Ada sesuatu yang menarik dari kata deep state. Ia terdengar seperti judul film thriller: lorong-lorong gelap kekuasaan, percakapan rahasia di ruang tanpa jendela, orang-orang yang tidak pernah dipilih rakyat tetapi mampu menentukan arah negara.
Ketika Presiden Prabowo Subianto menyebut istilah itu, sebagian orang langsung mengangguk. Sebagian lagi tersenyum sinis. Yang lain bertanya: benarkah ada negara di dalam negara?
Pertanyaan itu sebenarnya sudah sangat tua.
Jauh sebelum istilah deep state menjadi populer di media sosial, manusia selalu mencurigai bahwa kekuasaan tidak pernah benar-benar berada di tempat yang terlihat. Raja tampak berkuasa, tetapi ada penasihat. Presiden tampak menentukan, tetapi ada birokrasi. Menteri tampak memutuskan, tetapi ada jaringan kepentingan yang lebih panjang dari umur jabatan.
Niccolò Machiavelli pernah menulis tentang para pangeran. Tetapi sejarah kemudian menunjukkan bahwa para pangeran sering kali hanya aktor utama dalam panggung yang naskahnya ditulis oleh orang lain.
Mungkin itulah sebabnya istilah deep state begitu mudah diterima. Ia memberi penjelasan sederhana terhadap kenyataan yang rumit.
Mengapa kebijakan berubah? Mengapa reformasi berjalan lambat? Mengapa pergantian pemimpin tidak selalu menghasilkan perubahan yang dijanjikan?
Jawabannya menjadi mudah: karena ada deep state.
Tetapi kemudahan sering kali menyimpan jebakan.
Sebab begitu sebuah istilah menjadi terlalu elastis, ia dapat menjelaskan apa saja—dan karena itu sebenarnya tidak menjelaskan apa-apa.
Di Turki, istilah deep state pernah dipakai untuk menggambarkan jaringan militer, intelijen, dan kelompok nasionalis yang bekerja di luar mekanisme demokrasi. Di Amerika Serikat, istilah itu berubah menjadi senjata politik. Ketika seorang presiden gagal menjalankan agendanya, ia menyalahkan deep state. Ketika lawan politiknya berkuasa, istilah yang sama digunakan kembali.
Kata itu bergerak seperti bayangan.
Sulit ditangkap, tetapi selalu ada.
Dalam ilmu politik, negara bukan hanya presiden.
Negara adalah birokrasi, lembaga keamanan, pengadilan, kementerian, regulasi, prosedur, dan kebiasaan yang dibangun selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Seorang presiden bisa berganti dalam lima tahun.
Tetapi sebuah sistem bisa bertahan lima puluh tahun.
Di sinilah sering muncul ketegangan.
Pemimpin datang membawa perubahan. Sistem menawarkan stabilitas.
Pemimpin ingin berlari. Sistem meminta berjalan.
Pemimpin ingin revolusi. Sistem mengajukan formulir.
Kadang-kadang perlawanan itu bukan konspirasi. Ia hanya kelembaman.
Max Weber menyebutnya birokrasi modern. Sebuah mesin raksasa yang bekerja berdasarkan aturan. Mesin itu membuat negara tetap hidup ketika pemimpin berganti. Tetapi mesin yang sama juga sering membuat perubahan berjalan lambat.
Di mata seorang reformis, itu tampak seperti sabotase.
Di mata birokrat, itu disebut prosedur.
Mungkin yang lebih menarik bukanlah apakah deep state benar-benar ada.
Yang lebih penting adalah mengapa masyarakat mudah mempercayainya.
Barangkali karena demokrasi sering menjanjikan lebih banyak daripada yang bisa diberikannya.
Kita diajarkan bahwa pemilu menentukan arah bangsa. Tetapi setelah pemilu selesai, rakyat menemukan bahwa banyak hal ternyata tidak berubah.
Harga beras tetap naik.
Korupsi tetap muncul.
Pelayanan publik tetap lamban.
Janji kampanye tetap menjadi janji.
Lalu lahirlah kebutuhan akan penjelasan.
Dan manusia selalu menyukai penjelasan yang memiliki tokoh antagonis.
Dalam cerita rakyat, ada raksasa.
Dalam politik modern, ada oligarki.
Dalam era media sosial, ada deep state.
Semua memberi rasa nyaman yang sama: keyakinan bahwa ada seseorang yang dapat disalahkan.
Namun sejarah mengajarkan sesuatu yang lain.
Sering kali masalah negara tidak berasal dari kelompok rahasia yang sangat kuat.
Masalah justru muncul karena tidak ada yang benar-benar berkuasa.
Kepentingan terlalu banyak.
Lembaga saling tarik-menarik.
Elite saling mengunci.
Birokrasi bergerak dengan kecepatannya sendiri.
Yang terjadi bukan konspirasi besar, melainkan kekacauan yang terorganisasi.
Tetapi kekacauan tidak menarik.
Konspirasi selalu lebih memikat.
Karena itu ia lebih mudah dipercaya.
Ketika Presiden Prabowo berbicara tentang deep state, yang mungkin sedang ia tunjuk bukan semata-mata organisasi rahasia. Bisa jadi yang ia maksud adalah jaringan kepentingan yang telah lama mengakar, kebiasaan lama yang sulit diubah, atau kelompok-kelompok yang merasa memiliki negara lebih daripada rakyat yang memilih pemimpinnya.
Dan memang, dalam setiap negara, kelompok semacam itu selalu ada.
Mereka tidak selalu bersembunyi.
Kadang-kadang mereka tampil di televisi.
Kadang-kadang mereka duduk di ruang rapat.
Kadang-kadang mereka menulis regulasi.
Kadang-kadang mereka mendanai kampanye.
Mereka tidak berada di bawah tanah.
Mereka berada tepat di depan mata.
Pada akhirnya, deep state mungkin bukan nama sebuah organisasi.
Ia adalah nama bagi kecurigaan manusia terhadap kekuasaan.
Sebuah kecurigaan yang lahir dari kesadaran bahwa apa yang tampak sering kali bukan seluruh kenyataan.
Dan mungkin demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang bebas dari kecurigaan.
Melainkan demokrasi yang mampu memeriksa kecurigaan itu dengan akal sehat.
Sebab di antara paranoia dan kepolosan, selalu ada jalan tengah yang sulit.
Jalan untuk bertanya tanpa menuduh.
Jalan untuk curiga tanpa kehilangan nalar.
Jalan untuk mengawasi kekuasaan tanpa harus percaya bahwa seluruh dunia digerakkan oleh tangan-tangan gaib.
Karena pada akhirnya, negara memang memiliki bayangan.
Tetapi tidak semua bayangan adalah hantu.***





Komentar