Natuna _ ranaipos.com : Sebanyak 179 mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna menerima pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Angkatan XXII dan KKN Tematik Angkatan IX yang digelar selama dua hari di Kampus STAI Natuna, Jum’at (21/11/25). Kegiatan tahun ini mengusung tema “Berkarya dan Berdampak untuk Semua” sebagai komitmen kampus dalam menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Ketua Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) STAI Natuna, Hasmiza, M.Pd., dalam laporannya menyampaikan bahwa peserta KKN berjumlah 179 mahasiswa. Rinciannya, KKN Kelas Khusus sebanyak 87 peserta dari Prodi Ekonomi Syariah, terdiri dari 35 laki-laki dan 52 perempuan. Sementara KKN reguler berjumlah 92 peserta dari lima program studi yaitu Ekonomi Syariah, KPI, HI, Piaud, dan PAI, terdiri dari 28 laki-laki dan 64 perempuan.

Adapun lokasi penempatan KKN tersebar di beberapa wilayah, di antaranya :
1. Kecamatan Bunguran Barat (Binjai dan Segeram).
2. Kecamatan Seluan (Desa Seluan dan Seluan Barat).
3. Kecamatan Bunguran Utara (Teluk Buton).
4.vKecamatan Bunguran Timur Laut (Sebadai Hulu)
5. Kecamatan Pulau Tiga Barat (Desa Setumuk dan Selading).
6.Kecamatan Bunguran Batubi (Semedang dan Tanjung Sebauk).
Pelaksanaan KKN reguler dijadwalkan berlangsung selama dua bulan mulai awal Desember 2025. Sementara KKN Tematik kelas khusus terpusat di lokasi pembangunan Institut STAI Natuna. 
Dalam sambutannya Ketua STAI Natuna, Dr. H. Umar Natuna, S.Ag., M.Pd.I, menegaskan bahwa pelaksanaan KKN bukan sekadar rutinitas akademik, tetapi sebuah perjalanan pembentukan karakter dan integritas mahasiswa sebagai calon intelektual muslim yang kelak terjun ke masyarakat.
“Mahasiswa STAI Natuna harus hadir sebagai solusi, bukan sekadar pendamping musiman. Masyarakat di lokasi KKN menunggu kehadiran kalian untuk membawa manfaat nyata, bukan hanya simbolik,” ujarnya.
Umar menekankan bahwa pengabdian tidak boleh lahir dari kepura-puraan, melainkan dari ketulusan niat dan kejujuran dalam bekerja. Ia mengingatkan bahwa pengabdian adalah bagian dari ibadah dan akan menjadi pengalaman berharga yang kelak dikenang sepanjang hayat.
“Datanglah dengan hati yang bersih, bekerja dengan data, berbicara dengan solusi, dan pulanglah dengan jejak karya yang bisa dibuktikan,” pesannya di hadapan para peserta. 
Ia juga mengajak mahasiswa untuk membangun pola pikir berkelanjutan dalam melaksanakan program KKN, bukan hanya menyelesaikan kegiatan yang terputus di tahun berjalan. Karena itu, Umar meminta seluruh peserta menelaah kembali jejak program KKN tahun-tahun sebelumnya agar program yang dibangun tidak terputus, namun tumbuh menjadi gerakan perubahan yang berkesinambungan.
“KKN harus menjadi proyek yang tumbuh dari tahun ke tahun. Jika sudah ada program sebelumnya, jangan mulai dari nol. Kembangkan. Perkuat. Tuntaskan. Inilah bentuk pengabdian ilmiah yang membedakan perguruan tinggi dari kegiatan seremonial biasa,” tegasnya.
Kembali iya menegaskan bahwa pentingnya laporan kegiatan KKN berbasis data. Ia menekankan bahwa STAI sebagai lembaga pendidikan tinggi harus mengedepankan standar akademik yang jelas dan terukur.
“Kita ini perguruan tinggi, bukan majelis taklim. Saya tidak akan mengesahkan laporan jika tidak berbasis data,” tegasnya.
Ia juga kembali menyoroti optimalisasi pemanfaatan lokasi tanah wakaf dan penguatan sertifikasi halal bagi UMKM. Umar meminta mahasiswa meninjau ulang data lokasi yang pernah menjadi tempat pelaksanaan KKN sebelumnya agar program yang sudah berjalan dapat diteruskan serta dikembangkan dengan inovasi baru.
Khusus peserta KKN kelas khusus, ia kembali mengatakan bahwa seluruh kegiatan dipusatkan di area pembangunan Institut STAI Natuna sebagai wujud pengabdian langsung terhadap pengembangan kampus.
Umar juga mengingatkan seluruh peserta agar menanamkan niat tulus dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat di lokasi penempatan masing-masing.
“Tugas KKN bukan hanya memenuhi kewajiban akademik, tetapi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Umar berharap para mahasiswa menjadikan KKN sebagai momentum latihan nyata sebelum menghadapi kehidupan sesungguhnya setelah lulus.
“Kalian akan berhadapan langsung dengan dinamika masyarakat, realitas kehidupan, masalah sosial, dan tantangan pembangunan. Di situlah kematangan mental, spiritual, dan keilmuan kalian diuji. Maka, jalankan tugas ini dengan penuh tanggung jawab dan kebanggaan,” pungkasnya.*(rapi)





Komentar