Tanggal itu datang lagi: 20 Mei. Di kalender nasional ia ditulis dengan huruf resmi: Hari Kebangkitan Nasional. Upacara digelar. Pidato diperdengarkan. Kata “bangkit” diulang-ulang seperti mantra yang tak boleh dipertanyakan. Tetapi justru di situlah pertanyaan perlu dimulai: bangkit oleh siapa? dan untuk apa?
Sejarah menunjuk tahun 1908. Organisasi bernama Budi Utomo didirikan oleh kaum terpelajar bumiputra. Mereka muda, berpendidikan Barat, dan percaya bahwa kemajuan bisa dicapai lewat ilmu pengetahuan. Di ruang-ruang sekolah kolonial, benih nasionalisme mulai tumbuh. Tapi nasionalisme pada masa itu bukanlah sesuatu yang langsung lahir utuh. Ia belum suara petani di sawah. Belum jerit buruh di pelabuhan. Bahkan belum tentu suara rakyat kebanyakan.
Kebangkitan, mula-mula, adalah kesadaran segelintir orang bahwa mereka hidup sebagai bangsa yang direndahkan.
Dan mungkin memang semua perubahan besar selalu dimulai oleh minoritas yang gelisah.
Namun sejarah sering kejam: ia menyederhanakan yang rumit. Maka Hari Kebangkitan Nasional kemudian dikenang seperti sebuah garis lurus—rapi, heroik, dan tanpa retak. Padahal bangsa ini dibangun bukan hanya oleh kaum terdidik, melainkan juga oleh orang-orang yang tak pernah masuk buku sejarah. Nelayan yang dipaksa menyerahkan hasil lautnya. Kuli kontrak yang punggungnya patah di perkebunan. Guru desa yang mengajar tanpa gaji layak. Bahkan ibu-ibu yang menjual gelangnya agar anaknya tetap sekolah.
Mereka juga bangkit, meski tak pernah disebut dalam pidato kenegaraan.
Kini, lebih seabad setelah 1908, pertanyaan itu datang lagi dengan wajah berbeda. Bangkit untuk apa?
Untuk pertumbuhan ekonomi? Mungkin. Untuk pembangunan? Tentu. Tetapi pembangunan sering hanya menghadirkan gedung-gedung tinggi yang membuat manusia makin kecil. Kita membangun kota, tetapi kehilangan ruang bicara. Kita membangun jalan, tetapi lupa ke mana arah perjalanan.
Di negeri yang kaya sumber daya ini, ironi sering terasa telanjang. Gas melimpah di Natuna, tetapi masyarakat perbatasannya masih bertanya tentang kesejahteraan. Laut luas terbentang, tetapi nelayan kecil tersingkir oleh kapal-kapal besar. Pendidikan dipuji sebagai jalan kebangkitan, namun guru di daerah terpencil tetap akrab dengan keterbatasan.
Barangkali kita telah bangkit sebagai statistik, tetapi belum sebagai manusia.
Kebangkitan nasional seharusnya bukan sekadar kemampuan negara menaikkan angka-angka pertumbuhan. Ia mestinya berarti keberanian membangun martabat. Sebab bangsa tidak diukur hanya dari kuatnya militer atau tingginya investasi, melainkan dari cara ia memperlakukan rakyat kecilnya.
Di situlah mungkin makna “bangkit” perlu dikembalikan: bukan sekadar berdiri, tetapi sadar. Sadar bahwa kemerdekaan bukan hadiah yang selesai pada 1945. Ia pekerjaan yang tak pernah benar-benar usai.
Maka setiap 20 Mei, kita sebenarnya tidak sedang mengenang masa lalu. Kita sedang bercermin.
Dan cermin itu diam-diam bertanya: setelah sekian lama merdeka, siapa sebenarnya yang sudah bangkit? Dan siapa yang masih tertinggal di bawah meja sejarah?
***





Komentar