No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
Kamis, 18 Juni 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

    Bupati Anambas Aneng di dampingi sekretaris Daerah Sahtiar,SH.MM dan Katua TP-PKK Kabupaten Anambas ny. Sinta Aneng saat resmikan puskesmas Tarempa

    Resmikan Gedung Puskesmas Tarempa, Bupati Aneng Ingatkan Tenaga Kesehatan Utamakan Pelayanan

    Ketua Komisi II DPRD Anambas Ayub saat di ruang kerja ( F: Istimewa)

    Ketua Komisi II DPRD Anambas akan Panggil Pihak terkait, Tanggapi Keluhan Nelayan di Pelabuhan Letung

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

    Kejari Anambas Hentikan Penuntutan Kasus Pengeroyokan Lewat Restorative Justice

    Bupati Anambas Aneng di dampingi sekretaris Daerah Sahtiar,SH.MM dan Katua TP-PKK Kabupaten Anambas ny. Sinta Aneng saat resmikan puskesmas Tarempa

    Resmikan Gedung Puskesmas Tarempa, Bupati Aneng Ingatkan Tenaga Kesehatan Utamakan Pelayanan

    Ketua Komisi II DPRD Anambas Ayub saat di ruang kerja ( F: Istimewa)

    Ketua Komisi II DPRD Anambas akan Panggil Pihak terkait, Tanggapi Keluhan Nelayan di Pelabuhan Letung

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

Politik Kecurigaan dan Krisis Kepercayaan Publik

Oleh: Dr. H. Amirudin, MPA

rapi by rapi
13/12/2025 11:28 AM
in Opini
0
Dr. H. Amirudin, MPA (Pengamat Sosial dan Pemerhati Perbatasan)

Dr. H. Amirudin, MPA (Pengamat Sosial dan Pemerhati Perbatasan)

0
SHARES
62
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Isu dugaan ijazah palsu Presiden Joko Widodo yang berulang kali muncul di ruang publik sesungguhnya telah selesai secara administratif, akademik, dan hukum. Universitas, lembaga forensik, hingga aparat penegak hukum telah memberikan klarifikasi. Namun, polemik itu tak juga padam. Di sinilah persoalannya berubah: bukan lagi soal ijazah, melainkan soal politik kecurigaan.

Kita sedang menyaksikan pergeseran penting dalam kehidupan publik Indonesia: fakta tidak otomatis melahirkan kepercayaan. Bahkan, dalam banyak kasus, fakta justru dicurigai sebagai bagian dari manipulasi. Fenomena ini menandai krisis yang lebih dalam—krisis epistemik dan krisis kepercayaan sosial.

Kecurigaan sebagai Bentuk Kekuasaan

Michel Foucault pernah mengingatkan bahwa pengetahuan dan kekuasaan tidak pernah netral. Dalam masyarakat modern, kebenaran diproduksi melalui institusi—kampus, negara, hukum. Namun, ketika institusi itu dianggap bersekongkol dengan kekuasaan politik, maka seluruh pengetahuan yang dihasilkannya ikut dicurigai.

Baca Juga

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Menjadi Program Mahal yang Salah Sasaran

Saat Dunia Gonjang-Ganjing, Indonesia Menginjak Gas dan Rem Sekaligus

Dalam konteks Indonesia, pengalaman panjang otoritarianisme Orde Baru meninggalkan warisan ketidakpercayaan struktural. Negara pernah memanipulasi data, sejarah, dan informasi. Trauma ini belum sepenuhnya pulih. Maka, ketika negara atau universitas menyampaikan klarifikasi, sebagian publik tidak melihatnya sebagai otoritas kebenaran, melainkan sebagai power discourse yang patut dilawan.

Modal Simbolik dan Delegitimasi

Pierre Bourdieu membantu kita memahami bahwa ijazah bukan sekadar dokumen administratif, melainkan modal simbolik—penanda legitimasi, kompetensi, dan kelayakan memimpin. Ketika legitimasi politik dipersoalkan, maka simbol-simbolnya pun diserang.

Dalam kasus Jokowi, ijazah menjadi pintu masuk untuk mendelegitimasi keseluruhan figur: dari asal-usul sosial, gaya kepemimpinan, hingga kebijakan. Serangan terhadap ijazah bukan bertujuan mencari kebenaran akademik, melainkan meruntuhkan otoritas simbolik seorang pemimpin yang sejak awal tidak lahir dari elite tradisional.

Dari Skeptisisme ke Sinisme

Zygmunt Bauman menyebut masyarakat kontemporer sebagai liquid society—masyarakat cair yang ditandai oleh rapuhnya kepastian. Dalam kondisi ini, skeptisisme yang sehat mudah berubah menjadi sinisme total. Semua institusi dicurigai, semua penjelasan dianggap manipulatif.

Indonesia hari ini memperlihatkan gejala itu. Media sosial mempercepatnya. Algoritma lebih menyukai emosi dibanding verifikasi. Kecurigaan menjadi konten, sinisme menjadi identitas, dan prasangka menjadi komoditas politik.

Akibatnya, klarifikasi akademik kalah oleh video pendek; hasil forensik kalah oleh narasi konspirasi. Bukan karena bukti kurang kuat, tetapi karena kepercayaan sudah terlanjur runtuh.

Komunitas Imajinatif Kecurigaan

Benedict Anderson menjelaskan bangsa sebagai imagined community—komunitas yang dibangun lewat narasi bersama. Dalam konteks hari ini, kita melihat lahirnya komunitas imajiner alternatif: komunitas kecurigaan. Mereka disatukan bukan oleh data, melainkan oleh keyakinan bahwa “ada kebenaran yang disembunyikan”.

Komunitas ini lintas kelas, lintas pendidikan, dan lintas wilayah. Mereka menemukan solidaritas emosional dalam rasa curiga bersama. Fakta yang berlawanan bukan dianggap koreksi, melainkan ancaman.

Bahaya bagi Demokrasi

Politik kecurigaan boleh jadi efektif sebagai alat mobilisasi jangka pendek. Namun ia berbahaya bagi demokrasi. Demokrasi membutuhkan kepercayaan minimal: pada prosedur, pada institusi, dan pada fakta bersama. Tanpa itu, ruang publik berubah menjadi arena saling meniadakan.

Jika universitas tidak dipercaya, hukum dicurigai, dan fakta dipersempit menjadi opini, maka yang runtuh bukan hanya reputasi individu, melainkan fondasi deliberasi demokratis itu sendiri.

Polemik ijazah Jokowi adalah cermin zaman. Ia menunjukkan bahwa krisis terbesar kita bukan krisis dokumen, melainkan krisis kepercayaan. Tantangan Indonesia ke depan bukan sekadar membuktikan kebenaran, tetapi memulihkan keyakinan bahwa kebenaran masih mungkin dipercaya.

Jika tidak, kita akan hidup dalam politik kecurigaan yang tak pernah selesai—di mana fakta selalu kalah oleh prasangka, dan demokrasi berjalan tanpa pijakan bersama.***

Komentar

Berita Terkini

Empat Rampung, Tiga Masih Dikebut: Kodam XIX Cek Progres Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tanjungpinang-Bintan

Empat Rampung, Tiga Masih Dikebut: Kodam XIX Cek Progres Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tanjungpinang-Bintan

9 jam lalu

Cegah Banjir Berulang, Pemkab Natuna Fokus Benahi Sungai dan Drainase di Sungai Ulu dan Limau Manis

PT TIMAH Pasang AC Surau Baitussalam Kundur, Jemaah Lebih Nyaman Ibadah

Kurang 24 Jam, Polisi Kundur Tangkap 2 Pelaku Pencurian AC dan Kabel

Danlanud RSA Natuna Pimpin Upacara Bendera, Pangkoopsudnas Tekankan Karakter Prajurit AMPUH

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In