Bintan – ranaipos.com : Krisis air bersih akibat kekeringan yang melanda Pulau Bintan kian serius. Ribuan warga kini menghadapi kesulitan mendapatkan air, seiring menyusutnya cadangan di waduk-waduk utama hingga ada yang dilaporkan kering total.
Merespons kondisi tersebut, Bupati Bintan, Roby Kurniawan, langsung menginstruksikan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk bergerak cepat menyalurkan bantuan air bersih secara gotong royong ke wilayah terdampak.
Langkah ini diambil dalam Rapat Koordinasi lintas sektoral yang melibatkan FKPD, OPD, hingga instansi terkait lainnya, Rabu (25/03) di Kantor Bupati Bintan.
“Mulai hari ini, langsung dibagi OPD mana bertanggung jawab di kecamatan mana. Susun skema distribusi air bersih dan perbarui data warga terdampak. Kita harus bergerak cepat dan terkoordinasi,” tegas Roby.
Kekeringan Terparah, Mendekati Kondisi 1997 dan 2015
Paparan BMKG menunjukkan bahwa kekeringan meteorologis di Pulau Bintan bukan fenomena baru. Namun, kondisi tahun 2026 disebut sebagai salah satu yang paling ekstrem dalam sejarah.
Catatan menunjukkan kekeringan pernah terjadi pada 1997, 2010, 2014, 2015, 2019, 2020, dan kini kembali terulang di 2026. Bahkan, tahun ini dinilai memiliki kemiripan dengan kekeringan hebat pada 1997 dan 2015.
Secara geografis, Bintan memang memasuki periode curah hujan rendah pada Februari hingga Maret. Namun, minimnya hujan sejak awal tahun membuat kondisi semakin memburuk, menyebabkan penurunan drastis volume air waduk hingga mengganggu pasokan air bersih masyarakat.
Puluhan Ribu KK Terdampak
Data dari BPBD Bintan mencatat sedikitnya 24.479 Kepala Keluarga (KK) terdampak krisis air bersih.
Kondisi ini terjadi hampir di seluruh kecamatan, kecuali Kecamatan Mantang dan Tambelan yang masih relatif terkendali.
Untuk mengatasi hal tersebut, distribusi air bersih akan dilakukan dengan memaksimalkan seluruh sumber daya yang tersedia, baik dari pemerintah maupun dukungan pihak swasta.
“Kita manfaatkan semua potensi yang ada, tidak hanya bergantung pada sumber PDAM. Ini langkah cepat jangka pendek yang harus segera dilakukan,” tambah Roby.
Ikhtiar Lengkap: Dari Darat, Udara hingga Doa
Selain distribusi air bersih, Pemerintah Kabupaten Bintan juga membuka opsi modifikasi cuaca sebagai upaya menghadirkan hujan buatan, jika memungkinkan secara teknis.
Tak hanya itu, langkah spiritual juga turut dilakukan. Roby menginstruksikan seluruh camat bersama masyarakat untuk melaksanakan Salat Istisqa, sebagai bentuk ikhtiar memohon turunnya hujan.
“Kita tempuh semua jalur. Darat kita salurkan air, udara kita upayakan modifikasi cuaca, dan kita lengkapi dengan doa melalui Salat Istisqa. Semoga semua ikhtiar ini diijabah dan kondisi segera kembali normal,” pungkasnya.
Dengan kolaborasi lintas sektor dan gerak cepat seluruh elemen, diharapkan krisis air bersih di Bintan dapat segera tertangani, sekaligus meminimalkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.*(helmi)





Komentar