Natuna _ ranaipos.com : Senja Ramadhan perlahan turun di Ranai. Langit yang mulai meredup seakan membawa ketenangan bagi sejumlah anggota Lembaga Spiritual Masyarakat Indonesia (RASI) Kabupaten Natuna yang berkumpul di Pos Induk RASI, Sabtu, (14/03).
Di tempat sederhana itu, mereka menanti waktu berbuka puasa dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan.
Bagi mereka, Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Bulan suci ini adalah waktu untuk kembali mendekat kepada Sang Pencipta, menata hati, serta memperkuat kesadaran bahwa segala sesuatu di dunia ini hanyalah titipan.
Kegiatan buka puasa bersama yang digelar RASI Natuna menjadi salah satu momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat perjalanan spiritual para anggotanya.
Pengayom Inti (Yomti) RASI Kabupaten Natuna, Syaifullah, dalam kesempatan tersebut mengingatkan pentingnya kesadaran diri sebagai hamba Allah SWT.
Menurutnya, manusia pada hakikatnya tidak memiliki kemampuan, kekuatan, maupun kekuasaan, karena semuanya merupakan milik Allah.
“Manusia tidak punya kemampuan, kekuatan dan kekuasaan, semuanya milik Allah. Kesadaran milik Allah inilah yang harus kita sadari, sehingga menghapuskan sisi pengakuan rasa makhluk dalam diri kita,” ungkapnya.
syaifullah menjelaskan, perjalanan spiritual yang dijalani para anggota RASI tidak terlepas dari upaya untuk terus belajar mengolah rasa, membersihkan hati, serta menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.
“Inilah yang setiap hari, setiap malam kita lakukan, belajar mengolah rasa dan berserah diri hanya kepada Allah SWT,” jelasnya.
Menjelang waktu berbuka, suasana semakin hening. Doa-doa lirih dipanjatkan, seolah menjadi pengingat bahwa manusia hanyalah makhluk yang selalu membutuhkan pertolongan dan rahmat dari Sang Pencipta.
Setelah adzan Maghrib berkumandang, kebersamaan pun terasa semakin hangat. Para anggota berbuka puasa bersama dengan penuh rasa syukur dan dilanjutkan dengan sholat Maghrib berjamaah.
Bagi RASI Natuna, kegiatan seperti ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bagian dari perjalanan spiritual untuk menjaga hati tetap bersih dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan dunia, mereka berupaya menjaga ruang-ruang ketenangan agar manusia tidak lupa pada hakikat dirinya sebagai hamba yang selalu berserah kepada-Nya.
Ramadhan pun menjadi pengingat bahwa dalam setiap langkah kehidupan, manusia sejatinya hanya berjalan menuju satu tujuan: kembali kepada Allah dengan hati yang tenang dan penuh keikhlasan. (Rid).





Komentar