Ada darah yang menetes setiap Iduladha. Bau tanah bercampur anyir memenuhi halaman masjid, surau, lapangan kampung. Anak-anak berlarian, lelaki dewasa menggulung lengan baju, ibu-ibu sibuk menimbang daging dalam kantong plastik tipis. Seekor sapi rebah. Kambing mengembik sebentar. Pisau mengilap di bawah matahari pagi.
Tapi kurban, rupanya, bukan soal darah.
Al-Qur’an pernah mengingatkan dengan nada yang nyaris sunyi: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapainya.” Ayat itu seperti menegur manusia yang terlalu mudah jatuh pada simbol. Kita sering menyangka Tuhan membutuhkan asap, bau, sembelihan, ritual yang megah. Padahal Tuhan tak pernah lapar.
Yang lapar justru manusia.
Di situlah kurban menjadi menarik. Ia adalah ibadah vertikal yang diam-diam memiliki efek horizontal. Ia seperti doa yang berubah menjadi nasi di meja makan orang miskin.
Nabi Ibrahim, dalam kisah besar agama-agama Ibrahimik, tak sedang diuji tentang kemampuan menyembelih. Yang diuji adalah kesediaan melepaskan yang paling dicintai. Dan sejarah manusia menunjukkan: yang paling sulit bukan menyerahkan kambing, tetapi menyerahkan ego.
Maka kurban sesungguhnya adalah latihan melawan kepemilikan.
Kita hidup dalam dunia yang dibangun oleh hasrat menumpuk. Rumah diperbesar, rekening diperbanyak, tanah dipagari tinggi-tinggi. Kapitalisme modern bahkan mengubah manusia menjadi makhluk akumulatif: makin banyak memiliki, makin dianggap berhasil. Dalam logika seperti itu, berbagi sering hanya menjadi slogan perusahaan di spanduk CSR.
Kurban datang seperti gangguan terhadap logika itu.
Seekor sapi bisa bernilai puluhan juta rupiah. Di kota besar, harga itu bisa menjadi satu unit telepon genggam terbaru, atau sekadar biaya makan malam kaum elite dalam satu pesta. Tapi dalam ibadah kurban, nilai itu berubah menjadi sesuatu yang tak masuk kalkulasi ekonomi biasa: kebahagiaan kolektif.
Di kampung-kampung, orang miskin menunggu Iduladha bukan karena pidato para pejabat tentang pertumbuhan ekonomi, melainkan karena pada hari itu dapur mereka benar-benar berasap oleh daging. Ada anak-anak yang sepanjang tahun hanya mengenal rasa telur dan ikan asin, lalu mendadak merasakan rendang.
Negara kadang gagal menghadirkan kesejahteraan secara merata. Tapi masyarakat, lewat kurban, menciptakan redistribusi kecil yang nyata.
Barangkali di situlah agama bekerja dengan cara yang paling manusiawi.
Ia tidak berhenti pada langit. Ia turun ke perut.
Namun di zaman media sosial, kurban juga menghadapi godaan baru: pertunjukan. Orang berfoto di depan sapi raksasa, menulis nominal hewan kurban dengan huruf besar, menyebut merek sapi seperti memamerkan mobil baru. Ada yang diam-diam ingin dipuji saleh. Ada pula lembaga yang mengubah kurban menjadi industri citra.
Padahal Ibrahim tak pernah memotret pisaunya.
Keikhlasan memang selalu sunyi. Ia tidak memerlukan kamera.
Tapi kita juga tak bisa menutup mata bahwa ibadah, dalam masyarakat modern, selalu bersentuhan dengan ekonomi. Kurban menggerakkan peternak kecil, pedagang rumput, sopir pengangkut ternak, tukang jagal, hingga penjual bumbu dapur. Di desa-desa, musim kurban sering menjadi semacam “panen tahunan” bagi peternak.
Agama ternyata bukan hanya urusan masjid, tetapi juga denyut pasar rakyat.
Dan mungkin karena itu Islam tidak menjadikan kurban sekadar meditasi spiritual individual. Ia harus dibagikan. Daging itu tak boleh menumpuk di freezer orang kaya semata. Ada hak fakir miskin di sana. Ada pesan sosial yang keras namun elegan: kesalehan pribadi tanpa kepedulian sosial adalah ibadah yang pincang.
Kita terlalu lama memisahkan langit dan bumi.
Padahal dalam tradisi Islam, keduanya bertemu di tangan yang memberi.
Mungkin itu sebabnya takbir Iduladha selalu terdengar berbeda. Ia bukan hanya gema kemenangan spiritual, tetapi juga suara solidaritas manusia. Suara yang mengingatkan bahwa mendekat kepada Allah tak pernah cukup hanya dengan menengadah. Kadang ia harus dilakukan dengan menunduk—melihat siapa yang lapar di sekitar kita.***





Komentar