No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
Jumat, 29 Mei 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

    Bupati Anambas Aneng di dampingi sekretaris Daerah Sahtiar,SH.MM dan Katua TP-PKK Kabupaten Anambas ny. Sinta Aneng saat resmikan puskesmas Tarempa

    Resmikan Gedung Puskesmas Tarempa, Bupati Aneng Ingatkan Tenaga Kesehatan Utamakan Pelayanan

    Ketua Komisi II DPRD Anambas Ayub saat di ruang kerja ( F: Istimewa)

    Ketua Komisi II DPRD Anambas akan Panggil Pihak terkait, Tanggapi Keluhan Nelayan di Pelabuhan Letung

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

    Bupati Anambas Aneng di dampingi sekretaris Daerah Sahtiar,SH.MM dan Katua TP-PKK Kabupaten Anambas ny. Sinta Aneng saat resmikan puskesmas Tarempa

    Resmikan Gedung Puskesmas Tarempa, Bupati Aneng Ingatkan Tenaga Kesehatan Utamakan Pelayanan

    Ketua Komisi II DPRD Anambas Ayub saat di ruang kerja ( F: Istimewa)

    Ketua Komisi II DPRD Anambas akan Panggil Pihak terkait, Tanggapi Keluhan Nelayan di Pelabuhan Letung

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

Ironi Natuna: Penghasil Gas Terbesar, Pembeli Gas Termahal

Oleh: Dr. H. Amirudin, MPA

rapi by rapi
29/05/2026 12:53 PM
in Berita, Opini
0
Photo ; rapi_redaksi_ranaipos.com

Photo ; rapi_redaksi_ranaipos.com

0
SHARES
41
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Di republik ini, mungkin tidak banyak daerah yang mengalami ironi sekuat Natuna. Di bawah lautnya tersimpan kekayaan migas bernilai puluhan triliun rupiah per tahun. Gas bumi dan minyak mengalir dari perairannya untuk menopang energi nasional, bahkan sebagian diekspor ke luar negeri. Namun di dapur-dapur rumah masyarakat Natuna, harga gas elpiji justru terasa paling mahal.

Paradoks itu sesungguhnya terlalu telanjang untuk disembunyikan.
Berdasarkan estimasi produksi migas beberapa tahun terakhir, produksi gas Natuna berada pada kisaran 500–550 MMSCFD (million standard cubic feet per day). Dengan asumsi harga gas internasional sekitar US$8 per MMBTU dan kurs Rp16.000 per dolar AS, nilai ekonomi gas Natuna diperkirakan mencapai sekitar Rp23–25 triliun per tahun. Jika harga gas meningkat, nilainya bahkan dapat menembus lebih dari Rp30 triliun per tahun.

Angka itu belum termasuk produksi minyak bumi dan kondensat. Dalam beberapa tahun terakhir, produksi minyak Natuna diperkirakan berada pada kisaran 20–25 ribu barel per hari dan berpotensi meningkat hingga 40 ribu barel per hari setelah pengembangan lapangan baru seperti Forel dan Terubuk.

Dengan asumsi harga minyak dunia sekitar US$75 per barel, nilai ekonomi minyak Natuna diperkirakan mencapai Rp10–17 triliun per tahun. Jika harga minyak naik lebih tinggi, nilainya dapat mendekati Rp20 triliun per tahun.
Artinya, secara keseluruhan, nilai ekonomi migas Natuna berpotensi mencapai sekitar Rp30–58 triliun per tahun.

Baca Juga

Kanwil Ditjen Imigrasi Kepri Perkuat Sinergi Dengan iCA Singapura

Polsek Jemaja Gelar Jumat Curhat Kamtibmas di Kelurahan Letung, Warga Diajak Jaga Kondusivitas

Angka sebesar itu tentu bukan angka kecil. Ia setara beberapa kali APBD Provinsi Kepulauan Riau. Bahkan mendekati anggaran tahunan sejumlah kementerian besar di Jakarta.

Namun pertanyaannya sederhana: sejauh mana rakyat Natuna menikmati nilai ekonomi raksasa itu?

Pertanyaan tersebut penting karena realitas yang dirasakan masyarakat justru berbeda. Harga LPG di Natuna tetap tinggi. Kuota subsidi terbatas. Biaya logistik mahal. Harga kebutuhan pokok ikut terdorong naik. Dalam kehidupan sehari-hari, rakyat tidak merasakan dirinya tinggal di daerah yang menopang energi nasional bernilai puluhan triliun rupiah.

Inilah yang dalam literatur pembangunan disebut sebagai resource paradox: daerah kaya sumber daya tetapi masyarakatnya belum menikmati kesejahteraan secara proporsional.
Kita tentu tidak boleh melihat persoalan ini semata sebagai soal angka ekonomi.

Ada persoalan moral dan keadilan yang lebih besar di baliknya. Sebab masyarakat Natuna bukan hanya masyarakat biasa. Mereka adalah warga yang hidup di wilayah terdepan Indonesia, menjaga perbatasan, sekaligus menjadi bagian dari sistem energi nasional.

Sayangnya, selama ini pembangunan Natuna lebih banyak dipandang dari perspektif geopolitik dan pertahanan. Negara sibuk membicarakan kapal asing, laut strategis, dan kedaulatan maritim. Tetapi sering lupa bahwa perbatasan juga dihuni manusia yang membutuhkan kesejahteraan dan rasa keadilan.

Padahal nasionalisme tidak hanya dijaga dengan kapal perang dan radar militer. Nasionalisme juga dijaga oleh rasa bahwa negara hadir secara adil dalam kehidupan rakyatnya.

Karena itu, sudah saatnya pemerintah memikirkan kebijakan afirmatif bagi wilayah perbatasan penghasil energi seperti Natuna. Bentuknya dapat berupa LPG satu harga, subsidi logistik energi kepulauan, tambahan Dana Bagi Hasil yang lebih proporsional, pembangunan depo energi, hingga hilirisasi industri migas di daerah.

Natuna tidak meminta kemewahan. Masyarakat hanya berharap memperoleh perlakuan yang masuk akal: daerah yang menopang energi nasional semestinya tidak menjadi tempat rakyat membeli energi dengan harga paling mahal.

Pasal 33 UUD 1945 secara jelas menyatakan bahwa kekayaan alam dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Persoalannya, ketika rakyat di daerah penghasil masih kesulitan memperoleh energi murah, maka pertanyaan yang muncul bukan lagi soal produksi migas, melainkan soal keadilan negara.

Dan bangsa yang besar pada akhirnya tidak diukur dari seberapa besar sumber daya yang dimilikinya, tetapi dari seberapa adil negara membagikan manfaat sumber daya itu kepada rakyat yang hidup di tanah penghasilnya.***

Komentar

Berita Terkini

Kanwil Ditjen Imigrasi Kepri Perkuat Sinergi Dengan iCA Singapura

Kanwil Ditjen Imigrasi Kepri Perkuat Sinergi Dengan iCA Singapura

13 menit lalu

Kabupaten Karimun Melaju Pesat, Ekonomi Tumbuh 7,8%

Bupati Karimun Komit Tingkatkan Layanan Publik Lewat MPP

Polsek Jemaja Gelar Jumat Curhat Kamtibmas di Kelurahan Letung, Warga Diajak Jaga Kondusivitas

Ironi Natuna: Penghasil Gas Terbesar, Pembeli Gas Termahal

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In