No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
Kamis, 5 November 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Tak Lagi Harus ke Jakarta? Kepri Perkuat Layanan Bedah Jantung, Dua Pasien Jalani Operasi di RSUD RAT

    Tak Lagi Harus ke Jakarta? Kepri Perkuat Layanan Bedah Jantung, Dua Pasien Jalani Operasi di RSUD RAT

    Foto dokumentasi narasumber, buah kepayang yang berasal dari pulau Jemaja

    Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Tak Lagi Harus ke Jakarta? Kepri Perkuat Layanan Bedah Jantung, Dua Pasien Jalani Operasi di RSUD RAT

    Tak Lagi Harus ke Jakarta? Kepri Perkuat Layanan Bedah Jantung, Dua Pasien Jalani Operasi di RSUD RAT

    Foto dokumentasi narasumber, buah kepayang yang berasal dari pulau Jemaja

    Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

Negara yang Takut pada Rakyat Kreatif

Oleh: Dr. H. Amirudin, MPA

rapi by rapi
11/05/2026 12:54 PM
in Berita, Opini
0
Photo animasi redaksi ranaipos.com
0
SHARES
38
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ada sesuatu yang ganjil di negeri ini: kita memuja kata “maju”, tapi sering mencurigai orang yang mencoba melompat lebih dulu.

Di televisi, pejabat berbicara tentang inovasi. Tentang hilirisasi. Tentang bonus demografi. Tentang start-up. Kata-kata itu melayang seperti spanduk besar di jalan protokol—rapi, bercahaya, dan kadang tak menyentuh tanah.

Lalu di sebuah gang sempit, seseorang merakit televisi dari komputer bekas. Ia bukan profesor. Bukan lulusan luar negeri. Ia hanya orang yang mencoba membuat barang murah agar tetangganya bisa menonton siaran tanpa harus membeli TV baru yang mahal. Ia menemukan cara. Cara sederhana, mungkin juga kasar. Tapi begitulah inovasi lahir: dari kebutuhan.

Namun yang datang bukan bantuan modal. Bukan pelatihan. Bukan sertifikasi. Yang datang justru aparat.
Negeri ini kadang aneh. Ia lebih cepat menemukan pasal daripada kemungkinan.

Baca Juga

Bupati Cen Sui Lan Gandeng Kejari Natuna Tertibkan dan Amankan Aset Daerah

Belajar Membaca Laut Sejak Dini: Pelajar Anambas Dibekali Ilmu Keselamatan

Padahal sejarah kemajuan bangsa-bangsa sering dimulai dari bengkel-bengkel kecil yang dianggap liar. Jepang pasca perang dipenuhi tukang-tukang radio rakitan. Amerika melahirkan komputer personal dari garasi. Cina dahulu dipenuhi industri rumahan yang bahkan dianggap “tidak resmi”. Tapi negara-negara itu memilih satu hal penting: mereka membina energi liar masyarakat, bukan mematahkannya.

Kita sebaliknya terlalu mencintai keteraturan administratif. Segala sesuatu harus punya izin sebelum sempat tumbuh. Seolah kreativitas harus lahir lengkap dengan map plastik dan stempel basah.

Ada petani yang menemukan pupuk organik alternatif, tapi dipersulit karena tidak punya sertifikat laboratorium mahal. Ada nelayan kecil yang memodifikasi mesin agar hemat bahan bakar, tapi dianggap melanggar standar. Ada guru honorer yang membuat aplikasi belajar sederhana, tapi kalah oleh proyek digital bernilai miliaran yang bahkan sulit dipakai siswa desa.

Kita seperti negara yang takut pada kecerdikan rakyatnya sendiri.

Barangkali karena kreativitas rakyat sering muncul tanpa komando. Dan sesuatu yang lahir tanpa komando membuat kekuasaan gugup. Negara modern memang menyukai sesuatu yang mudah didata, mudah diatur, mudah dikenai formulir. Sedangkan rakyat kecil bekerja dengan naluri bertahan hidup: membongkar, menyambung, memodifikasi, mencoba.

Mereka tidak menyebutnya inovasi. Mereka menyebutnya “akal supaya bisa hidup.”
Dan mungkin di situlah masalahnya. Di negeri ini, inovasi baru dianggap terhormat bila datang dari seminar hotel, bukan dari lorong sempit penuh kabel bekas.

Kita pernah mendengar kisah perakit kendaraan listrik lokal yang justru berhadapan dengan regulasi berlapis. Kita melihat pedagang kecil digital dipungut ini-itu sementara platform besar diberi karpet merah. Kita menyaksikan anak-anak muda pembuat gim, animasi, atau perangkat lunak bekerja sendiri dengan komputer seadanya, tetapi negara lebih sibuk menjadi konsumen teknologi asing daripada pelindung pencipta lokal.
Maka yang tumbuh adalah mental takut mencoba.

Padahal bangsa maju bukan bangsa yang tak punya kesalahan. Bangsa maju adalah bangsa yang memberi ruang pada eksperimen—even eksperimen yang berisik, berantakan, dan kadang gagal.
Karena dari sepuluh percobaan liar, mungkin hanya satu yang berhasil. Tapi satu itu bisa mengubah sejarah.
Masalah kita mungkin bukan kekurangan orang pintar. Negeri ini penuh orang kreatif. Di kampung-kampung ada tukang yang bisa memperbaiki apa saja. Ada anak muda yang bisa merakit drone dari barang murah. Ada santri yang belajar coding dari YouTube. Ada ibu rumah tangga yang menemukan produk pangan inovatif dari dapur kecilnya.

Yang kurang adalah negara yang percaya pada mereka.

Kita terlalu lama mendidik rakyat untuk patuh, bukan mencipta. Sekolah menghafal. Birokrasi mengatur. Regulasi mencurigai. Maka ketika ada orang kecil tiba-tiba berhasil membuat sesuatu, pertanyaan pertama bukan:

“Bagaimana kita bantu?” tetapi: “Izinnya mana?”

Dan dari sana sering lahir ironi: negeri yang bercita-cita menjadi negara maju, tetapi alergi terhadap bibit-bibit kemajuan yang tumbuh dari bawah.

pPhotoPhoaMungkin memang lebih mudah membangun gedung kementerian daripada membangun keberanian untuk mempercayai rakyat sendiri.***

Komentar

Berita Terkini

Bupati Cen Sui Lan Gandeng Kejari Natuna Tertibkan dan Amankan Aset Daerah

Bupati Cen Sui Lan Gandeng Kejari Natuna Tertibkan dan Amankan Aset Daerah

6 menit lalu

Belajar Membaca Laut Sejak Dini: Pelajar Anambas Dibekali Ilmu Keselamatan

Model Transformasi Manajemen Talenta Aparatur Sipil Negara Berbasis Profiling ASN (ProASN): Peran Person–Job Fit dan Organizational Agility dalam Meningkatkan Kinerja Organisasi Publik

Atasi Krisis Air Saat Kemarau, Pangdam XXV/SMR Tinjau Sumur Bor Bantuan TNI AD di Batu Hitam

Kunjungi Batalyon Komposit 1/Gardapati, Pangdam XXV/SMR Apresiasi Prajurit Jaga Natuna

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In