www.ranaipos.com – Tanjungpinang : Kemarahan tokoh masyarakat Tanjungpinang-Bintan akhirnya pecah. Dipimpin Andi Cori Patahuddin, sejumlah tokoh menggelar konferensi pers terbuka di Cafe Qozy Km 8 Atas, Tanjungpinang, Jumat (19/6/2026).
Mereka datang membawa tumpukan dokumen serta rekaman video drone yang diklaim menjadi bukti aktivitas tambang pasir ilegal di wilayah Kepri. Salah satu lokasi yang jadi sorotan utama adalah kawasan Malang Rapat, Kabupaten Bintan, yang disebut terkait dugaan aktivitas tambang pasir ilegal berskala besar.
“Jangan anggap kami diam. Bukti sudah di tangan. Kami tahu di mana kalian beroperasi, kami tahu dump truck mana yang kalian pakai,” tegas Andi Cori di hadapan awak media.
Andi Cori menegaskan, pihaknya tidak menolak aktivitas pertambangan secara keseluruhan. Pasir darat tetap dibutuhkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur di Kepri. Yang dipersoalkan adalah operasi ilegal berskala industri yang menggunakan alat berat dan dump truck bertonase tinggi tanpa izin resmi.
“Kalau legal, silakan. Bayar pajak, reklamasi, ada kontribusi untuk daerah. Ini ilegal. Keruk tanah negara, jual miliaran, tapi negara tidak dapat apa-apa. Jalan hancur, jembatan retak, mangrove mati. Yang kaya siapa? Yang miskin siapa?” serunya.
Ia menyinggung proyek pemerintah di kawasan Balai Meranti yang menggunakan pasir laut berizin. “Artinya negara bisa fasilitasi yang legal. Lalu kenapa tambang darat ilegal dibiarkan? Ada apa ini? Ada yang lindungi?” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, para tokoh juga menyinggung nama mantan anggota DPD RI berinisial F yang disebut-sebut membekingi aktivitas tambang pasir ilegal di wilayah kepri. Meski tidak menjelaskan lebih jauh terkait peran pihak dimaksud, Andi Cori menegaskan pihaknya sudah mengantongi informasi dari lapangan.
“Dari keterangan warga dan pekerja, ada nama besar yang menjamin keamanan mereka. Pantesan aman bertahun-tahun. Tapi ingat, tidak ada yang kebal hukum di republik ini,” tegasnya.
Fakta di lapangan lebih mengerikan. Dump truck Fuso pengangkut pasir melintas tanpa jeda dari subuh sampai petang. Rutenya melewati zona sekolah hingga kawasan wisata di wilayah Bintan.
“Sudah banyak laporan. Anak sekolah hampir celaka. Wisatawan trauma. Kalau ada korban jiwa, siapa yang tanggung jawab? Sopir? Kuli? Bosnya sembunyi di mana?” tanya salah satu tokoh dengan nada emosi.
Para tokoh mengecam praktik penegakan hukum yang dinilai tebang pilih. “Rakyat kecil jual pasir sekarung ditangkap. Pengusaha ilegal keruk satu bukit pakai ekskavator, aman. Ini penghinaan terhadap keadilan. DPR jangan tutup mata. Tugas kalian mengawasi, bukan jadi penonton,” tegasnya.
Kerugian negara jadi sorotan. Andi Cori menyebut retribusi pasir legal di Lingga hanya Rp23.000 per kubik.
“Yang ilegal ini sudah bertahun-tahun. Kalikan sendiri berapa triliun uang negara yang hilang. Sementara Jembatan Kawat Dompak yang dibangun pakai pajak rakyat sekarang mau ambruk dilindas truk mereka, ” jelasnya.
Para tokoh memastikan sudah investigasi langsung ke sejumlah lokasi dan menerima berbagai laporan masyarakat dari wilayah Bintan, termasuk Malang Rapat. Andi Cori menegaskan UMKM dan tambang rakyat berizin tidak akan diganggu.
“Yang kami sikat itu sindikat. Yang pakai alat berat, yang punya beking, yang merusak jalan umum seenaknya demi keuntungan pribadi,” kata Andi Cori.
Di akhir konferensi pers, Andi Cori mengucap sumpah atas nama masyarakat Kepri.
“Jika besok dump truck ilegal kalian masih melintas di jalan negara, kami tidak akan diam. Kami seret paksa bos-bos kalian ke penjara. Dokumen lengkap. Video drone tidak bisa bohong. Ini bukan gertak sambal,” tutupnya.





Komentar