Di panggung politik modern, barangkali tak ada tokoh yang lebih berhasil menjadikan politik sebagai pertunjukan selain Donald Trump. Ia bukan sekadar presiden. Ia adalah gejala zaman: zaman ketika kemarahan massa menjadi komoditas, ketika slogan lebih penting daripada argumentasi, dan ketika dunia dipimpin oleh logika rating.
Orang-orang dahulu membayangkan pemimpin dunia lahir dari perpustakaan, medan perang, atau ruang diplomasi. Trump datang dari studio televisi.
Ia tidak berbicara seperti negarawan klasik. Ia berbicara seperti orang yang sedang bertengkar di meja makan keluarga. Kalimatnya pendek. Kasar. Kadang seperti improvisasi tanpa rem. Tetapi justru di situlah kekuatannya: ia berbicara dengan bahasa yang tidak disaring.
Di abad ketika publik muak pada elite, Trump hadir sebagai anti-elite yang kaya raya. Sebuah paradoks yang diterima dengan penuh gairah.
Ia memukul meja diplomasi internasional dengan cara seorang pengusaha memukul meja negosiasi properti. Dunia baginya bukan komunitas moral, melainkan arena transaksi. Kawan adalah mereka yang menguntungkan. Lawan adalah mereka yang membuat neraca perdagangan merah.
Di tangan Trump, politik luar negeri Amerika berubah nada. Aliansi tidak lagi dianggap suci. NATO dipersoalkan. China ditantang. Imigran dijadikan ancaman utama. Bahkan perang dagang diperlakukan seperti pertandingan tinju.
Dan dunia pun berubah ikut tegang.
Kepemimpinan Trump lahir dari sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar konservatisme Amerika. Ia muncul dari ketakutan.
Ketakutan kelas pekerja kulit putih yang merasa ditinggalkan globalisasi. Ketakutan masyarakat kecil yang melihat pabrik-pabrik pindah ke Asia. Ketakutan terhadap perubahan demografi. Ketakutan bahwa “Amerika lama” sedang menghilang.
Trump memahami satu hal yang sering gagal dipahami kaum liberal: manusia tidak hidup dari data statistik saja. Manusia hidup dari rasa cemas, rasa kehilangan, dan nostalgia.
Karena itu slogan “Make America Great Again” bekerja bukan sebagai program ekonomi, tetapi sebagai mantra psikologis. Ia menjanjikan masa lalu yang dianggap lebih aman.
Padahal sejarah jarang berjalan mundur.
Tetapi dunia modern memang sedang bergerak ke arah yang aneh. Demokrasi berubah menjadi teater emosi. Media sosial mengubah kemarahan menjadi energi politik. Algoritma memberi hadiah kepada provokasi.
Trump mengerti mekanisme itu lebih cepat daripada banyak politisi lain.
Ia menyerang wartawan, dan media membalasnya dengan liputan tanpa henti. Ia membuat kontroversi, dan kontroversi itu justru memperbesar pengaruhnya. Dalam ekonomi perhatian, Trump adalah maestro.
Mungkin itu sebabnya banyak orang membencinya, tetapi tidak mampu mengabaikannya.
Namun ada sesuatu yang lebih besar daripada Trump sendiri: dunia yang melahirkannya.
Kemunculan Trump bukan kecelakaan tunggal Amerika. Ia memiliki saudara ideologis di banyak tempat: nasionalisme sempit, populisme keras, kecurigaan terhadap globalisasi, dan kerinduan pada pemimpin kuat.
Di berbagai negara, publik mulai lelah pada demokrasi yang lamban. Mereka ingin pemimpin yang memukul meja. Yang tidak banyak teori. Yang tampak “tegas.”
Tetapi sejarah juga menunjukkan: dunia sering memasuki masa berbahaya ketika ketegasan kehilangan rem moral.
Abad ke-20 pernah menyaksikan bagaimana massa yang frustrasi menyerahkan harapan kepada figur-figur populis. Sebagian membawa kebangkitan. Sebagian lain membawa bencana.
Maka pertanyaan tentang Trump sesungguhnya bukan pertanyaan tentang satu orang. Pertanyaan itu adalah: ke mana arah peradaban modern bergerak?
Apakah dunia akan menuju nasionalisme ekonomi yang saling mencurigai? Apakah demokrasi akan berubah menjadi kompetisi kemarahan? Ataukah manusia akhirnya sadar bahwa bumi terlalu saling terhubung untuk dipimpin hanya dengan slogan kemenangan sepihak?
Trump mungkin akan pergi suatu hari. Semua pemimpin akhirnya pergi. Tetapi gaya politik yang ia lahirkan tampaknya akan tinggal lama: politik yang lebih mengandalkan emosi daripada refleksi; lebih percaya pada identitas daripada argumentasi; lebih menyukai kemenangan cepat daripada percakapan panjang.
Dan barangkali di situlah kegelisahan terbesar zaman ini.
Bahwa dunia kini makin gaduh, tetapi makin sedikit mendengar.***





Komentar