Natuna _ ranaipos.com : Kapal Tol Laut KM Logistik Nusantara 4 tiba dan bersandar di Pelabuhan Selat Lampa, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Jumat (27/03) sore, setelah berlayar dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Kedatangan kapal bersubsidi yang merupakan bagian dari Program Strategis Nasional di bawah Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang dioperasikan oleh PT Pelni tersebut dinanti-nantikan oleh banyak masyarakat terutama penggunaan jasa.
Namun pada trip pelayaran kali ini, proses distribusi pada Daging Ayam Ras justru tidak berjalan sesuai harapan.
Berdasarkan data yang dihimpun, dari total empat kontainer berpendingin (reefer) yang dialokasikan untuk pengiriman daging ayam ke Natuna, hanya tiga kontainer yang berisi muatan.

Sementara satu kontainer dengan nomor kontainer/merek : zona 4935993 yang dikirim melalui Shippers PT. Multi Terminal Indonesia (MTI) tiba dalam kondisi kosong.
Kondisi tersebut menimbulkan kekecewaan di kalangan pengguna jasa, termasuk pihak pemesan yang telah melakukan pengiriman melalui ekspedisi.
Salah satu pengguna jasa yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa karena barang pesanannya tidak sampai sesuai rencana.
Menurutnya, kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kemungkinan adanya kendala sistem maupun permasalahan pada pihak ekspedisi atau pihak operator Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta.
“Saya sangat kecewa muatan Daging Ayam Ras kami tidak di muat pada trip pelayaran kali ini. Alasannya pun kami tidak tahu pasti,” ujarnya sambil mengeluh, Jum’at (27/03) malam.
Secara keseluruhan, kekosongan satu kontainer berdampak pada berkurangnya pasokan daging ayam ke Natuna. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa distribusi bulan ini hanya mencapai sekitar 30 ton, turun dari sebelumnya sekitar 45 ton.
Menanggapi hal tersebut, Staf Operasional Ekspedisi PT Multi Terminal Indonesia (MTI) Cabang Natuna, Tarkim, membenarkan adanya satu kontainer yang berangkat tanpa muatan.
Menurut Tarkim, hal tersebut disebabkan oleh kendala komunikasi antara pihak pengirim dan penyedia barang.
“Iya, memang ada satu kontainer yang kosong. Itu bukan faktor kesengajaan, melainkan karena miskomunikasi,” jelas Tarkim.
Ia menambahkan, barang yang seharusnya dimuat tidak tersedia hingga batas waktu pengiriman, sehingga tidak dapat dimasukkan ke dalam kapal.
“Statusnya barang tersebut tertinggal. Kapal tidak mungkin menunggu, sehingga kontainer tetap diberangkatkan dalam kondisi kosong,” ungkapnya.
Lanjut Tarkim, kondisi ini juga dipengaruhi momentum libur Idul Fitri yang menyebabkan terganggunya koordinasi, termasuk kemungkinan keterlambatan dari pihak pemasok dalam menyiapkan barang.
Meski demikian, pihak ekspedisi menegaskan bahwa tidak ada unsur kesengajaan dalam kejadian tersebut. Kontainer tetap dikirim untuk menjaga kelancaran arus logistik, khususnya untuk pengiriman balik dari Natuna.
Disisi lain, pengamatannya menunjukkan bahwa kontainer berpendingin memiliki peran penting dalam menjaga kualitas komoditas seperti daging, ikan, dan bahan pangan lainnya. Kekosongan satu kontainer dinilai cukup berdampak terhadap ketersediaan pasokan di wilayah kepulauan seperti Natuna.
Kondisi ini juga memunculkan evaluasi terhadap sistem distribusi logistik tol laut, khususnya dalam mengantisipasi kebutuhan di wilayah perbatasan ini.
Disamping itu, pemerintah dan pemangku kepentingan terkait diharapkan dapat meningkatkan koordinasi serta memastikan kesiapan barang sebelum jadwal pengiriman, guna menjaga stabilitas pasokan dan harga kebutuhan pokok di daerah perbatasan.
Meski terjadi penurunan pasokan, masyarakat berharap ketersediaan daging ayam di Natuna tetap dapat terpenuhi dan tidak berdampak signifikan terhadap harga di pasaran dalam waktu dekat. (Rid).





Komentar