Natuna _ ranaipos.com : Kepala Sekolah SDN 013 Ranai, Yulia Tri Andriani, S.Pd., menegaskan komitmen sekolah dalam memperkenalkan dan melestarikan budaya lokal Natuna kepada peserta didik melalui pembelajaran dan kegiatan pendukung di lingkungan sekolah.
Dilansir dari koranperbatasan.com, Yulia Tri Andriani menjelaskan bahwa pengenalan budaya Natuna di SDN 013 Ranai tetap dilakukan meski sekolah belum memiliki kegiatan ekstrakurikuler khusus kesenian. Untuk kebutuhan tertentu seperti perlombaan, pihak sekolah mendatangkan pengajar dari luar.
“Kalau untuk budaya Natunanya sendiri, seperti tari Melayu, memang kami akui tidak ada ekskul kesenian. Tapi kalau ada kegiatan pertandingan, otomatis kami mengambil pengajar dari luar,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (3/2).
Ia menyebutkan bahwa unsur budaya lokal juga telah dimasukkan ke dalam pembelajaran. Salah satunya melalui pengenalan makanan khas Natuna yang tercantum dalam kurikulum sekolah.
“Untuk makanan khas Natuna itu ada di pembelajaran, seperti tabel mando, kernas, itu dikenalkan kepada anak-anak,” katanya.
Dalam keseharian, siswa SDN 013 Ranai juga menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi, meskipun penggunaan Bahasa Natuna masih terbatas.
“Bahasa yang kita pakai Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu. Jadi anak-anak komunikasinya jarang Bahasa Natuna,” ungkap Yulia.
Terkait sarana pendukung, Yulia mengungkapkan bahwa sekolah sebenarnya telah mendapatkan bantuan alat musik tradisional dari dinas terkait, seperti rebana dan gong. Namun, keterbatasan sumber daya manusia menjadi tantangan utama.
“Alat musik tradisional seperti rebana dan gong itu sudah ada. Kendala kami justru mencari pengajarnya. Itu yang sulit,” jelasnya.
Beberapa tarian Melayu yang pernah dikenalkan kepada siswa di antaranya Tari Serampang Dua Belas dan Tari Gurindam, serta tarian Melayu lainnya yang umum ditampilkan dalam kegiatan kebudayaan.
Yulia berharap peserta didik terus semangat belajar dan tidak mudah putus asa dalam mengembangkan potensi diri, baik di sekolah maupun di luar lingkungan sekolah.
“Harapan saya anak-anak terus belajar dan tidak mudah putus asa. Walaupun yang didapat di sekolah belum seberapa, di luar tetap mau mempelajarinya lagi,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas bantuan alat musik tradisional yang telah diberikan. Namun, ia berharap dukungan tersebut dapat dilengkapi dengan penyediaan pelatih seni tradisional.
“Kalau bisa, alat-alat tradisional itu diberikan sekaligus dengan pelatihnya. Karena sekarang ini sangat susah mencari pelatih alat musik tradisional seperti gong, gambus, dan alat Melayu lainnya,” tutup Yulia. (Rid).





Komentar