Natuna (ranaipos.com) – Di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, masyarakat Melayu Natuna masih menyimpan satu tradisi yang sarat makna dan nilai spiritual, yakni tradisi haul, peringatan tahunan atas wafatnya seseorang yang dipenuhi dengan doa, kebersamaan, dan nilai gotong royong.

Tradisi ini telah menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Islam di Nusantara, termasuk di pulau-pulau Natuna. Dalam masyarakat Melayu tempatan, haul bukan sekadar seremoni mengenang orang yang telah berpulang, tetapi juga momentum mempererat tali silaturahmi antarkerabat dan sesama warga.
“Masyarakat Natuna, terutama di wilayah Bunguran Besar, hingga saat ini masih ada yang melaksanakan tradisi haul. Namun, sebagian lainnya mulai meninggalkannya karena muncul pemahaman baru atau merasa tidak perlu lagi dilaksanakan,” ujar Said Muhammad Rahimin, S.Ag. MM salah satu tokoh masyaarat Jemengan, Kelurahan Kota Ranai yang juga dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Nstuna.
Menurutnya, tradisi haul telah dilaksanakan secara turun-temurun. Rangkaian doa dan kenduri biasanya dimulai sejak hari pertama wafatnya seseorang hingga mencapai satu tahun (saat haul).
“Kenduri atau tradisi mengirimkan doa itu bukan hanya saat haul saja. Ada yang dilakukan pada malam pertama, hari ketiga yang dikenal dengan makan tige, hari ketujuh (makan tujuh), kemudian hari ke-40, hari ke-100, dan puncaknya satu tahun setelah wafat,” tambah Said Rahimin.
Pelaksanaan haul di Natuna juga memiliki keunikan tersendiri. Hidangan yang disajikan bukan sekadar santapan, tetapi simbol nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap tradisi. Di atas dulang, wadah besar khas Melayu tersusun berbagai makanan seperti telur rebus, gulai ikan, dan pisang goreng. Semua disajikan sesuai tata aturan adat dan dinikmati secara lesehan bersama-sama.
“Telur disajikan berdekatan dengan gulai dan pisang, urutannya pun ada. Pertama telur, kemudian gulai, lalu pisang,” tutur Bu Damnah, tokoh masyarakat Sejuba, Desa Sepempang, saat berbincang dalam program Obrolan Budaya di Pro 1 RRI Ranai.
Lebih dari sekadar acara adat, haul bagi masyarakat Melayu Natuna adalah simbol keikhlasan dan kebersamaan. Doa yang dipanjatkan menjadi jembatan batin antara yang hidup dan yang telah berpulang.
“Nilai yang paling penting dalam haul ini adalah mempererat silaturahmi dan mengirim doa dengan ikhlas,” ujar Bu Damnah menutup perbincangan.
Tradisi yang sederhana namun penuh makna ini menjadi cermin bahwa di tengah dinamika zaman, masyarakat Natuna tetap menjaga akar budaya dan nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang mereka.***
Narasi : Muhammad Rapi
Editor : rapi





Komentar