ranaipos.com_Natuna : Pekerjaan pembangunan pipa transmisi Embung Sebayar yang dikerjakan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV Batam melalui Satuan Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksana Jaringan Pemanfaatan Air Sumatera IV kini telah selesai dilaksanakan.
Infrastruktur pipa transmisi tersebut berfungsi mengalirkan air baku dari Embung Sebayar menuju kawasan Bukit Berangin pada ketinggian sekitar 160 meter di atas permukaan laut, dengan kemampuan suplai air mencapai 50 liter per detik.
Keberadaan pipa transmisi ini dinilai menjadi bagian penting dalam upaya penguatan sistem penyediaan air bersih, khususnya bagi masyarakat Ranai dan wilayah sekitarnya yang selama ini masih menghadapi kendala ketersediaan air, terutama saat musim kemarau.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Nusa Natuna, Zaharuddin, menyampaikan bahwa proyek ini akan segera beroperasi setelah proses serah terima dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, kemudian dilanjutkan kepada PDAM sebagai pengelola teknis.
“Jadi nanti setelah diserahterimakan ke Pemerintah Daerah, lalu diserahkan pengelolaannya ke PDAM, maka langsung kita mulai operasionalnya,” ujar Zaharuddin, Jumat (30/01).
Meski demikian, Zaharuddin menegaskan bahwa tantangan terbesar ke depan adalah biaya operasional yang cukup tinggi. Diketahui, biaya listrik untuk pengoperasian embung mencapai Rp126 juta per bulan untuk sistem kerja penuh selama 24 jam.
“Biaya ini berdasarkan perhitungan Konsultan Pelaksana. Dengan kondisi keuangan PDAM saat ini, tentu tidak mudah untuk menanggung beban biaya operasional sebesar itu,” jelasnya.
“Namun kita akan mencari jalan keluarnya. Kami akan berdiskusi dengan Kuasa Pemilik Modal (KPM) yakni Bupati Natuna, Dewan Pengawas, serta Komisi III DPRD Natuna selaku mitra BUMD agar ditemukan solusi terbaik. Yang paling penting, kondisi ini harus kita sikapi dan pahami bersama,” tambahnya.
Sebagai langkah persiapan, PDAM Natuna telah melakukan pelatihan bagi operator yang nantinya akan bertugas mengelola sistem di Embung Sebayar.
“Harapan saya, ketika sudah beroperasi nanti, penanggung jawab pengoperasian embung haruslah tenaga ahli minimal lulusan D3 Teknik Mesin yang benar-benar menguasai kelistrikan, bukan hanya tenaga hasil pelatihan singkat,” tegas Zaharuddin.
Ia juga menjelaskan bahwa saat ini mesin pengolahan air di Embung Sebayar belum tersedia, sehingga ketika memasuki musim kemarau, embung tetap dapat dioperasikan dengan penyesuaian jadwal aliran air agar efisien dan tidak mengganggu pasokan cadangan air baku.
Penyelesaian proyek pipa transmisi Embung Sebayar menjadi bukti nyata keseriusan dan kepedulian pemerintah pusat maupun daerah dalam memperkuat layanan dasar masyarakat, khususnya penyediaan air bersih berkelanjutan di Kabupaten Natuna.
“Dengan rampungnya pipa transmisi ini, kita berharap sistem distribusi air di wilayah Ranai semakin andal dan berkelanjutan, demi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (Rid).





Komentar