil.

Sebab imajinasi bukan sekadar kemampuan melihat gambar yang belum ada. Imajinasi adalah kemampuan mental untuk menghubungkan sesuatu yang belum terhubung.

Dari sanalah kreativitas lahir.

Einstein pernah membayangkan perjalanan dengan kecepatan cahaya. Para ilmuwan membayangkan manusia meninggalkan bumi. Para pendiri bangsa membayangkan Indonesia yang merdeka ketika kemerdekaan itu belum ada.

Semua perubahan besar pada awalnya adalah hayalan seseorang.

Maka kita tidak boleh membiarkan AI mengambil alih seluruh pekerjaan imajinasi manusia.

AI seharusnya menjadi perpanjangan tangan imajinasi, bukan pengganti imajinasi.

Di sekolah, persoalan ini akan menjadi semakin penting.

Selama ini pendidikan mengajarkan anak membaca, menulis, menghitung, mencari informasi dan menghafal pengetahuan.

Sekarang semua itu sedang berubah.

AI dapat menjawab pertanyaan.

AI dapat membuat ringkasan.

AI dapat menerjemahkan.

AI dapat menulis esai.

AI dapat membuat presentasi.

AI bahkan dapat menjelaskan pelajaran dengan berbagai gaya.

Lalu apa yang harus diajarkan guru?

Jawabannya bukan berhenti mengajar.

Justru sebaliknya.

Guru harus mengajarkan hal-hal yang semakin sulit dilakukan mesin: menilai, mempertanyakan, memahami konteks, membangun karakter dan menemukan makna.

Anak harus belajar bahwa jawaban AI bukan kitab suci.

Ia dapat benar.

Ia dapat salah.

Ia dapat meyakinkan tetapi keliru.

Ia dapat terdengar cerdas tetapi tidak mempunyai pengalaman.

Karena itu, pendidikan AI tidak boleh berhenti pada kemampuan membuat prompt.

Anak harus belajar verify before trust.

Periksa sebelum percaya.

Mungkin itulah salah satu kompetensi paling penting dalam pendidikan abad ke-21.

Di bidang agama, persoalan ini bahkan lebih sensitif.

Bayangkan sebuah video yang memperlihatkan seorang ulama terkenal memberikan ceramah tentang suatu hukum agama.

Video itu tampak sangat meyakinkan.

Suara benar.

Wajah benar.

Gerakan bibir benar.

Tetapi ternyata tidak pernah terjadi.

Apa akibatnya?

Bukan hanya kesalahan informasi.

Ia dapat memengaruhi keyakinan dan perilaku orang.

Karena itu, di era AI kita membutuhkan kembali tradisi lama yang sebenarnya sudah diajarkan agama: tabayyun.

Jangan langsung percaya.

Periksa sumbernya.

Periksa siapa yang menyampaikan.

Periksa konteksnya.

Periksa apakah benar orang tersebut pernah mengatakan hal itu.

Teknologi modern justru membuat nilai lama itu semakin relevan.

Politik juga akan menghadapi ujian yang berat.

Kita dapat membayangkan sebuah masa ketika menjelang pemilu beredar video calon tertentu yang seolah-olah mengatakan sesuatu yang kontroversial.

Video itu viral.

Orang marah.

Media sosial ramai.

Klarifikasi datang terlambat.

Pemilu berlangsung.

Beberapa hari kemudian baru diketahui bahwa video tersebut palsu.

Tetapi kebohongan sudah menjalankan tugasnya.

Inilah persoalan besar deepfake.

Kebenaran membutuhkan waktu untuk diperiksa.

Kebohongan hanya membutuhkan waktu untuk menyebar.

Karena itu, masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang tidak mempunyai teknologi.

Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mempunyai budaya verifikasi.

Namun saya tidak ingin melihat AI hanya dari sisi ketakutannya.

Sebab di balik semua kecemasan itu terdapat peluang yang luar biasa.

Seorang guru yang dahulu kesulitan membuat bahan ajar kini dapat mengembangkan materi dalam hitungan menit.

Seorang penulis yang mempunyai gagasan tetapi kesulitan menyusun struktur dapat memperoleh bantuan.

Seorang mahasiswa di daerah terpencil dapat berdiskusi dengan AI kapan saja.

Seorang pelaku usaha kecil dapat membuat materi promosi.

Seorang seniman dapat mengeksplorasi bentuk baru.

Seorang peneliti dapat mengolah gagasan yang kompleks menjadi lebih mudah dipahami.

AI dapat mendemokratisasi kemampuan kreatif.

Dahulu kemampuan menciptakan gambar, film, musik atau buku membutuhkan modal besar.

Kini pintunya terbuka lebih lebar.

Itu kabar baik.

Tetapi justru karena pintunya terbuka bagi semua orang, tanggung jawabnya juga harus terbuka bagi semua orang.

Kita akhirnya sampai pada pertanyaan yang lebih filosofis:

Apa yang masih menjadi milik manusia ketika mesin semakin mampu menciptakan sesuatu?

Barangkali jawabannya bukan lagi kemampuan menghasilkan.

Sebab mesin sudah mampu menghasilkan banyak hal.

Yang akan menjadi semakin berharga adalah kemampuan menentukan tujuan.

AI dapat membuat gambar saya sedang berdiri di bulan.

Tetapi AI tidak tahu mengapa saya ingin berada di sana.

Manusialah yang mempunyai alasan.

AI dapat membuat sebuah buku.

Tetapi manusialah yang mempunyai kegelisahan yang ingin disampaikan melalui buku itu.

AI dapat membuat pidato.

Tetapi manusia yang harus bertanggung jawab terhadap kata-kata yang diucapkannya.

AI dapat membantu perjalanan.

Tetapi manusia harus menentukan ke mana perjalanan itu menuju.

Human defines the goal. AI assists the journey.

Mungkin inilah prinsip yang harus kita pegang.

Pada akhirnya, kita sedang memasuki zaman ketika kenyataan tidak lagi menjadi satu-satunya bahan baku kehidupan.

Ada kenyataan yang terjadi.

Ada kenyataan yang direkam.

Ada kenyataan yang diedit.

Dan sekarang ada kenyataan yang diciptakan secara sintetis.

Semuanya dapat terlihat hampir sama.

Karena itu, manusia masa depan membutuhkan semacam indera keenam: kemampuan untuk meragukan sesuatu secara sehat.

Bukan menjadi manusia yang selalu curiga.

Tetapi menjadi manusia yang tidak mudah percaya.

Kita harus mampu mengatakan:

“Bagus, tetapi apakah benar?”

“Keren, tetapi sumbernya dari mana?”

“Video itu meyakinkan, tetapi apakah peristiwanya benar-benar terjadi?”

“AI mengatakan demikian, tetapi apa buktinya?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu mungkin akan menjadi benteng terakhir manusia.

Sebab kita sedang memasuki zaman ketika hampir semua hayalan dapat diberi wajah, suara dan tubuh.

Kita dapat membuat diri kita terbang ke bulan.

Tetapi gambar itu tidak berarti kita pernah sampai ke sana.

Kita dapat membuat kota masa depan.

Tetapi kota itu belum tentu pernah dibangun.

Kita dapat membuat seorang tokoh mengatakan sesuatu.

Tetapi belum tentu ia pernah mengatakannya.

AI dapat membuat yang tidak pernah terjadi tampak seperti pernah terjadi.

Di situlah kita harus berhati-hati.

Sebab masa depan bukan hanya tentang bagaimana manusia menggunakan kecerdasan buatan.

Masa depan juga tentang bagaimana manusia mempertahankan kecerdasan manusiawinya.

Dan mungkin, ketika suatu hari nanti mesin sudah mampu membuat hampir semua hayalan menjadi seolah-olah nyata, kemampuan paling mahal justru bukan kemampuan membuat.

Melainkan kemampuan membedakan.

Membedakan antara fakta dan fiksi.

Antara bukti dan manipulasi.

Antara kemungkinan dan kenyataan.

Antara apa yang ingin kita percaya dan apa yang benar-benar terjadi.

Karena pada akhirnya, AI boleh membantu kita membangun dunia yang kita bayangkan.

Tetapi hanya manusia yang harus memastikan bahwa dunia itu tidak kehilangan kebenaran.

Sebab ketika semua hayalan dapat menjadi seolah-olah nyata, kebenaran tidak boleh ikut menjadi sekadar hayalan.***

Komentar

Berita Terkini

Jadi Pembina Upacara di SMAN 4 Karimun, Kukuh Arjunanto: Patah Hati Terbesar Bukan karena Pacar, tapi Gagal Bahagiakan Orang Tua

Jadi Pembina Upacara di SMAN 4 Karimun, Kukuh Arjunanto: Patah Hati Terbesar Bukan karena Pacar, tapi Gagal Bahagiakan Orang Tua

10 menit lalu

Dengan Hadirnya AI, Semua Hayalan Jadi Seolah-olah Nyata

HUT ke-81 TNI, Wamen ATR/BPN Ossy Soroti Pengabdian dan Kekuatan TNI Bersama Rakyat

Pengukuran Tanah Kini Lebih Pasti, Warga Bengkulu Rasakan Layanan Makin Cepat

Natuna Garda Terdepan, Mengapa Rakyat Masih Terpinggirkan?

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In