www.ranaipos.com_ Anambas: Gerakan Melayu (Geram) Kepri Bersatu berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kepulauan Anambas menggelar kegiatan silaturahmi sekaligus edukasi budaya Melayu, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengenalkan lebih jauh warisan budaya Melayu kepada masyarakat, khususnya mengenai filosofi tanjak serta tata cara penggunaan kain samping.
Pengurus Bidang Kebudayaan Geram Kepri Bersatu sekaligus Plt. Ketua Geram Kepri Bersatu Kepulauan Anambas, Deni Jebat, hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut.
Dalam pemaparannya, Deni menjelaskan bahwa tanjak bukan sekadar penutup kepala yang digunakan dalam pakaian adat Melayu. Di balik bentuk dan cara pemakaiannya terdapat nilai sejarah, adat, identitas serta filosofi yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Melayu.
“Tanjak dalam alam Melayu bermakna tanah yang dipijak,” ujar Deni.
Dalam kegiatan itu, Deni juga memperkenalkan tujuh jenis tanjak lengkap dengan filosofi dan penggunaannya. Selain itu, peserta diperkenalkan dengan empat jenis ikatan kain samping yang kemudian dipraktikkan secara langsung.
Menurut Deni, pemahaman terhadap budaya Melayu perlu terus diberikan kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Hal tersebut penting agar warisan budaya yang ada tidak hanya digunakan sebagai pelengkap dalam kegiatan tertentu, tetapi benar-benar dipahami makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.
“Kita jangan hanya memakai tanjak karena terlihat bagus. Kita juga harus memahami makna, sejarah, adat dan identitas Melayu di baliknya,” katanya.
Ia mengatakan, pelestarian budaya tidak dapat dilakukan hanya dengan menjaga benda atau simbol budaya, tetapi juga harus dibarengi dengan upaya memberikan pemahaman kepada generasi penerus.
Karena itu, Deni mengapresiasi dukungan Disparbud Kabupaten Kepulauan Anambas terhadap kegiatan tersebut. Ia berharap kolaborasi serupa dapat terus dilakukan melalui berbagai kegiatan edukasi dan pengenalan budaya Melayu.
Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu kunci agar budaya Melayu tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pada kesempatan yang sama, Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Anambas, Hani Muzwati, S.Pd., M.M., menyambut baik kunjungan serta kegiatan edukasi yang dilakukan Geram Kepri Bersatu.
Hani juga memberikan apresiasi kepada kalangan muda yang masih memiliki kepedulian terhadap budaya daerah dan bersedia mengambil bagian dalam upaya mengenalkan serta melestarikan warisan Melayu.
“Saya sendiri baru tahu filosofi dan penggunaan tanjak warisan. Saya berharap keberadaan Ormas Geram sebagai bentuk perpanjangan tangan pemerintah untuk mengenalkan dan menjaga budaya warisan Melayu,” ungkap Hani.
Menurutnya, keberadaan organisasi masyarakat maupun komunitas yang memiliki perhatian terhadap kebudayaan sangat membantu pemerintah daerah dalam menjalankan upaya pelestarian budaya.
Ia menilai, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat perlu terus diperkuat agar berbagai warisan budaya Melayu di Anambas dapat lebih dikenal, terutama oleh generasi muda.
“Kami tentunya merasa sangat terbantu dengan adanya organisasi seperti Geram Kepri Bersatu dan Insya Allah ke depannya kita akan buat kegiatan bersama,” tutupnya.
Sementara itu, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pengenalan tanjak dan kain samping saja. Ke depan, kolaborasi antara Geram Kepri Bersatu dan Disparbud Anambas diharapkan dapat berkembang melalui berbagai kegiatan lain yang berkaitan dengan adat, tradisi, seni dan kebudayaan Melayu.
Melalui edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan, warisan budaya Melayu di Kabupaten Kepulauan Anambas diharapkan tetap terjaga, dikenal oleh masyarakat luas dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.(Rid).





Komentar