No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
Senin, 17 Agustus 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Camat Jemaja Mudahir saat Akan memasuki Lapangan Upacara

    Camat Jemaja Bacakan Sambutan Ketua Kwarnas pada HUT Pramuka ke-65

    Jelang HUT RI, Lanal Tarempa Gelar Bakti Sosial

    Jelang HUT RI, Lanal Tarempa Gelar Bakti Sosial

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Camat Jemaja Mudahir saat Akan memasuki Lapangan Upacara

    Camat Jemaja Bacakan Sambutan Ketua Kwarnas pada HUT Pramuka ke-65

    Jelang HUT RI, Lanal Tarempa Gelar Bakti Sosial

    Jelang HUT RI, Lanal Tarempa Gelar Bakti Sosial

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

Merdeka dari Siapa dan untuk Apa?

Oleh: Dr. H. Amirudin, MPA

Ranai Pos by Ranai Pos
17/08/2026 6:08 PM
in Berita, Opini
0
Merdeka dari Siapa dan untuk Apa?
0
SHARES
14
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Setiap Agustus, bendera berkibar. Merah di atas, putih di bawah. Anak-anak berlari di lapangan, orang dewasa mengenang sebuah pagi ketika sebuah bangsa memutuskan bahwa ia tidak lagi akan diperintah oleh bangsa lain.

Tetapi sejarah selalu menyisakan pertanyaan yang tak ikut diarak dalam pawai.

Merdeka dari siapa?

Pertanyaan itu tampak sederhana. Kita segera menjawab: dari penjajah. Dari kolonialisme. Dari kekuasaan asing. Jawaban itu benar. Tetapi sejarah jarang selesai hanya dengan jawaban yang benar.

Baca Juga

HUT ke-81 Republik Indonesia, Kementerian ATR/BPN Luncurkan Tiga Program Transformasi Pelayanan

Remisi di HUT ke-81 RI, Bupati Iskandarsyah Serahkan Secara Simbolis

Sebab setelah sebuah bangsa merdeka, musuh sering berpindah alamat.

Ia tidak lagi datang dengan kapal perang. Ia masuk melalui ketakutan. Ia tinggal dalam keserakahan. Ia menyamar sebagai kekuasaan yang lupa bahwa dirinya hanya titipan.

Mungkin manusia memang selalu membutuhkan sesuatu untuk dilawan. Ketika penjajah pergi, kita menemukan musuh baru: diri sendiri.

Kesombongan yang merasa paling benar. Fanatisme yang menolak mendengar. Nafsu menguasai yang lebih rakus daripada keinginan untuk melayani.

Kemerdekaan ternyata bukan hanya soal mengusir orang lain. Ia adalah pekerjaan yang lebih sunyi: mengalahkan diri sendiri.

Para filsuf telah lama mengingatkan bahwa manusia bisa hidup di negeri yang bebas tetapi tetap menjadi budak. Budak uang. Budak pujian. Budak amarah. Budak kebencian.

Dan barangkali itulah bentuk penjajahan yang paling sulit diakhiri.

Karena ia tidak tampak.

Ia hidup di dalam dada.

Kita sering merayakan kemerdekaan sebagai peristiwa. Padahal ia lebih menyerupai proses. Sebuah bangsa tidak selesai menjadi merdeka pada hari proklamasi. Ia harus terus-menerus memerdekakan dirinya dari korupsi, dari kebodohan, dari kemiskinan, dari ketidakadilan, bahkan dari rasa puas yang terlalu cepat.

Sebab kemerdekaan bukan tujuan akhir.

Ia hanya pintu.

Pertanyaan berikutnya lebih penting.

Untuk apa kita merdeka?

Apakah agar sebagian kecil dapat hidup berlimpah sementara sebagian besar hanya menjadi penonton? Apakah agar kekuasaan berganti tangan tetapi wataknya tetap sama? Ataukah agar setiap manusia memiliki kesempatan untuk hidup bermartabat?

Mungkin jawaban itu tidak pernah selesai.

Setiap generasi harus menuliskannya kembali.

Dengan sekolah yang lebih baik.

Dengan pengadilan yang lebih adil.

Dengan pemimpin yang lebih jujur.

Dengan warga yang tidak hanya pandai menuntut hak, tetapi juga bersedia memikul tanggung jawab.

Sebab kemerdekaan tidak lahir dari teriakan semata. Ia bertahan oleh kedewasaan.

Dan mungkin, pada akhirnya, sebuah bangsa benar-benar merdeka bukan ketika tak ada lagi penjajah di pelabuhan, melainkan ketika tidak ada lagi rasa takut untuk berkata benar, tidak ada lagi kelaparan yang dipelihara, dan tidak ada lagi manusia yang diperlakukan lebih rendah hanya karena ia lemah.

Di sanalah bendera memperoleh maknanya.

Bukan pada kain yang berkibar.

Melainkan pada hati yang tak lagi bersedia diperbudak—oleh siapa pun, bahkan oleh dirinya sendiri.***

Komentar

Berita Terkini

Ribuan Warga Saksikan Penurunan Sang Merah Putih, Wabup Deby Pimpin Upacara HUT RI ke-81 di Kijang

Ribuan Warga Saksikan Penurunan Sang Merah Putih, Wabup Deby Pimpin Upacara HUT RI ke-81 di Kijang

9 menit lalu

Merdeka Sehat, Bupati Bintan Launching PETA CKG MERDEKA

Merdeka dari Siapa dan untuk Apa?

HUT ke-81 Republik Indonesia, Kementerian ATR/BPN Luncurkan Tiga Program Transformasi Pelayanan

Remisi di HUT ke-81 RI, Bupati Iskandarsyah Serahkan Secara Simbolis

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In