Pada sebuah tanggal yang kita hafal seperti doa yang diulang-ulang, pendidikan di Indonesia diperingati—seolah sebuah ingatan bisa menggantikan kenyataan. Kita menyebutnya Hari Pendidikan Nasional, menautkannya pada nama Ki Hajar Dewantara, seorang yang pernah membayangkan sekolah sebagai taman: tempat tumbuh, bukan tempat ditanam paksa.
Tapi hari ini, taman itu terasa seperti ruang yang terlalu ramai—penuh suara, penuh tuntutan, dan kadang kehilangan arah angin.
Dunia sedang tidak baik-baik saja. Kita tahu itu, meski tak selalu ingin mengakuinya. Perang, krisis iklim, kecemasan ekonomi, dan teknologi yang bergerak lebih cepat dari kemampuan kita memahami maknanya. Anak-anak kita tumbuh dalam dunia yang tak lagi stabil—sebuah dunia yang tidak menawarkan kepastian, hanya kemungkinan.
Di ruang kelas, guru berdiri dengan kurikulum yang terus berubah, seperti peta yang digambar ulang sebelum sempat dibaca. Sementara itu, murid-murid duduk dengan dunia lain di genggaman tangan mereka—layar kecil yang membuka semesta tanpa batas, tapi juga tanpa filter makna.
Di sini, pendidikan menjadi medan tarik-menarik: antara yang lama dan yang baru, antara nilai dan kecepatan, antara manusia dan mesin.
Kita sering bertanya: apa yang salah dengan pendidikan kita?
Mungkin pertanyaan itu keliru.
Barangkali yang lebih tepat: apa yang hilang?
Sebab pendidikan bukan sekadar sistem. Ia adalah relasi. Ia adalah pertemuan antara seorang manusia dengan manusia lain—yang satu membawa pengalaman, yang lain membawa harapan.
Namun dalam banyak hal, relasi itu kini tereduksi menjadi angka: nilai, peringkat, akreditasi. Kita mengukur yang mudah diukur, dan melupakan yang penting tapi tak terukur—keingintahuan, empati, keberanian berpikir.
Sekolah menjadi seperti pabrik kecil yang rapi, menghasilkan lulusan yang seragam. Padahal dunia di luar sana justru membutuhkan yang berbeda—yang mampu bertanya ketika semua orang diam, yang mampu meragukan ketika semua orang yakin.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya bukan sekadar seremoni. Ia mestinya menjadi momen untuk bertanya ulang: untuk apa kita mendidik?
Apakah untuk mencetak tenaga kerja?
Atau membentuk manusia?
Dua hal itu tidak selalu bertentangan, tapi juga tidak selalu sejalan.
Dalam dunia yang “carut-marut”—kata yang terasa kasar tapi jujur—pendidikan justru dituntut untuk menjadi jangkar. Bukan sekadar mengikuti arus perubahan, tetapi memberi arah.
Namun arah itu tidak bisa lahir dari kebijakan semata. Ia tumbuh dari keberanian untuk berpikir ulang: tentang kurikulum, tentang peran guru, tentang makna belajar itu sendiri.
Mungkin kita perlu kembali, bukan ke masa lalu, tetapi ke gagasan yang pernah ditinggalkan.
Bahwa pendidikan adalah proses memerdekakan.
Memerdekakan dari ketakutan untuk salah.
Memerdekakan dari kebiasaan menghafal tanpa memahami.
Memerdekakan dari tekanan untuk selalu “sesuai”.
Dalam kemerdekaan itu, seorang murid bisa menjadi dirinya sendiri—dan sekaligus menjadi bagian dari dunia yang lebih besar.
Tapi di sinilah paradoksnya: kita ingin pendidikan yang merdeka, dalam sistem yang seringkali tidak merdeka.
Guru dibebani administrasi. Sekolah dibatasi regulasi. Kebijakan sering lahir dari atas, jauh dari ruang kelas yang sesungguhnya.
Dan di tengah itu semua, kita masih berharap keajaiban.
Masa depan pendidikan Indonesia tidak akan ditentukan oleh satu kebijakan besar, atau satu tokoh yang visioner. Ia akan ditentukan oleh hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian: seorang guru yang tetap sabar, seorang murid yang tetap bertanya, sebuah sekolah yang berani mencoba cara baru.
Di situlah harapan bekerja—diam-diam, tapi nyata.
Hari Pendidikan Nasional, pada akhirnya, bukan tentang masa lalu yang kita hormati, tetapi tentang masa depan yang kita pertaruhkan.
Dan mungkin, di tengah dunia yang kacau ini, pendidikan adalah satu-satunya cara kita untuk tetap percaya bahwa manusia bisa menjadi lebih baik.
Bukan karena sistemnya sempurna,
tetapi karena di dalamnya masih ada manusia yang tidak berhenti berharap.***





Komentar