www. Ranaipos.com-Tanjungpinang : Malam penganugerahan RDK Award 2025, ajang bergengsi dalam dunia kepenulisan dan sastra, berlangsung meriah di pelataran Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau. Acara ini dihadiri oleh para cendekiawan, tokoh adat, budayawan, sastrawan, hingga penulis dari berbagai daerah, sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok Rida K Liamsi — tokoh penting dalam dunia literasi dan kebudayaan Melayu, jumat malam (10/10/25).
RDK Award digelar sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Rida K Liamsi dalam mendorong lahirnya generasi penulis baru, khususnya di Kepulauan Riau. Rida, yang dikenal luas lewat karya-karya sejarah dan sastra Melayu, menegaskan pentingnya menjaga bahasa, aksara, dan budaya Melayu melalui tulisan.
“Mudah-mudahan tahun depan semakin banyak peminat, tentunya dengan hadiah yang lebih besar,” ujar Rida K Liamsi dalam sambutannya.
Ia juga mengingatkan bahwa akar bahasa Indonesia berasal dari Pulau Penyengat, dan karena itu, Kepri memiliki tanggung jawab sejarah dalam merawat warisan tersebut.
Gubernur Kepri: RDK Layak Jadi Tokoh Literasi Budaya
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, memberikan apresiasi tinggi kepada Rida K Liamsi dan menyebutnya sebagai sosok yang layak dianugerahi sebagai tokoh literasi budaya dan sastra Kepri.
“Tulisan sejarah itu mungkin singkat, tapi bermakna. Pak Rida selalu berpikir positif dan produktif. Saya sangat mengagumi beliau,” ungkap Gubernur Ansar.
Dalam kesempatan tersebut, Ansar juga mengumumkan rencana pemberian penghargaan literasi pada Festival Budaya Internasional yang akan dihadiri oleh Menteri Kebudayaan. Ia juga mendorong pendirian Museum Bahasa dan Pusat Dokumentasi Karya Sastra sebagai langkah nyata pelestarian literasi Melayu di Kepri.
Raja Ariza: “Menulis adalah Nafas Kita”
Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Raja Ariza, menyampaikan refleksi mendalam mengenai pentingnya menulis sebagai bagian dari identitas dan jati diri Melayu.
“Menulis adalah nafas kita. Seorang penulis tidak akan berhenti menulis selagi nafasnya belum berhenti,” tegas Ariza.
Ia mengusulkan agar Tanjungpinang difokuskan sebagai kota wisata budaya dan literasi, bukan diarahkan menjadi kota industri. Pulau Penyengat, menurutnya, harus kembali dihidupkan sebagai pusat literasi seperti pada masa lalu, saat dikenal sebagai Pulau Ustaz Al-Katibin.
“Kita patut bangga, banyak tokoh dari tanah ini dikenal lewat pena mereka, seperti Raja Haji Fisabilillah, Sultan Mahmud Riayat Syah, dan Raja Ali Haji,” tambahnya.
Kepri Menuju Magnet Budaya Melayu Internasional
Gubernur Ansar menegaskan bahwa budaya dan sastra Melayu harus menjadi identitas utama Kepri di tengah arus globalisasi. Ia mendorong pendekatan digital dalam pengembangan literasi agar lebih mudah diakses oleh generasi muda.
“Literasi budaya harus kita transformasikan ke bentuk kekinian. Kita ingin Kepri jadi magnet budaya yang dikenal secara nasional dan internasional,” ujarnya.
Malam anugerah RDK Award 2025 menjadi simbol semangat kolektif untuk mengangkat kembali kejayaan sastra dan budaya Melayu. Selain sebagai bentuk penghargaan, acara ini juga menjadi pengingat bahwa warisan literasi adalah jembatan penting antar generasi.
“Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Pak Rida. Ini bentuk pengabdian luar biasa bagi pendidikan dan kebudayaan bangsa,” tutup Gubernur Ansar.(dwi)





Komentar