Ada orang yang berangkat haji dengan koper besar, kamera baru, dan daftar belanja yang rapi. Ada pula yang berangkat dengan dada yang berdebar: bukan karena pesawat, bukan karena hotel, melainkan karena ia merasa sedang dipanggil untuk meninggalkan dirinya yang lama. Di antara keduanya, kita sering tak tahu mana yang lebih dekat kepada Tuhan. Sebab kedekatan kepada Tuhan tidak selalu tampak dari wajah yang khusyuk, pakaian yang putih, atau foto yang indah di depan Ka’bah. Kadang ia tersembunyi dalam hati yang gemetar, dalam air mata yang tidak dipamerkan, dan dalam niat yang diam-diam diperbaiki.
Haji, dalam imajinasi banyak orang, kadang telah menjadi perjalanan yang nyaman: paket, jadwal, fasilitas, konsumsi, dokumentasi. Nama-nama tempat suci berubah menjadi latar foto. Ihram menjadi kostum kenangan. Ka’bah menjadi bukti visual bahwa seseorang telah “sampai”. Lalu pulang, gelar disematkan, cerita dibagikan, status sosial sedikit bergeser. Orang-orang memberi selamat, keluarga menyambut, tetangga menghormati, dan masyarakat menempatkannya pada posisi yang berbeda. Seolah-olah perjalanan itu telah otomatis mengubah seseorang menjadi lebih mulia.
Tetapi haji bukan plesiran spiritual.
Ia bukan wisata batin dengan pemandu bersertifikat. Ia bukan perjalanan eksotis ke tanah suci untuk menambah koleksi pengalaman religius. Ia bukan sekadar kesempatan mencicipi suasana Arab, membeli oleh-oleh, atau mengisi galeri telepon genggam dengan gambar-gambar yang mengesankan. Haji, pada mulanya, adalah latihan kehilangan. Seseorang melepas pakaian kebanggaan, menanggalkan tanda-tanda kelas, menunda keinginan, menahan amarah, dan berdiri di antara jutaan tubuh lain yang sama-sama rapuh. Di sana, jabatan tidak lagi terlalu penting. Kekayaan tidak lagi sepenuhnya berguna. Nama besar tidak banyak berarti. Semua orang memakai kain yang hampir sama, berjalan dalam arus manusia yang sama, dan memohon kepada Tuhan yang sama.
Di Arafah, manusia tidak sedang berlibur. Ia sedang diingatkan bahwa hidup pernah dimulai dari ketelanjangan dan akan berakhir dalam kesendirian. Di hamparan itu, manusia seakan diajak melihat dirinya tanpa riasan sosial: bukan sebagai pejabat, saudagar, tokoh, guru, atau orang terpandang, melainkan sebagai hamba yang membawa dosa, harapan, penyesalan, dan doa. Arafah adalah tempat manusia berhenti sejenak dari kebisingan dunia, lalu bertanya dengan jujur: apa yang selama ini sebenarnya ia kejar? Apa yang telah ia korbankan demi gengsi, ambisi, dan pengakuan?
Di Mina, ia melempar bukan sekadar batu, melainkan kemungkinan jahat yang diam-diam ia pelihara. Ia melempar kesombongan, iri hati, kerakusan, kemunafikan, dan nafsu untuk selalu merasa benar. Tetapi batu-batu itu tidak akan berarti bila setelah kembali ke rumah, ia masih memelihara kebiasaan lama: mudah merendahkan orang lain, keras kepada keluarga, curang dalam pekerjaan, atau merasa paling dekat dengan Tuhan hanya karena telah menginjak tanah suci.
Di sekitar Ka’bah, ia berputar bukan untuk mengelilingi bangunan, tetapi untuk menyadari bahwa pusat hidupnya bukan dirinya sendiri. Tawaf mengajarkan bahwa manusia bukan poros semesta. Hidup tidak semestinya hanya berputar pada kepentingan pribadi, pujian, keuntungan, dan kemenangan sendiri. Ada pusat yang lebih agung dari ego manusia. Ada kehendak Tuhan yang harus ditempatkan di atas kehendak diri.
Barangkali di situlah letak kesulitan haji modern: kita membawa terlalu banyak “aku” ke tempat yang justru meminta kita mengecilkan diri. Kita ingin nyaman, cepat, bersih, terdokumentasi. Kita ingin ibadah yang tertib sekaligus mengesankan. Kita ingin memperoleh pengalaman spiritual tanpa terganggu oleh kelelahan, antrean, panas, sesak, dan perbedaan karakter sesama jamaah. Padahal justru di situlah ujian haji sering bersembunyi. Bukan hanya pada panjangnya perjalanan, tetapi pada kemampuan menahan diri ketika tidak semua hal berjalan sesuai keinginan.
Kita ingin pulang sebagai orang yang telah selesai. Padahal haji, jika sungguh-sungguh dijalani, mungkin justru membuat seseorang merasa belum selesai. Ia pulang dengan pertanyaan yang lebih berat: setelah melihat jutaan manusia sama-sama memohon ampun, masih pantaskah ia merasa lebih suci? Setelah berdiri sejajar dengan manusia dari berbagai bangsa dan warna kulit, masih pantaskah ia merasa lebih tinggi? Setelah menyaksikan betapa kecil dirinya di hadapan kebesaran Tuhan, masih pantaskah ia hidup dengan dada yang penuh kesombongan?
Haji yang mabrur tidak terutama tampak pada foto, gelar, atau kisah heroik menahan panas. Ia tampak ketika seseorang pulang dan menjadi lebih rendah hati di jalan, lebih jujur dalam berdagang, lebih lembut kepada yang lemah, lebih sabar menghadapi keluarga, lebih adil saat memegang kuasa, dan lebih malu kepada keserakahannya sendiri. Kemabruran haji diuji bukan hanya di Makkah dan Madinah, tetapi di pasar, kantor, ruang keluarga, jalan raya, dan lingkungan tempat seseorang kembali hidup sehari-hari.
Sebab tanah suci bukan tempat untuk membuktikan kesalehan. Ia tempat untuk merobohkan kesombongan. Ia bukan panggung untuk memperlihatkan bahwa seseorang telah menjadi hamba pilihan, melainkan cermin besar yang memantulkan kelemahan manusia. Di sana, orang yang benar-benar mendengar panggilan Tuhan akan mengerti bahwa haji bukan akhir dari perjalanan iman, melainkan awal dari pertobatan yang lebih panjang.
Dan mungkin itulah sebabnya haji disebut panggilan. Bukan karena semua yang datang otomatis mendengar Tuhan, melainkan karena hanya yang bersedia diam akan mengerti: perjalanan paling jauh bukan dari Jakarta ke Jeddah, bukan dari rumah menuju Ka’bah, melainkan dari keangkuhan menuju kepasrahan, dari rasa paling benar menuju kerendahan hati, dan dari hidup yang berpusat pada diri sendiri menuju hidup yang tunduk sepenuhnya kepada Allah.***





Komentar