No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
Senin, 12 Oktober 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Tak Lagi Harus ke Jakarta? Kepri Perkuat Layanan Bedah Jantung, Dua Pasien Jalani Operasi di RSUD RAT

    Tak Lagi Harus ke Jakarta? Kepri Perkuat Layanan Bedah Jantung, Dua Pasien Jalani Operasi di RSUD RAT

    Foto dokumentasi narasumber, buah kepayang yang berasal dari pulau Jemaja

    Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Tak Lagi Harus ke Jakarta? Kepri Perkuat Layanan Bedah Jantung, Dua Pasien Jalani Operasi di RSUD RAT

    Tak Lagi Harus ke Jakarta? Kepri Perkuat Layanan Bedah Jantung, Dua Pasien Jalani Operasi di RSUD RAT

    Foto dokumentasi narasumber, buah kepayang yang berasal dari pulau Jemaja

    Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

Migas Natuna: Dari Eksplorasi ke Kesejahteraan

Refleksi Milad ke-27 Kabupaten Natuna: Dari Kekayaan Sumber Daya Menuju Kesejahteraan Masyarakat

Ranai Pos by Ranai Pos
12/10/2026 7:25 AM
in Berita, Opini
0
Ditulis oleh : Dr. Syahidun, M.M. (Praktisi Talent Management Migas)

Ditulis oleh : Dr. Syahidun, M.M. (Praktisi Talent Management Migas)

0
SHARES
25
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

27 Tahun Natuna: Saatnya Mengubah Potensi Menjadi Kesejahteraan

Pada 12 Oktober 2026, Kabupaten Natuna genap berusia 27 tahun. Usia yang bukan lagi sekadar perjalanan waktu, melainkan momentum untuk merenungkan sejauh mana kekayaan alam, posisi geografis strategis, dan potensi sumber daya yang dimiliki daerah telah berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Nuansa rasa syukur dan kebanggaan memperingati Milad ke-27 Kabupaten Natuna, terdapat satu pertanyaan reflektif yang patut kita renungkan bersama: sudahkah kita memahami bagaimana kekayaan migas di perairan Natuna dapat diubah menjadi manfaat nyata bagi masyarakat?

Pertanyaan ini penting karena potensi migas tidak serta-merta berarti cadangan yang siap diproduksi. Penemuan migas pun belum tentu langsung menghasilkan pendapatan. Mulai dari eksplorasi dan produksi terdapat rangkaian panjang kajian geologi, pengeboran, pengujian, penilaian cadangan, investasi, pembangunan fasilitas, dan pemenuhan persyaratan keselamatan serta lingkungan.

Baca Juga

WAJIB HALAL OKTOBER 2026 (WHO 2026): Menjadi Satria Halal, Menjaga Kepercayaan, Menggerakkan Ekonomi Warga

27 Tahun Natuna: Angka Pembangunan Naik, Tetapi Kesejahteraan Rakyat Jangan Jalan di Tempat

Bahkan ketika migas berhasil diproduksi secara komersial, kesejahteraan masyarakat tidak otomatis hadir. Sehubungan hal tersebut perlu kesiapan sumber daya manusia, kemampuan dunia usaha lokal, kebijakan yang tepat, tata kelola yang transparan, dan mekanisme pembagian manfaat yang adil.

Milad ke-27 Kabupaten Natuna seyogianya menjadi momentum memperkuat ikhtiar bersama. Pemerintah, DPRD, dunia pendidikan, pelaku usaha, masyarakat, regulator, dan industri migas perlu membangun pemahaman serta kesiapan sesuai peran dan kewenangan masing-masing.

Laut sebagai Ruang Hidup, Bukan Sekadar Ruang Investasi

Ketika mencuat wacana mengenai potensi minyak dan gas bumi di perairan Natuna, persepsi publik kerap kali terarah pada janji kesejahteraan ekonomi. Pembukaan lapangan kerja baru, dinamika usaha yang berkembang, geliat pelabuhan, serta peningkatan pendapatan asli daerah menjadi ekspektasi yang jamak muncul. Kendati demikian, di balik optimisme tersebut, terdapat dua persoalan mendasar yang sering terabaikan: bagaimana sesungguhnya tahapan siklus proyek hulu migas berlangsung, dan kapan masyarakat lokal memiliki peluang yang realistis untuk berpartisipasi di dalamnya?

Bagi masyarakat Kabupaten Natuna, laut bukan semata ruang ekonomi yang menanti untuk dieksploitasi. Secara historis dan sosiologis, laut merupakan ruang hidup bagi nelayan, urat nadi konektivitas antarpulau, sumber ketahanan pangan, dan pilar identitas sosial. Oleh karena itu, diskursus mengenai potensi energi di kawasan ini mutlak menempatkan dimensi ekonomi berdampingan dengan aspek keselamatan kerja, kelestarian ekosistem laut, serta kepentingan masyarakat pesisir. Tolok ukur keberhasilan proyek hulu migas tidak cukup dinilai dari besaran cadangan sumber daya yang terkonfirmasi, melainkan harus diuji melalui kualitas tata kelola serta sejauh mana manfaat pembangunan mampu menjangkau kesejahteraan masyarakat setempat.

Urgensi literasi publik yang komprehensif menjadi krusial pada titik ini. Masyarakat perlu memahami spektrum teknis industri migas secara jernih mulai dari tahap eksplorasi, penilaian temuan (appraisal), pengembangan lapangan (development), produksi, hingga dekomisioning atau penghentian operasi. Pemahaman yang terstruktur akan menjaga ekspektasi publik tetap rasional dan proporsional. Dengan demikian, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan setempat dapat merancang strategi kesiapan yang terukur mempersiapkan talent – talent untuk berkonttibusi dalam ekosistem proyek migas tersebut.

Mencari Migas: Menafsirkan Petunjuk di Bawah Dasar Laut

Eksplorasi migas merupakan integrasi proses ilmiah dan kalkulasi bisnis berisiko tinggi guna mengidentifikasi akumulasi hidrokarbon di bawah permukaan bumi. Ahli geologi menganalisis cekungan sedimen, sejarah pengendapan batuan, proses pembentukan hidrokarbon, jalur migrasi, karakteristik batuan reservoir, dan integritas jebakan geologi. Sementara itu, ahli geofisika menyusun pemodelan struktur bawah permukaan melalui akuisisi, pemrosesan, dan interpretasi data seismik. Representasi data ini bukanlah citra visual langsung mengenai genangan minyak di dasar laut, melainkan model probabilitas ilmiah yang senantiasa diselimuti ketidakpastian geologis.

Setelah sintesis data geosains dilakukan, operator menetapkan prospek pengeboran. Pengeboran sumur eksplorasi menjadi satu-satunya metode definitif untuk memverifikasi ada atau tidaknya hidrokarbon pada kedalaman target serta menguji kondisi ekonomisnya. Sekalipun fluida hidrokarbon terdeteksi, evaluasi mendalam tetap diperlukan untuk mengukur volume cadangan, tekanan formasi, komposisi fluida, permeabilitas batuan reservoir, dan kelayakan teknis pengangkatan. Fase pengujian dan appraisal berfungsi mereduksi ketidakpastian tersebut secara sistematis. NOPSEMA (2015) menegaskan bahwa survei geofisika, pengeboran eksplorasi, dan fase penilaian memiliki batasan operasional dan perizinan yang tegas berbeda dari tahap fabrikasi serta pemasangan fasilitas produksi.

Diferensiasi fase ini membawa implikasi strategis dalam perencanaan daerah. Tahapan proyek mendikte kapan kebutuhan tenaga kerja mulai timbul, profil kompetensi yang disyaratkan, klasifikasi rantai pasok barang dan jasa yang dibutuhkan, serta tonggak keputusan investasi yang harus dilalui. Survei geofisika, misalnya, memerlukan kapal seismik khusus, instrumen berteknologi tinggi, keahlian komputasi data, serta tenaga spesialis berlisensi. Di sisi lain, fase rekayasa dan konstruksi menuntut skala rantai pasok manufaktur dan logistik yang masif, sedangkan fase produksi berfokus pada keandalan operasi, pemeliharaan jangka panjang, keunggulan logistik, dan manajemen risiko terpadu.

Tahapan Eksplorasi Migas: Dari Pemodelan Geologi hingga Pengujian Sumur

Rangkaian kegiatan eksplorasi senantiasa diawali dari kajian geologi regional. Para ahli mengevaluasi keterpenuhan elemen sistem minyak bumi, meliputi batuan induk berkandungan bahan organik, batuan penyimpan fluida, batuan penyekat kedap air, dan geometri jebakan geologis. Eksplorasi pada hakikatnya merupakan pencarian hidrokarbon mikro di dalam rongga pori-pori batuan, bukan kantong fluida terbuka di bawah dasar laut.

Tahap berikutnya adalah akuisisi dan pemrosesan data geofisika. Dalam survei seismik kelautan, kapal survei mengalirkan gelombang akustik terkontrol ke dasar laut dan hidrofon merekam pantulan gelombang dari berbagai lapisan batuan bawah permukaan. Sistem komputasi berkapasitas tinggi memproses rekaman tersebut menjadi penampang seismik 2D atau volume 3D untuk dianalisis oleh penafsir geofisika. Gelombang seismik bukanlah visualisasi minyak, melainkan interpretasi perbedaan densitas dan kecepatan gelombang lapisan batuan yang masih memiliki deviasi ketidakpastian. Sebagaimana ditunjukkan oleh Zhang et al. (2023), karakteristik perambatan medan akustik merupakan parameter krusial dalam survei seismik di lingkungan kelautan.

Setelah prospek geologi diprioritaskan, operator mengevaluasi peluang keberhasilan geologis, estimasi volume sumber daya, risiko lingkungan, kebutuhan investasi kapital, dan kepatuhan standar keselamatan kerja. Apabila kalkulasi memenuhi syarat keekonomian, sumur eksplorasi mulai ditajak. Pengeboran tersebut memverifikasi keberadaan hidrokarbon, tipe fluida, serta sifat fisik reservoir. Keberhasilan penemuan hidrokarbon dilanjutkan dengan pengeboran sumur delineasi (appraisal) guna menghitung batas sebaran dan volume cadangan secara komersial. Oleh sebab itu, alur hulu migas merupakan lintasan bertahap yang linear: Kajian Geologi -> Akuisisi & Interpretasi Seismik -> Pemeringkatan Prospek -> Pengeboran Eksplorasi -> Pengujian Temuan -> Delineasi Appraisal -> Studi Kelayakan Pengembangan; bukan lompatan instan dari survei seismik menuju produksi komersial.

Kebutuhan Rig, Armada Pendukung, dan Disiplin Logistik Lepas Pantai

Rig pengeboran merupakan instalasi rekayasa terintegrasi untuk mengonstruksi sumur, bukan sekadar menara rangka baja. Rig memuat sistem pengangkatan pipa, sistem pemutar mekanis, pompa fluida sirkulasi tekanan tinggi, instrumentasi sensor, dan sistem kendali tekanan sumur. Pemilihan tipe rig sangat ditentukan oleh kedalaman air dan medan laut: jack-up rig bertumpu pada dasar laut untuk perairan relatif dangkal, sedangkan rig semi-submersible terapung atau kapal bor (drillship) digunakan pada perairan dalam berdasarkan kedalaman air, dinamika metocean (arus, gelombang, angin), desain teknis sumur, serta keekonomian proyek.

Peran kapal survei dan rig pengeboran memiliki batas operasional yang berbeda: kapal survei bertugas menghimpun data geofisika bawah permukaan, sedangkan rig melaksanakan penetrasi fisik ke lapisan bumi pada koordinat target. Kehadiran rig di suatu wilayah kerja tidak terjadi serta-merta saat kabar potensi mencuat; kedatangannya didahului studi geoteknik dasar laut, persetujuan perizinan keselamatan dan lingkungan, rancangan teknis sumur yang komprehensif, rencana logistik maritim terperinci, serta kesiapan prosedur darurat. Pedoman NOPSEMA (2015) menegaskan bahwa keselamatan operasi hulu lepas pantai menempatkan seluruh fase kerja dalam satu siklus terpadu.

Operasional lepas pantai menuntut dukungan logistik tanpa jeda. Distribusi material berat, pipa selubung, bahan bakar, bahan habis pakai, pasokan konsumsi, evakuasi medis darurat, serta rotasi awak kerja wajib dijadwalkan secara presisi melalui armada kapal pendukung dan helikopter. Variabel laut dan cuaca seperti gelombang, kecepatan angin, arus laut, serta jarak tempuh dari pangkalan logistik darat menjadi penentu utama dalam efisiensi waktu dan keselamatan kerja. Keterlambatan distribusi suku cadang kecil dapat memicu non-productive time dengan konsekuensi pembengkakan biaya yang masif. Oleh sebab itu, manajemen rantai pasok maritim yang berdisiplin tinggi merupakan pilar vital proyek hulu migas.

Teknologi Pengeboran dan Mitigasi Risiko Tekanan Formasi

Proses pengeboran sumur menembus lapisan litologi bawah laut secara bertahap. Mata bor digerakkan melalui rangkaian pipa bor, sementara lumpur pengeboran disirkulasikan secara kontinu untuk mengangkut serpihan batuan ke permukaan, mendinginkan peralatan, dan mengendalikan tekanan formasi. Rangkaian pipa selubung baja (casing) dipasang dan disemen secara bertingkat untuk memperkuat lubang serta mengisolasi formasi sesuai rancangan rekayasa.

Pada anjungan terapung, sistem marine drilling riser menghubungkan instalasi di permukaan dengan peralatan di dasar laut. Komponen ini terpapar secara konstan oleh gaya dinamis gelombang dan arus laut. Liu et al. (2021) mengkaji sistem kendali recoil riser, sedangkan Xiang et al. (2024) meneliti simulasi dan optimasi parameter pengeboran laut dalam. Temuan-temuan ini menegaskan bahwa operasional lepas pantai menuntut kalkulasi rekayasa struktur dan simulasi dinamis dengan presisi tinggi.

Jalur Panjang dari Temuan Hidrokarbon Menuju Keputusan Investasi Akhir

Keberhasilan penemuan gas atau minyak pada sumur eksplorasi tidak serta-merta menandakan proyek siap memproduksi dan menjual energi secara komersial. Pascapenemuan, operator masih harus melakukan evaluasi ketebalan dan permeabilitas batuan reservoir, estimasi cadangan tersertifikasi, konsep rekayasa fasilitas produksi, kepastian akses pasar, mekanisme transmisi, harga komoditas jangka panjang, serta kajian keekonomian menyeluruh. Sejumlah sumur eksplorasi berujung tanpa temuan ekonomis, sementara sebagian temuan lainnya belum dapat dikembangkan secara komersial. Ketidakpastian komersial ini merupakan sifat inheren industri hulu migas.

Sinergi Multi-Pihak: Membangun Orkestrasi Kesiapan Daerah

Pembangunan kesiapan daerah tidak dapat dibebankan secara parsial kepada satu instansi pemerintah semata. Pemerintah daerah berperan sebagai fasilitator koordinasi kebijakan, penyedia data profil pembangunan, dan penghubung program kemitraan vokasi sesuai kewenangannya. Dunia usaha lokal harus proaktif menelaah klasifikasi rantai pasok yang dapat diakses, kemudian mengadopsi standar mutu bisnis modern. Perguruan tinggi dan balai latihan kerja setempat perlu menyesuaikan kurikulum agar selaras dengan kebutuhan industri yang terverifikasi. Sementara itu, masyarakat pesisir dan komunitas nelayan harus memiliki ruang representasi yang bermartabat untuk menyuarakan aspirasi, identifikasi zona tangkap, mitigasi dampak lingkungan, serta perlindungan ruang hidup tradisional mereka.

Pada tataran implementasi, akselerasi kesiapan daerah dapat dijalankan melalui tiga tahapan strategis:

Langkah 1: Pemetaan Faktual – Mendata demografi ketenagakerjaan, kualifikasi vendor lokal, infrastruktur dermaga/pelabuhan, serta konektivitas. Output: Basis data kompetensi dan inventarisasi sarana pendukung daerah.

Langkah 2: Analisis Kesenjangan (Gap Analysis) – Mengidentifikasi selisih antara kapasitas riil daerah dan standar baku industri hulu migas. Output: Peta kesenjangan kapabilitas teknis, lisensi, dan manajemen mutu.

Langkah 3: Matriks Kerja Aksi Bersama – Menetapkan pembagian penanggung jawab lintas instansi, jadwal, skema dana, dan indikator terukur. Output: Rencana aksi terpadu berbasis kebutuhan empiris terverifikasi.

Sebagai wilayah kepulauan terdepan, Natuna memiliki tantangan geografis berupa disparitas jarak dan beban biaya logistik maritim. Kedekatan lokasi geografis pulau dengan konsesi wilayah kerja migas memang menawarkan potensi efisiensi, namun kelayakan sebuah pangkalan logistik lepas pantai (shorebase) tetap dinilai investor berdasarkan kedalaman draft perairan pelabuhan, fasilitas sandar dan pergudangan, kehandalan konektivitas transportasi udara/laut, ketahanan cuaca, standar keselamatan, efisiensi total biaya operasional, dan kebutuhan rute operasional operator. Menilai potensi secara objektif dan berbasis kalkulasi keekonomian justru memperkuat posisi tawar strategis daerah dalam ruang dialog dengan para pemangku kepentingan industri.

Dari Paradigma Bagi Hasil Menuju Benefit-Sharing Architecture (BSA)

Wacana publik mengenai kemanfaatan migas di daerah kerap kali menyempit pada besaran perolehan Dana Bagi Hasil (DBH) migas semata. Padahal, instrumen manfaat pembangunan dari sektor ekstraktif memiliki spektrum yang jauh lebih variatif dengan tata kelola kelembagaan yang berbeda-beda. Terdapat hak penerimaan fiskal daerah yang mekanismenya diatur secara baku dalam peraturan perundang-undangan keuangan negara (UU No.1 Tahun 2022, Pasal 117). Terdapat pula peluang keterlibatan ekonomi lokal dan penyerapan tenaga kerja yang hanya dapat diraih melalui keunggulan kompetensi dan kelayakan tender usaha. Selain itu, terdapat program pengembangan masyarakat, transfer teknologi, penguatan mutu pendidikan, rehabilitasi lingkungan hidup, serta peningkatan kapasitas kelembagaan yang mensyaratkan perjanjian kemitraan terpadu. Seluruh aspek ini saling melengkapi dan tidak boleh dipersempit ke dalam wacana fiskal semata.

Dalam kerangka konseptual Benefit-Sharing Architecture (BSA), dirumuskan lima pilar pendorong manfaat terpadu:

1. Pengembangan Modal Manusia: Peningkatan kapasitas vokasi, sertifikasi industri, dan pemetaan keahlian lokal.

2. Partisipasi Ekonomi & Rantai Pasok Lokal: Pembinaan UMKM/vendor daerah agar memenuhi standar kualifikasi pengadaan.

3. Modernisasi Infrastruktur Pendukung Publik: Penguatan sarana pelabuhan, konektivitas, dan utilitas daerah.

4. Tata Kelola Risiko Sosial & Kelestarian Lingkungan: Perlindungan ekosistem pesisir, ruang hidup nelayan, dan mitigasi dampak.

5. Transparansi Tata Kelola Kelembagaan & Instrumen Fiskal: Pengawasan akuntabel atas alokasi dan pemanfaatan penerimaan daerah, termasuk kesiapan BUMD sebagai institusi resmi tata kelola Partisipation Interest (PI).

Gagasan BSA ini merupakan kerangka kerja strategis yang diajukan untuk telaah kebijakan publik dan pengembangan kapasitas daerah; bukan instrumen yuridis baru yang secara otomatis menetapkan hak bagi hasil tambahan bagi daerah.

Studi empiris Tysiachniouk et al. (2018) mengenai industri migas dan mekanisme pembagian manfaat di kawasan Arktik membuktikan bahwa relasi kelembagaan antaraktor sangat menentukan tingkat keberhasilan masyarakat dalam memperoleh manfaat pembangunan. Walaupun memiliki perbedaan struktur sosio-politik dengan Indonesia, kajian komparatif tersebut menegaskan bahwa alokasi manfaat dari proyek ekstraktif senantiasa dipengaruhi oleh konteks hukum tata kelola negara, dinamika organisasi masyarakat sipil, dan relasi kekuasaan kelembagaan setempat.

Dalam konteks nasional, Brunnschweiler et al. (2025) meneliti interaksi antara kebijakan transparansi pendapatan sektor migas di Indonesia dengan realitas partisipasi warga negara. Temuan studi tersebut mengingatkan bahwa keterbukaan informasi pendapatan fiskal harus diimbangi oleh kapasitas literasi publik untuk membedah, mengawasi, dan memanfaatkan data tersebut secara bermakna. Dalam kerangka kerja BSA memperkuat argumentasi diplomasi daerah karena diselaraskan dengan agenda pembangunan modal manusia, kesiapan rantai pasok lokal, dan kebutuhan nyata wilayah kepulauan terdepan.

Lima Langkah Strategis Mempersiapkan Talenta Lokal Natuna Berstandar Industri Migas

Mengubah potensi migas Natuna menjadi kesejahteraan masyarakat membutuhkan kesiapan sumber daya manusia yang memenuhi standar industri. Oleh karena itu, terdapat lima langkah strategis yang perlu dilakukan secara terpadu, yaitu pertama, memetakan kebutuhan kompetensi tenaga kerja sesuai tahapan eksplorasi, pengembangan, dan produksi migas; kedua, mengidentifikasi potensi serta kesenjangan keterampilan tenaga kerja lokal terhadap persyaratan industri; ketiga, membangun kemitraan pendidikan, pelatihan vokasi, dan sertifikasi kompetensi bersama lembaga pendidikan, pemerintah, serta pelaku industri; keempat, memperkuat kolaborasi multipihak untuk membuka akses pengembangan karier, kesempatan kerja, dan partisipasi usaha lokal; serta kelima, mengevaluasi keberhasilan melalui indikator terukur, seperti peningkatan kompetensi, sertifikasi, penyerapan tenaga kerja, dan keterlibatan penyedia jasa lokal. Pendekatan ini sejalan dengan Rajbhandari et al. (2022) yang menunjukkan beragamnya jenis pekerjaan dalam perkembangan industri migas, serta Afrifa-Yamoah (2024) yang menekankan pentingnya keterhubungan antaraktor dalam pengembangan local content.

Momentum Milad ke-27 Kabupaten Natuna, mempersiapkan talenta lokal berstandar industri migas merupakan investasi strategis agar masyarakat Natuna tidak hanya menyaksikan eksplorasi sumber daya alam, tetapi memiliki kemampuan untuk berpartisipasi dan memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

Pertanyaan reflektif bagi segenap pemangku kepentingan adalah: ketika babak baru dinamika hulu migas di perairan Natuna berderap maju, akankah kepulauan ini hanya dikenang sebagai koordinat pasif dalam peta sumber daya alam, atau tampil sebagai pelopor daerah kepulauan terdepan yang telah matang menyiapkan modal manusia, ketahanan usaha, dan tata kelola kelembagaannya untuk tumbuh bersama secara adil, bermartabat, dan berkelanjutan?

Potensi migas merupakan kekayaan alam yang perlu dikelola. Talenta lokal merupakan kekayaan manusia yang harus dipersiapkan. Ketika keduanya dipertemukan melalui kompetensi, kesempatan, dan tata kelola yang adil, terbukalah jalan menuju kesejahteraan Masyarakat.

Daftar Pustaka

Afrifa-Yamoah, E. (2024). Towards sustainable resource management: Graph modelling insights from Ghana’s oil and gas local content ecosystem. The Extractive Industries and Society, 20, Article 101570. https://doi.org/10.1016/j.exis.2024.101570

Brunnschweiler, C., Lujala, P., Putri, P., Scherzer, S., & Wardhani, I. (2025). When petroleum revenue transparency policy meets citizen engagement reality: Survey evidence from Indonesia. Ecological Economics, 230, Article 108529. https://doi.org/10.1016/j.ecolecon.2025.108529

Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. (2026, September 17). Pemerintah umumkan 6 pemenang lelang wilayah kerja dengan total komitmen investasi USD 141,5 juta. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. https://www.migas.esdm.go.id/post/Pemerintah-Umumkan-6-Pemenang-Lelang-Wilayah-Kerja-Dengan-Total-Komitmen-Investasi-USD-141-5-Juta

Liu, X., Liu, Z., Wang, X., Zhang, N., Qiu, N., Chang, Y., & Chen, G. (2021). Recoil control of deepwater drilling riser system based on optimal control theory. Ocean Engineering, 220, Article 108473. https://doi.org/10.1016/j.oceaneng.2020.108473

National Offshore Petroleum Safety and Environmental Management Authority. (2015). Environmental management and the offshore petroleum lifecycle [Brochure]. https://www.nopsema.gov.au/sites/default/files/documents/2021-03/Brochure-Environmental-management-and-the-offshore-petroleum-lifecycle-June-2015.pdf

Rajbhandari, I., Faggian, A., & Partridge, M. D. (2022). Oil and gas boomtowns and occupations: What types of jobs are created? Energy Economics, 115, Article 106321. https://doi.org/10.1016/j.eneco.2022.106321

Strand, G.-O., & Lundteigen, M. A. (2016). Human factors modelling in offshore drilling operations. Journal of Loss Prevention in the Process Industries, 43, 654–667. https://doi.org/10.1016/j.jlp.2016.06.013

Tysiachniouk, M., Henry, L. A., Lamers, M., & van Tatenhove, J. P. M. (2018). Oil extraction and benefit sharing in an illiberal context: The Nenets and Komi-Izhemtsi indigenous peoples in the Russian Arctic. Society & Natural Resources, 31(5), 556–579. https://doi.org/10.1080/08941920.2017.1403666

Xiang, M., Li, B., He, Y., Lin, Z., Hai, W., Wang, J., & Xue, Q. (2024). Research on simulation model of deepwater drilling and optimization method of drilling parameters based on energy. Ocean Engineering, 312, Article 119286. https://doi.org/10.1016/j.oceaneng.2024.119286.

Zhang, D., Sun, Z., Zhang, X., Liu, H., Sun, Y., Cao, H., Geng, W., Zhai, B., Dong, G., Li, A., & Luo, D. (2023). Acoustic field characteristics of seismic surveys in the shallow water environment of the Bohai Sea. Geophysical Prospecting, 71(4), 614–623. https://doi.org/10.1111/1365-2478.13341.***

Ditulis oleh : Dr. Syahidun, M.M. (Praktisi Talent Management Migas)

Komentar

Berita Terkini

WAJIB HALAL OKTOBER 2026 (WHO 2026): Menjadi Satria Halal, Menjaga Kepercayaan, Menggerakkan Ekonomi Warga

WAJIB HALAL OKTOBER 2026 (WHO 2026): Menjadi Satria Halal, Menjaga Kepercayaan, Menggerakkan Ekonomi Warga

22 menit lalu

Sengketa Lahan Milik Cristina Djodi, Keabsahan Hibah ke Pemko Tanjungpinang Jadi Sorotan

27 Tahun Natuna: Angka Pembangunan Naik, Tetapi Kesejahteraan Rakyat Jangan Jalan di Tempat

Danyon Komposit 1/Gardapati Hadiri HUT ke-27 Natuna, Dorong Sinergi dan Persatuan

Pantai Piwang Bertabur Papan Bunga, Ucapan HUT ke-27 Natuna Mengalir dari Berbagai Instansi hingga Kedubes Tiongkok

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In