Ada sebuah foto lama yang selalu terasa ganjil.
Di dalamnya, para pendiri bangsa duduk mengelilingi meja. Mereka berdebat. Mereka berbeda. Sebagian datang dari dunia Islam, sebagian dari nasionalisme sekuler, sebagian lagi dari sosialisme dan tradisi kebangsaan yang beragam. Tetapi anehnya, mereka tidak sibuk mencari musuh. Mereka sibuk mencari titik temu.
Barangkali itulah momen paling langka dalam sejarah Indonesia: ketika orang-orang yang berbeda tidak sedang berusaha menang.
Pada 1 Juni, kita kembali menyebut nama yang sama: Pancasila.
Tetapi setiap tahun saya bertanya-tanya, apakah yang kita rayakan sesungguhnya?
Sebuah tanggal?
Sebuah pidato?
Atau sebuah kemampuan yang perlahan hilang dari diri kita: kemampuan untuk hidup bersama orang yang tidak sama?
Di zaman ini, perbedaan tidak lagi datang perlahan seperti angin laut yang membawa aroma asing dari pulau seberang. Perbedaan datang dalam hitungan detik melalui layar telepon genggam. Kita melihat wajah yang berbeda, pilihan politik yang berbeda, keyakinan yang berbeda, bahkan cara berdoa yang berbeda.
Dan anehnya, semakin dekat kita terhubung, semakin mudah kita saling membenci.
Media sosial menjadikan kemarahan lebih cepat daripada kebijaksanaan. Kebohongan berlari lebih jauh daripada kebenaran. Sementara penghinaan sering memperoleh panggung yang lebih luas daripada gagasan.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Pancasila sering berubah menjadi slogan yang ditempel di baliho, dicetak di spanduk, atau diucapkan dalam upacara.
Padahal ia lahir bukan dari kebisingan.
Ia lahir dari kesediaan mendengar.
Kita sering mengira Pancasila adalah jawaban. Mungkin sebenarnya ia adalah pertanyaan.
Apakah kita masih sanggup menghargai manusia sebelum melihat agamanya?
Apakah kita masih mampu mencintai Indonesia tanpa harus membenci kelompok lain?
Apakah kita masih percaya bahwa keadilan sosial bukan sekadar kalimat penutup dalam pidato pejabat?
Sebab bangsa tidak runtuh hanya karena serangan dari luar. Ia bisa lapuk dari dalam ketika warganya kehilangan rasa percaya satu sama lain.
Di sebuah negeri kepulauan seperti Indonesia, persatuan sesungguhnya adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai. Laut memisahkan kita. Bahasa membedakan kita. Sejarah membentuk pengalaman yang tidak selalu sama.
Namun justru karena itulah Pancasila menjadi penting.
Ia tidak pernah meminta kita menjadi seragam.
Ia hanya meminta kita tetap menjadi Indonesia.
Tema Hari Lahir Pancasila tahun ini berbicara tentang persatuan bangsa dan perdamaian dunia. Kalimat itu terdengar besar, hampir terlalu besar. Tetapi perdamaian dunia sesungguhnya tidak dimulai di ruang sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia dimulai dari cara seseorang memperlakukan tetangganya.
Dari kemampuan menahan diri untuk tidak menghina.
Dari keberanian mengakui bahwa orang lain mungkin memiliki sebagian kebenaran yang tidak kita miliki.
Dari kesediaan berbagi ruang hidup.
Mungkin itulah yang paling sulit hari ini.
Kita hidup dalam zaman yang memuja kemenangan, bukan pengertian.
Padahal para pendiri bangsa dahulu tidak mewariskan kemenangan kepada kita. Mereka mewariskan kesepakatan.
Sebuah kesepakatan yang bernama Indonesia.
Maka pada setiap 1 Juni, yang perlu diperingati bukan hanya lahirnya Pancasila.
Yang perlu diperingati adalah kesadaran bahwa negeri ini berdiri karena orang-orang yang berbeda memilih untuk tidak saling meniadakan.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin gaduh, itulah bentuk keberanian yang paling langka.***





Komentar