No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
Selasa, 15 September 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Foto dokumentasi narasumber, buah kepayang yang berasal dari pulau Jemaja

    Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Camat Jemaja Mudahir saat Akan memasuki Lapangan Upacara

    Camat Jemaja Bacakan Sambutan Ketua Kwarnas pada HUT Pramuka ke-65

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Foto dokumentasi narasumber, buah kepayang yang berasal dari pulau Jemaja

    Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Camat Jemaja Mudahir saat Akan memasuki Lapangan Upacara

    Camat Jemaja Bacakan Sambutan Ketua Kwarnas pada HUT Pramuka ke-65

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

FOTO YANG SELAMAT DARI RUNTUHNYA MENARA

Ranai Pos by Ranai Pos
14/09/2026 5:29 PM
in Berita, Opini
0
Itu Foto saya dengan latar belakang Menara Kembar dan kota New York, Pak Rapi, 27 Agustus 2001, sebelum peristiwa 9/11.

Itu Foto saya dengan latar belakang Menara Kembar dan kota New York, Pak Rapi, 27 Agustus 2001, sebelum peristiwa 9/11.

0
SHARES
46
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ada sebuah foto saya di New York.

Saya berdiri di depan dua menara yang menjulang ke langit. Twin Towers. Waktu itu saya tidak sedang membuat sejarah. Saya hanya sedang berwisata, seperti banyak orang lain yang datang, berdiri, tersenyum, lalu meminta seseorang menekan tombol kamera.

Foto itu sederhana.

Saya di depan.

Baca Juga

Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

Wamen ATR/Waka BPN: Pelantikan Pejabat Jadi Bagian Penataan Organisasi untuk Mendukung Transformasi Layanan

Menara di belakang.

Langit di atas.

Tidak ada yang istimewa.

Sampai 11 September 2001 datang.

Hari itu saya berada di San Francisco. Seharusnya hari terakhir saya di Amerika. Saya bersiap pulang ketika televisi menampilkan sesuatu yang mula-mula seperti adegan film.

Sebuah pesawat menabrak gedung.

Lalu pesawat lain.

Api.

Asap.

Orang-orang berlari.

Dan kemudian menara itu runtuh.

Saya memandang layar televisi dan tiba-tiba teringat foto saya.

Twin Towers yang ada di belakang saya dalam foto itu tidak ada lagi.

Tetapi saya masih ada.

Aneh.

Sebuah foto yang semula hanya kenangan perjalanan mendadak menjadi arsip sejarah.

Barangkali sejarah memang seperti itu.

Ia tidak meminta izin ketika masuk ke dalam hidup seseorang.

Kita sedang berjalan-jalan, memotret, makan, bercakap-cakap, lalu tanpa kita ketahui sebuah peristiwa besar sedang menunggu beberapa meter di depan waktu.

Kita tidak tahu bahwa kita sedang memotret sesuatu untuk terakhir kalinya.

Kita tidak tahu bahwa sebuah bangunan yang kita anggap akan berdiri puluhan tahun ternyata tinggal beberapa menit.

Kita tidak tahu bahwa dunia yang kita kenal sedang mengambil napas terakhirnya.

Twin Towers bagi saya sekarang bukan sekadar bangunan.

Ia adalah sebuah tanda.

Tentang Amerika.

Tentang kapitalisme.

Tentang modernitas.

Tentang keyakinan bahwa teknologi, uang, dan kekuasaan dapat membuat manusia semakin aman.

Lalu datanglah 9/11.

Dan sebuah pertanyaan muncul:

Seberapa aman sebenarnya manusia modern?

Kita memiliki satelit yang bisa melihat bumi dari angkasa. Kita memiliki pesawat yang mampu menyeberangi samudra. Kita memiliki sistem keamanan yang semakin canggih.

Tetapi sebuah pesawat sipil bisa berubah menjadi senjata.

Di situlah kesombongan modernitas menemukan batasnya.

Bukan karena teknologi gagal.

Justru karena teknologi dapat digunakan oleh manusia untuk melakukan kejahatan.

Sesudah itu Amerika berperang.

Afghanistan.

Irak.

War on Terror.

Dunia kemudian mengenal pemeriksaan bandara yang lebih ketat, pengawasan yang lebih luas, perbatasan yang lebih curiga.

Kata terrorism menjadi kata yang mudah sekali diucapkan.

Tetapi ada bahaya ketika sebuah kata menjadi terlalu mudah.

Karena di balik kata itu ada manusia.

Ada Muslim yang dicurigai.

Ada imigran yang ditanya lebih lama.

Ada nama-nama Arab yang membuat petugas keamanan berhenti lebih lama.

Ada agama yang perlahan-lahan ditempatkan di ruang tersangka.

9/11 menghancurkan menara.

Tetapi dunia setelah 9/11 juga sempat membangun tembok-tembok baru di dalam pikiran manusia.

Saya tidak tahu apakah saya memandang Amerika dengan cara yang sama setelah itu.

Mungkin tidak.

Sebelum 9/11, Amerika bagi saya adalah sebuah negeri besar yang dapat dipelajari: demokrasi, masyarakat sipil, kebebasan, teknologi, dan kekuatan ekonomi.

Sesudahnya, Amerika juga menjadi sebuah pertanyaan.

Bagaimana negara paling kuat di dunia menghadapi ketakutannya sendiri?

Apakah kekuatan selalu membuat manusia lebih aman?

Atau justru ketakutan dapat membuat kekuatan bertindak berlebihan?

Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian mengikuti perjalanan saya.

Beberapa tahun kemudian, pada 2003, saya berada di Seoul dalam sebuah pertemuan internasional tentang Asia setelah 9/11, masyarakat sipil, demokrasi, dan pemerintahan yang baik.

Saya datang sebagai pembicara.

Dunia belum selesai membicarakan 9/11.

Dan saya pun belum selesai memikirkannya.

Mungkin karena itu saya sekarang memandang foto itu dengan cara berbeda.

Dulu saya melihat sebuah gedung.

Sekarang saya melihat sebuah zaman.

Dulu saya melihat diri saya sebagai pelancong.

Sekarang saya melihat diri saya sebagai saksi—meskipun saksi yang kebetulan.

Foto itu tidak memperlihatkan api.

Tidak ada asap.

Tidak ada orang berlari.

Tidak ada suara sirene.

Justru karena itulah ia penting.

Ia memperlihatkan dunia sebelum semuanya berubah.

Ada sesuatu yang ironis dalam sebuah foto.

Kamera membekukan waktu.

Tetapi hidup tidak.

Di dalam foto, Twin Towers tetap berdiri.

Di dalam sejarah, ia telah runtuh.

Di dalam ingatan, keduanya hidup bersamaan.

Itulah sebabnya setiap kali saya melihat foto itu, saya seperti berada di dua waktu sekaligus.

Di sana, tahun ketika saya tersenyum di depan menara.

Dan di sana pula, pagi ketika menara itu tidak lagi ada.

Saya yang sama.

Tempat yang sama.

Tetapi dunia yang berbeda.

Dua puluh lima tahun adalah waktu yang panjang.

Satu generasi.

Anak-anak yang lahir setelah 9/11 kini telah dewasa. Mereka tidak memiliki ingatan langsung tentang dunia sebelum tragedi itu.

Bagi mereka, Twin Towers mungkin hanya gambar lama.

Seperti gambar Tembok Berlin bagi sebagian generasi lain.

Seperti foto-foto perang yang kita lihat di buku sejarah.

Tetapi bagi saya, ia pernah menjadi latar belakang sebuah foto.

Itulah perbedaan antara sejarah yang kita baca dan sejarah yang pernah menyentuh tubuh kita.

Barangkali kita semua memiliki Twin Towers masing-masing.

Sesuatu yang pernah kita anggap akan selalu ada.

Rumah.

Orang tua.

Kota.

Negara.

Sebuah zaman.

Kemudian suatu hari semuanya berubah.

Kita baru memahami arti sesuatu setelah ia hilang.

Ayah baru terasa begitu besar ketika rumah tiba-tiba menjadi lebih sunyi.

Kota baru terasa akrab ketika kita meninggalkannya.

Masa lalu baru terasa berharga ketika masa depan tidak lagi memberi kesempatan untuk mengulangnya.

Begitu pula Twin Towers.

Ia baru benar-benar menjadi kenangan setelah ia tidak ada.

Tetapi saya tidak ingin mengenang 9/11 hanya sebagai hari ketika dua gedung runtuh.

Terlalu kecil jika sejarah sebesar itu hanya dibaca sebagai tragedi sebuah kota.

9/11 adalah pertanyaan tentang manusia.

Tentang mengapa kebencian dapat tumbuh.

Tentang bagaimana agama dapat disalahgunakan.

Tentang bagaimana kekuasaan merespons kekerasan.

Tentang batas antara keamanan dan kebebasan.

Tentang bagaimana rasa takut dapat berubah menjadi kebijakan negara.

Dan tentang sesuatu yang sering kita lupakan:

bahwa korban tidak pernah hanya angka.

Saya kembali kepada foto itu.

Saya masih berdiri di sana.

Twin Towers masih berdiri.

Tidak ada tanda bahwa beberapa waktu kemudian dunia akan menyaksikan kehancurannya.

Mungkin itulah yang paling menyentuh dari sebuah foto lama.

Ia tidak tahu masa depan.

Dan manusia pun tidak.

Kita hidup seolah-olah besok akan selalu menyerupai hari ini.

Padahal sejarah dapat mengubah semuanya dalam satu pagi.

Kini, ketika saya melihat foto itu, saya tidak lagi bertanya:

Kapan foto itu diambil?

Saya bertanya:

Dunia macam apa yang sedang saya tempati ketika foto itu dibuat?

Dan kemudian pertanyaan lain:

Dunia macam apa yang kita bangun setelah Twin Towers runtuh?

Saya tidak punya jawaban yang tuntas.

Mungkin memang tidak ada.

Sebab 9/11 bukan hanya peristiwa yang telah selesai. Ia masih hidup dalam politik, perang, migrasi, agama, keamanan, dan ingatan kita.

Ia hidup dalam cara kita memandang “yang lain”.

Ia hidup dalam cara negara menjaga dirinya.

Ia hidup dalam cara manusia takut.

Dan mungkin, yang paling berbahaya, ia hidup ketika ketakutan membuat kita lupa bahwa manusia yang berbeda dari kita tetap manusia.

Foto itu masih ada.

Menara itu tidak.

Saya masih dapat melihat senyum saya di sana.

Dan saya membayangkan dua menara itu seperti sedang mengatakan sesuatu:

Kami pernah berdiri.

Mungkin itu saja.

Sebab semua yang dibangun manusia pada akhirnya akan berhadapan dengan waktu.

Gedung bisa runtuh.

Negara bisa berubah.

Kekuasaan bisa berganti.

Ideologi bisa mati.

Tetapi pertanyaan tentang manusia akan tetap tinggal.

Saya pernah berdiri di depan Twin Towers.

Kemudian saya menyaksikan, dari jauh, keduanya runtuh.

Seperempat abad kemudian, saya kembali melihat foto itu.

Dan saya mengerti:

yang selamat dari 9/11 bukan hanya sebuah foto.

Yang selamat adalah pertanyaan.

Tentang manusia.

Tentang kekuasaan.

Tentang ketakutan.

Tentang kebebasan.

Dan tentang apakah, setelah sebuah tragedi sebesar itu, kita sungguh-sungguh belajar menjadi lebih manusiawi.

Komentar

Berita Terkini

Kabut Asap Menyelimuti Bintan, Bupati Roby Instruksikan Sekolah Belajar dari Rumah Selama Tiga Hari

Kabut Asap Menyelimuti Bintan, Bupati Roby Instruksikan Sekolah Belajar dari Rumah Selama Tiga Hari

2 jam lalu

Fiskal Bintan Tertekan, Bupati Roby Dorong APBD 2027 Lebih Produktif dan Tepat Sasaran

FOTO YANG SELAMAT DARI RUNTUHNYA MENARA

Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

Wamen ATR/Waka BPN: Pelantikan Pejabat Jadi Bagian Penataan Organisasi untuk Mendukung Transformasi Layanan

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In