Jakarta, ranaipos.com : Dunia energi digemparkan oleh penemuan ladang gas raksasa di perairan Aceh oleh SKK Migas bersama Mubadala Energy, perusahaan energi global asal Abu Dhabi. Penemuan ini berasal dari sumur eksplorasi laut dalam Tangkulo-1, yang berada di Blok South Andaman, sekitar 65 km lepas pantai utara Pulau Sumatra.
Sumur Tangkulo-1 dibor hingga kedalaman 3.400 meter di bawah laut dengan kedalaman air 1.200 meter. Hasilnya sangat menjanjikan: sumur ini mampu mengalirkan 47 juta kaki kubik gas per hari (mmscf/d) dan 1.300 barel kondensat. Meski pengujian dilakukan terbatas, potensi maksimal sumur diperkirakan mencapai 80–100 mmscf/d dan lebih dari 2.000 barel kondensat per hari. Hal ini disampaikan dalam pers rilisnya kepada redaksi ranaipos.com, Minggu (25/05/25).
Penemuan ini menyusul keberhasilan pengeboran sumur Layaran-1 yang juga berada di Blok South Andaman. CEO Mubadala Energy, Mansoor Mohammed Al Hamed, menyebut penemuan ini sebagai “game-changer” bagi peta energi Indonesia dan Asia Tenggara. Ia menegaskan bahwa Blok South Andaman kini menjadi salah satu wilayah eksplorasi energi paling prospektif di dunia.
Tak hanya itu, pada akhir 2023 lalu, pemerintah juga mengumumkan penemuan cadangan migas jumbo sebanyak 4,68 miliar barel di kawasan yang berdekatan. Jumlah ini bahkan disebut melampaui cadangan beberapa negara adidaya seperti Arab Saudi dan Amerika Serikat.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyambut baik temuan ini dan menegaskan bahwa kedaulatan bangsa sangat tergantung pada kemampuan untuk mandiri dalam bidang energi dan pangan.
“Kedaulatan suatu bangsa dijamin oleh kemampuannya memenuhi kebutuhan pangan dan energi sendiri,” tegas Presiden Prabowo.
Dalam upaya mendukung kemandirian energi, Presiden juga meresmikan produksi perdana Lapangan Forel dan Terubuk di Natuna yang menyumbang tambahan 20 ribu barel minyak dan 60 juta kaki kubik gas per hari. Proyek ini dikerjakan sepenuhnya oleh tenaga kerja dalam negeri.
“Inilah tonggak penting menuju swasembada energi nasional. Jika kita terus tergantung impor, kita kehilangan hingga 40 miliar dolar AS setiap tahun. Dana itu seharusnya bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat,” jelas Presiden.
Dengan temuan dan kebijakan terbaru ini, Indonesia berada di jalur yang kuat menuju kemandirian energi dan penguatan kedaulatan nasional.*(Rp)





Komentar