Ada sebuah bola. Bundar. Ia tak mengenal ideologi. Tak berpihak pada agama. Tak bertanya warna kulit. Ia hanya bergulir.
Tapi manusia, ketika mengejarnya, membawa semuanya.
Piala Dunia selalu tampak sebagai pertandingan sebelas melawan sebelas. Padahal, yang berlari sesungguhnya adalah sejarah. Ada kolonialisme yang belum selesai. Ada harga diri bangsa yang pernah diinjak. Ada mimpi anak-anak dari gang sempit yang percaya rumput hijau bisa menghapus batas paspor.
Dan jutaan orang, yang bahkan tak mengenal aturan offside, mendadak menjadi ahli strategi.
Mengapa?
Mungkin karena sepak bola adalah satu-satunya panggung tempat kita masih percaya bahwa keajaiban boleh terjadi. Tim kecil mengalahkan raksasa. Penjaga gawang menjadi pahlawan. Sebuah tendangan pada menit terakhir dapat mengubah nasib jutaan orang yang tak pernah menyentuh bola itu.
Di situlah kita bercermin.
Selama sembilan puluh menit, dunia seperti menyusut. Presiden, buruh, profesor, sopir taksi, pedagang gorengan—semuanya menatap layar yang sama. Perbedaan kelas seolah berhenti sejenak.
Lalu peluit akhir berbunyi.
Kita kembali menjadi diri kita.
Yang menang merayakan kemenangan seakan itu miliknya sendiri. Yang kalah mencari kambing hitam. Wasit dianggap konspirator. Pelatih dituduh bodoh. Seorang pemain, yang semalam dielu-elukan, pagi harinya dihujat tanpa ampun.
Betapa cepat cinta berubah menjadi kemarahan.
Bukankah begitu juga wajah masyarakat kita?
Piala Dunia bukan sekadar sepak bola. Ia adalah teater identitas. Orang memakai bendera negara yang bahkan belum pernah ia kunjungi. Menyanyikan lagu kebangsaan yang tak ia hafal. Menangis untuk negeri yang bukan tanah kelahirannya.
Aneh?
Tidak juga.
Barangkali manusia memang selalu membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Karena hidup terlalu sunyi jika hanya diisi oleh “aku”.
Ironisnya, di tengah gegap gempita stadion yang bernilai miliaran dolar, masih ada kampung-kampung yang anak-anaknya bermain tanpa sepatu. Mereka menjadikan dua sandal sebagai tiang gawang. Rumput tak ada. Bola pun kadang hanya gulungan plastik.
Namun dari tempat-tempat semacam itulah harapan sering lahir.
Peradaban, rupanya, tidak selalu tumbuh dari kemewahan.
Piala Dunia juga memperlihatkan hal lain: betapa manusia menyukai simbol. Trofi emas itu hanyalah logam yang dibentuk sedemikian rupa. Nilai materialnya tak seberapa dibandingkan makna yang disematkan kepadanya.
Kita memang makhluk yang hidup dari makna.
Karena itu kita rela begadang. Rela berteriak. Rela menangis.
Padahal besok pagi pekerjaan tetap menunggu.
Dan Indonesia?
Kita selalu menonton dari kejauhan. Bersorak untuk negara lain. Berdebat tentang pemain asing. Menghafal statistik tim yang tak pernah mewakili kita.
Namun mungkin justru di situlah pelajarannya.
Sepak bola bukan hanya soal lolos ke Piala Dunia. Ia juga soal bagaimana membangun disiplin, kepercayaan, kesabaran, dan keberanian menerima kekalahan. Sesuatu yang sering lebih sulit daripada mencetak gol.
Negara yang besar bukan hanya negara yang pandai merayakan kemenangan. Ia juga tahu bagaimana belajar dari kekalahan.
Mungkin, pada akhirnya, Piala Dunia bukan sedang menunjukkan siapa yang paling hebat memainkan bola.
Ia sedang memperlihatkan siapa kita.
Cara kita mencintai. Cara kita membenci. Cara kita memaafkan. Cara kita berharap.
Dan ketika peluit terakhir berbunyi, stadion menjadi sunyi, lampu-lampu dipadamkan, yang tersisa bukan skor di papan pertandingan.
Yang tersisa adalah wajah kita sendiri.
Sebab setiap Piala Dunia, sesungguhnya, bukan hanya tentang sepak bola.
Ia adalah cermin yang diam-diam memantulkan manusia.***





Komentar