Natuna _ ranaipos.com : Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna bekerja sama dengan Kolej Universiti Islam Johor Sultan Ibrahim (KUIJSI), Malaysia, menggelar seminar bertema “Dinamika Khazanah Alam Pemikiran Melayu”, sebagai upaya menghidupkan kembali tradisi intelektual Melayu di kawasan perbatasan. 
Seminar yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Islam, Tamaddun Melayu dan Geopark STAI Natuna ini menghadirkan akademisi dan tokoh dari Indonesia dan Malaysia. Diskusi mencakup spektrum luas, mulai dari persuratan Melayu, sejarah Johor–Riau, hingga posisi strategis Natuna dalam peta tamaddun Melayu kontemporer.
Kepala Pusat Kajian Islam, Tamaddun Melayu dan Geopark STAI Natuna, Dr. H. Amirudin, MPA menegaskan bahwa upaya menghidupkan kembali khazanah pemikiran Melayu bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan kebutuhan strategis dalam menghadapi tantangan zaman, Kamis (02/04/2026) pagi di Museum Ranai, Kabupaten Natuna. 
“Kita tidak sedang melihat masa lalu sebagai romantisme, tetapi sebagai sumber energi intelektual. Alam Melayu memiliki tradisi berpikir yang kuat—dan itu harus dihadirkan kembali sebagai jawaban atas krisis identitas di era global,” ujarnya.
Ia juga menekankan posisi Natuna yang selama ini kerap dipandang sebagai wilayah pinggiran, padahal memiliki makna strategis dalam sejarah dan kebudayaan Melayu.
“Natuna bukan pinggiran. Natuna adalah beranda. Dari beranda inilah kita justru bisa melihat dunia dengan lebih jernih, sekaligus menegaskan siapa kita sebagai bagian dari tamaddun Melayu,” katanya. 
Dalam forum tersebut, Dr. Syaiful Bahri bin Md Razi mengulas peran Johor–Riau sebagai pusat persuratan Melayu yang pernah menjadi episentrum intelektual di kawasan Asia Tenggara.
Sementara itu, Dr. Mahdi bin Shuid mengajak peserta untuk melakukan “penziarahan semula” terhadap sejarah Johor–Riau sebagai ruang geopolitik dan kultural yang dinamis.
Ketua STAI Natuna, Dr. Umar, menyoroti keterkaitan historis Johor dan Natuna sebagai fondasi penting dalam membangun kembali tamaddun Melayu.
“Jika Johor adalah simpul sejarah, maka Natuna adalah ruang masa depan. Pertautan keduanya bukan sekadar nostalgia, tetapi peluang untuk membangun peradaban baru yang berakar kuat pada nilai-nilai Melayu dan Islam,” ujarnya.
Sementara itu, tokoh adat Natuna, Wan Suhardi, mengangkat kembali peran Datok Orang Kaya sebagai simbol kepemimpinan lokal yang berakar pada tradisi dan kearifan masyarakat pesisir.
Seminar ini juga menyoroti Natuna sebagai sumber inspirasi dalam persuratan Melayu, yang selama ini dinilai belum banyak tereksplorasi dalam kajian akademik.
Antusiasme peserta yang terdiri dari akademisi, mahasiswa, dan tokoh masyarakat menunjukkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pelestarian khazanah intelektual Melayu. Diskusi berlangsung dinamis, mempertemukan perspektif sejarah, sastra, dan geopolitik dalam satu ruang dialog.
Kerja sama antara STAI Natuna dan KUIJSI dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat jejaring akademik lintas negara serumpun. Kolaborasi ini diharapkan mampu melahirkan riset bersama dan publikasi ilmiah yang memperkaya studi Melayu di tingkat regional maupun global.
Melalui kegiatan ini, STAI Natuna menegaskan komitmennya untuk menjadikan wilayah perbatasan bukan sekadar objek pembangunan, tetapi subjek peradaban.
“Perbatasan tidak boleh lagi dipahami sebagai garis akhir, melainkan sebagai titik awal untuk membangun peradaban yang berakar dan berdaulat,” demikian penegasan dalam forum tersebut.*(rp)





Komentar