No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
Sabtu, 19 September 2026
Ranai Pos
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Foto dokumentasi narasumber, buah kepayang yang berasal dari pulau Jemaja

    Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Camat Jemaja Mudahir saat Akan memasuki Lapangan Upacara

    Camat Jemaja Bacakan Sambutan Ketua Kwarnas pada HUT Pramuka ke-65

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
    Foto dokumentasi narasumber, buah kepayang yang berasal dari pulau Jemaja

    Pengawasan Pengeluaran Buah Kepayang di Jemaja Disorot, Polhut Diminta Periksa Dokumen

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Effendi Pastikan Kebakaran TPS Tarempa Padam Total, Tim terus Bekerja

    Camat Jemaja Mudahir saat Akan memasuki Lapangan Upacara

    Camat Jemaja Bacakan Sambutan Ketua Kwarnas pada HUT Pramuka ke-65

  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan
No Result
View All Result
Ranai Pos
No Result
View All Result

Politik Kecurigaan dan Krisis Kepercayaan Publik

Oleh: Dr. H. Amirudin, MPA

rapi by rapi
13/12/2025 11:28 AM
in Opini
0
Dr. H. Amirudin, MPA (Pengamat Sosial dan Pemerhati Perbatasan)

Dr. H. Amirudin, MPA (Pengamat Sosial dan Pemerhati Perbatasan)

0
SHARES
64
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Isu dugaan ijazah palsu Presiden Joko Widodo yang berulang kali muncul di ruang publik sesungguhnya telah selesai secara administratif, akademik, dan hukum. Universitas, lembaga forensik, hingga aparat penegak hukum telah memberikan klarifikasi. Namun, polemik itu tak juga padam. Di sinilah persoalannya berubah: bukan lagi soal ijazah, melainkan soal politik kecurigaan.

Kita sedang menyaksikan pergeseran penting dalam kehidupan publik Indonesia: fakta tidak otomatis melahirkan kepercayaan. Bahkan, dalam banyak kasus, fakta justru dicurigai sebagai bagian dari manipulasi. Fenomena ini menandai krisis yang lebih dalam—krisis epistemik dan krisis kepercayaan sosial.

Kecurigaan sebagai Bentuk Kekuasaan

Michel Foucault pernah mengingatkan bahwa pengetahuan dan kekuasaan tidak pernah netral. Dalam masyarakat modern, kebenaran diproduksi melalui institusi—kampus, negara, hukum. Namun, ketika institusi itu dianggap bersekongkol dengan kekuasaan politik, maka seluruh pengetahuan yang dihasilkannya ikut dicurigai.

Baca Juga

Setelah STAI Natuna Beralih Bentuk Menjadi IAI Natuna

Dilema Tambang Ilegal

Dalam konteks Indonesia, pengalaman panjang otoritarianisme Orde Baru meninggalkan warisan ketidakpercayaan struktural. Negara pernah memanipulasi data, sejarah, dan informasi. Trauma ini belum sepenuhnya pulih. Maka, ketika negara atau universitas menyampaikan klarifikasi, sebagian publik tidak melihatnya sebagai otoritas kebenaran, melainkan sebagai power discourse yang patut dilawan.

Modal Simbolik dan Delegitimasi

Pierre Bourdieu membantu kita memahami bahwa ijazah bukan sekadar dokumen administratif, melainkan modal simbolik—penanda legitimasi, kompetensi, dan kelayakan memimpin. Ketika legitimasi politik dipersoalkan, maka simbol-simbolnya pun diserang.

Dalam kasus Jokowi, ijazah menjadi pintu masuk untuk mendelegitimasi keseluruhan figur: dari asal-usul sosial, gaya kepemimpinan, hingga kebijakan. Serangan terhadap ijazah bukan bertujuan mencari kebenaran akademik, melainkan meruntuhkan otoritas simbolik seorang pemimpin yang sejak awal tidak lahir dari elite tradisional.

Dari Skeptisisme ke Sinisme

Zygmunt Bauman menyebut masyarakat kontemporer sebagai liquid society—masyarakat cair yang ditandai oleh rapuhnya kepastian. Dalam kondisi ini, skeptisisme yang sehat mudah berubah menjadi sinisme total. Semua institusi dicurigai, semua penjelasan dianggap manipulatif.

Indonesia hari ini memperlihatkan gejala itu. Media sosial mempercepatnya. Algoritma lebih menyukai emosi dibanding verifikasi. Kecurigaan menjadi konten, sinisme menjadi identitas, dan prasangka menjadi komoditas politik.

Akibatnya, klarifikasi akademik kalah oleh video pendek; hasil forensik kalah oleh narasi konspirasi. Bukan karena bukti kurang kuat, tetapi karena kepercayaan sudah terlanjur runtuh.

Komunitas Imajinatif Kecurigaan

Benedict Anderson menjelaskan bangsa sebagai imagined community—komunitas yang dibangun lewat narasi bersama. Dalam konteks hari ini, kita melihat lahirnya komunitas imajiner alternatif: komunitas kecurigaan. Mereka disatukan bukan oleh data, melainkan oleh keyakinan bahwa “ada kebenaran yang disembunyikan”.

Komunitas ini lintas kelas, lintas pendidikan, dan lintas wilayah. Mereka menemukan solidaritas emosional dalam rasa curiga bersama. Fakta yang berlawanan bukan dianggap koreksi, melainkan ancaman.

Bahaya bagi Demokrasi

Politik kecurigaan boleh jadi efektif sebagai alat mobilisasi jangka pendek. Namun ia berbahaya bagi demokrasi. Demokrasi membutuhkan kepercayaan minimal: pada prosedur, pada institusi, dan pada fakta bersama. Tanpa itu, ruang publik berubah menjadi arena saling meniadakan.

Jika universitas tidak dipercaya, hukum dicurigai, dan fakta dipersempit menjadi opini, maka yang runtuh bukan hanya reputasi individu, melainkan fondasi deliberasi demokratis itu sendiri.

Polemik ijazah Jokowi adalah cermin zaman. Ia menunjukkan bahwa krisis terbesar kita bukan krisis dokumen, melainkan krisis kepercayaan. Tantangan Indonesia ke depan bukan sekadar membuktikan kebenaran, tetapi memulihkan keyakinan bahwa kebenaran masih mungkin dipercaya.

Jika tidak, kita akan hidup dalam politik kecurigaan yang tak pernah selesai—di mana fakta selalu kalah oleh prasangka, dan demokrasi berjalan tanpa pijakan bersama.***

Komentar

Berita Terkini

Negara Sibuk Memberi Makan Anak, Tapi Lupa Mendidik

Setelah STAI Natuna Beralih Bentuk Menjadi IAI Natuna

4 jam lalu

Modal Dasar BPR Tuah Karimun Naik Jadi Rp20 Miliar, Siapkan Ruang Fleksibilitas Permodalan

Dilema Tambang Ilegal

PT TIMAH Restocking 1.000 Bibit Kepiting Bakau di Perairan Kundur

Terima Barang Rampasan Negara dari KPK, Sekjen ATR/BPN: Untuk Mendukung Layanan kepada Masyarakat

Ranai Pos

Follow Us

  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • Galeri Foto
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Natuna
  • Tanjungpinang
  • Batam
  • Bintan
  • Karimun
  • Anambas
  • Lingga
  • Seputar Kepri
  • Wisata
  • Opini
  • ADVETORIAL
  • Galeri Foto
  • Iklan

Copyright © 2018 Ranai Pos. All Rights Reserved. Designed by Universal Webstudio

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In